Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Makhluk astral


__ADS_3

Amira Tan menggeliat begitu diturunkan di atas ranjang yang merupakan milik pria itu dan menjadi tempat beristirahat tadi. "Tidak perlu membuktikan apa-apa. Aku sudah memutuskan tidur di sofa. Kenapa kau menggendongku ke sini?"


Saat berniat turun dari atas ranjang karena melihat Noah bersiap untuk naik ke atas tempat tidur, tetapi tidak bisa melakukan itu karena tangan sudah ditarik oleh pria yang semakin membuat Amira Tan kebingungan.


"Kali ini, aku yang akan menolakmu ketika kamu macam-macam. Jadi, tenang saja karena tidak akan terpancing. Jangan beralasan lagi. Ini kulakukan atas dasar kemanusiaan. Bukankah kamu merasa iba saat melihatku tidur di sofa? Aku pun merasakan hal yang sama."


Amira Tan yang kini sudah duduk di tepi ranjang, tersenyum miris karena perkataan Noah seperti menjelaskan bahwa di depan pria itu, tak lebih dari wanita liar.


Apalagi sudah dua kali yang mencium pria itu terlebih dahulu. 'Kenapa aku sial sekali setiap bersama pria ini karena menunjukkan sikap liar ketika patah hati?'


Belum selesai beragumen sendiri di dalam hati, yang terjadi saat ini adalah tubuh Amira Tan terhempas ke ranjang karena ditarik oleh pria dengan ekspresi terbahak tersebut.


Tentu saja merasa sangat kesal saat ditertawakan. "Kau membuatku terkejut. Apa kau mau mati? Aku tidak akan melepaskanmu!"


Setelah mengatakan kalimat ambigu, Amira Tan sudah membenarkan posisi dengan kembali duduk karena ingin mengarahkan pukulan pada sosok pria yang saat ini ada di hadapan.


Benar saja, Amira Tan pun sudah beberapa kali mengempaskan tangan pada lengan kekar pria yang seolah tidak menolak sama sekali atas pukulan yang dilakukan.


"Dasar pria menyebalkan! Kau selalu membuatku terlihat sangat buruk! Kau harus dihukum!" sarkas Amira Tan yang masih tidak berhenti untuk meluapkan kekesalan pada Noah.


Sementara itu, Noah sengaja diam karena ingin melihat seperti apa hukuman dari seorang Amira Tan yang sangat arogan. "Hanya seperti ini kekuatanmu? Lemah sekali!"


"Ini sama sekali tidak terasa sakit. Bagaimana kamu menghukumku?" Noah masih terlihat sangat santai.


Seolah tidak merasakan apapun ketika Amira Tan memukul. Namun, begitu wanita itu membuka mulut, selalu kalah.

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan memukulmu dengan kayu. Tadi aku melihat pemukul cukup besar di ruang depan. Sepertinya memang itu sengaja digunakan untuk menghukum seseorang yang melakukan kesalahan." Ungkapan kemurkaan Amira Tan ditunjukkan dengan cara memanfaatkan apa yang dilihat mata.


Kebetulan sekali tadi saat pertama masuk ke dalam rumah, pandangan tertuju pada kayu berukuran selengan dan bercanda pada Noah.


Namun, tidak jadi turun dari ranjang saat bulu kuduk meremang seketika mendengar kalimat Noah.


"Astaga! Jangan memakai itu karena ada bekas darah jika disalahgunakan. Itu dulu adalah tongkat untuk digunakan memukul penjahat dan pernah ada yang mati gara-gara dipukul itu, sehingga sampai sekarang tidak ada yang berani menyentuh dan meninggalkan di sini seperti barang berharga."


Noah kini meraih kunci di kantung celana. Kemudian mengulurkan kunci pada Amira Tan. "Kalau penasaran, coba saja, tapi aku tidak bertanggungjawab jika hantu itu jatuh cinta padamu karena laki-laki dan mati saat mencuri di rumah ini."


Dengan tersenyum smirk, kini Noah memilih untuk menonton pertunjukan. Apakah Amira Tan akan tetap pergi mengambil itu atau memilih untuk diam di atas ranjang?


