Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Baik-baik saja


__ADS_3

Putri melangkah gontai keluar dari lift dan masih terngiang-ngiang di telinganya mengenai perkataan dari sosok pria paruh baya yang merupakan ayah kandungnya. Bahkan sampai ia tidak menyadari jika pandangan kosong membuatnya hampir saja menabrak kaca di lobi perusahaan karena salah keluar ketika pikirannya kosong.


"Nyonya, awas kaca!" seru seorang pria yang baru saja melangkah masuk ke dalam lobi rumah sakit dan awalnya memicingkan mata begitu melihat sosok wanita berjalan dengan tatapan kosong menuju ke arah kaca, bukan merupakan pintu.


Putri seketika tersadar ketika merasakan sentuhan pada lengannya yang ditahan oleh pria tidak dikenal karena ingin melindunginya. "Aaah ... Terima kasih. Tadi saya sedang memikirkan sesuatu hingga tidak menyadarinya."


Putri membungkukkan badannya beberapa kali untuk mengucapkan terima kasih tak terhingga karena ada orang baik yang menganggapnya layaknya seorang wanita normal.


Bukan seorang wanita yang selalu disebut murahan oleh mantan mertuanya. Juga disebut sebagai anak haram yang tidak diharapkan, sehingga berusaha untuk menenangkan perasaannya yang kacau balau saat ini, sampai hampir menabrak kaca.


"Jangan melamun di tempat umum, Nyonya karena ada banyak orang jahat di dunia ini yang mungkin bisa saja memanfaatkan Anda," ucapnya sambil mengamati.


Kemudian ia berlalu pergi meskipun merasa iba ketika melihat wajah dari sosok wanita dengan paras cantik yang mengenakan gaun panjang mewah dan tidak cocok berada di area rumah sakit yang notabene penuh dengan kesedihan.

__ADS_1


Sementara itu, Putri yang tadi hanya bisa tersenyum simpul untuk menyembunyikan perasaan sebenarnya yang bergejolak serta hancur, kini kembali melangkahkan kaki jenjangnya keluar karena ingin memesan taksi.


Namun, saat ia mengedarkan pandangan untuk mencari tempat sambil menunggu taksi datang, pandangannya berhenti pada sosok pria yang tengah berdiri memunggunginya.


'Arya? Kenapa dia ada di sini?' gumam Putri yang ingin berjalan mendekati mantan suaminya tersebut untuk bertanya apa yang dilakukan di area luar.


Saat ia hendak membuka suara untuk memanggil pria dengan bahu lebar yang mengenakan pakaian formal itu, seketika tidak jadi melakukannya karena melihat Arya melangkah menuju ke jalan raya.


Ia akhirnya berjalan membuntuti di belakang Arya ketika keluar area rumah sakit. Namun, tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh karena tidak ingin ketahuan.


Begitu melihat Arya berhenti di pinggir jalan raya sambil melihat ke kiri dan ke kanan, ia berpikir jika mantan suaminya tersebut hendak menyeberang. Refleks ia menepuk jidat karena menyadari kebodohannya saat membuntuti pria yang sudah tidak ada hubungan apapun dengannya.


'Lebih baik aku pulang daripada lakukan hal yang tidak jelas seperti ini. Pasti Xander sudah menungguku pulang." Ia ingin memastikan apakah putranya masih menunggu atau sudah tidur karena jam menunjukkan pukul 11 malam.

__ADS_1


Kemudian membuka tas cincin miliknya dan meraih ponsel yang ada di dalam karena ingin menghubungi putranya. Namun, saat ia baru saja mengambil benda pipih tersebut, indra pendengaran menangkap suara dentuman hebat dari dua mobil.


Bahkan degup jantungnya tidak beraturan seperti mau melompat dari tempatnya karena merasa sangat terkejut dan ia melihat ke arah sumber suara untuk mencari penyebab kecelakaan.


Hingga saat sekaligus melihat keberadaan pria yang tadi berdiri tak jauh dari hadapannya, mengerutkan kening karena Arya tidak ada.


"Arya?"


Mempunyai firasat yang buruk, ia seketika berlari ke arah mobil yang kini malang melintang di jalan raya dan membuat area sekitar rumah sakit macet. Bahkan beberapa kali menggelengkan kepala karena tidak ingin membenarkan sesuatu yang terlintas di pikiran.


"Arya!" Putri berteriak untuk mencari keberadaan Arya yang dipikirkannya mengalami kecelakaan. "Arya, kamu baik-baik saja, kan?"


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2