Menunggu, hanya itu yang bisa dilakukan olehnya saat ini dan melihat pengacara hebat mengambil keputusan.


Tidak ingin dianggap sebagai seorang pengecut, kini Amira Tan tetap menerima kunci dari tangan Noah. Tadi memang sempat melihat pria itu mengunci pintu dan memasukkan ke dalam celana.


"Aku tidak akan tertipu dengan cerita palsumu itu." Beranjak turun dari tempat tidur dan membuka kunci, lalu berjalan keluar untuk mencari kayu yang dibicarakan oleh Noah.


"Apa ia pikir aku pengecut?" Saat berbicara seperti itu, jantung Amira Tan berdetak kencang melebihi batas normal karena saat di luar kamar sendirian dan mencari benda yang dianggap seperti keramat.


Jika di depan Noah, Amira Tan terlihat seperti wanita yang kuat dan berani, tapi jika sendiri hanyalah seorang wanita lemah dan menangis jika bersedih.


Sementara itu di dalam kamar, Noah memijat pelipis karena tidak bisa membuat seorang wanita arogan takut dengan hal-hal mistis.


'Wanita itu sangat luar biasa. Seolah di dunia ini tidak ada yang ditakuti. Sepertinya aku benar-benar akan dipukul oleh Amira Tan hingga babak belur,' gumam Noah yang merasa terkejut mendengar suara teriakan dari wanita yang baru saja digumamkan.

__ADS_1


Buru-buru Noah beranjak turun dari ranjang dan memeriksa. "Apakah terjadi sesuatu pada Amira Tan?"


Ia mencari keberadaan Amira Tan di ruang tamu karena merasa yakin jika ada di sana. Akan tetapi, sama sekali tidak menemukan saat lampu di sana ternyata mati.


"Amira! Di mana kamu?" Noah berjalan dengan lambat dan meraba-raba karena tidak ada pencahayaan di sekitar sana.


Beberapa saat kemudian, tubuh Noah terhuyung beberapa langkah ke belakang dan merasakan dekapan erat yang sudah bisa ditebak siapa itu.


"Amira?" Noah membalas dengan melingkarkan tangan pada pinggang ramping wanita yang tengah ketakutan tersebut.


"Aku takut. Kenapa saat aku hendak mengambil kayu itu, tiba-tiba lampu langsung mati? Apakah orang yang menjadi korban marah karena tidak mengizinkan siapa pun memegang?" Seumur-umur, baru kali ini ia merasakan ketakutan dengan hal-hal mistis.


Selama ini, ia memang percaya bahwa di dunia ini ada kehidupan lain selain di dunia nyata dan selalu berjalan beriringan meski tak kasat mata. Amira Tan yakin jika tidak mengganggu, maka akan baik-baik saja.


Namun, sekarang berubah ketakutan karena berpikir telah mengganggu makhluk astral, sehingga telah murka padanya dengan langsung membuat lampu padam ketika hendak menyentuh benda itu.


Sementara itu, Noah yang kini mengerti, ingin tertawa terbahak-bahak, tetapi sekuat tenaga menahan diri karena tidak ingin jika cerita yang sebenarnya hanyalah sebuah kebohongan itu diketahui Amira Tan dan kembali mendapatkan kemurkaan.


"Kamu memang wanita arogan yang bandel dan nakal. Bukankah tadi sudah kubilang jika hantu itu akan marah padamu? Sekarang tanggung sendiri akibatnya dan jangan menyeretku masuk ke dalam."


Noah berakting sangat baik dengan cara melepaskan tangan Amira Tan dan segera berbalik badan meninggalkan wanita yang sudah ditipu tersebut. Namun yang terjadi adalah kaos casual yang membalut tubuh ditahan oleh Amira Tan dari belakang.


Tidak ingin ditinggalkan di tempat yang menjadi sarang hantu dan membayangkan jika nanti dicekik tiba-tiba dari belakang oleh tangan dengan kuku-kuku panjang nan hitam, Amira Tan refleks menghentikan Noah, agar tidak pergi.


"Noah, jangan tinggalkan aku sendiri di sini. Aku bisa jadi santapan hantu itu. Apa kamu tidak kasihan padaku? Aku minta maaf."

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2