Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Kebahagiaan yang tak terkira


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


Aku terbangun saat pantulan cahaya matahari mengenai wajah ku. Entahlah, sejak menikah aku semakin pemalas seperti ini.


"Huwek."


Kenapa perutku serasa di kocok-kocok. Aku berhambur kearah kamar mandi.


"Huwek."


"Huwek."


Astaga kenapa akhir-akhir ini aku sering mual dan perutku serasa di kocok-kocok seperti ini? Badanku juga lemas. Biasanya aku bangun pagi sekali menyiapkan sarapan untuk suami dan anakku. Jangan-jangan aku hamil?


Badanku lemas sekal, setiap pagi aku mengalami mual-mual, persis seperti orang hamil.


"Apa mungkin aku hamil?"


"Tapi tidak mungkin, Dokter sudah memponis kalau aku tidak akan bisa punya anak." Aku keluar dari kamar mandi.


Melahirkan anak kedua yaitu, Naro. Aku menjalani operasi karena ada daging yang tumbuh di dinding rahim. Dokter mengatakan bahwa rahim ku di balik dan kemungkinan aku memiliki anak itu sangat tipis.


"Mas Dante kemana sih?" Ya suamiku itu entah kemana? Tidak mungkin dia pergi pagi-pagi sekali seperti ini. Biasanya dia selalu membangunkan ku jika aku kesiangan.


Aku duduk diranjang. Wajahku benar-benar lemas sekali. Antara kesal dan marah karena tak melihat suamiku. Sudah terbiasa diperlakukan seperti ratu oleh Mas Dante rasanya kalau tak ada dia seperti ada sesuatu yang kurang.


"Kepalaku juga sakit banget." Aku memijit-mijit pelipisku sambil bersandar di senderan ranjang.


Aku memejamkan mataku sejenak dan sial kenapa mual lagi?


"Huwek."


"Huwek."


"Huwek."


Cukup lama aku bolak-balik kamar mandi karena perut ku benar-benar terasa di kocok dan yang keluar hanya cairan berwarna kekuningan karena aku memang belum sarapan pagi.


Aku keluar dari kamar dan mencari air minum. Suasana rumah juga tampak sepi. Tidak terdengar suara Bintang yang bisanya sudah heboh dipagi hari meminta agar di pakaikan seragam sekolahnya.


"Pada kemana sih?" Keringat sudah membasahi dahiku.


Kebetulan hari ini tanggal merah jadi aku tak perlu bangun pagi untuk menyiapkan sarapan serta seragam anak-anak ku.


Aku berjalan kearah dapur untuk mencari air minum yang akan melegakan tenggorokan ku.


"Happy birthday to you. Happy birthday to you. Happy birthday. Happy birthday. Happy birthday to you."


Aku langsung berbalik dan terkejut saat melihat Mas Dante, Nara, Naro, Tata, Papa, Mama, Ayah, Ibu, Daddy, Mommy serta Kak Dea dan Mas Bayu dan semua asisten rumah tangga.


Mas Dante membawa kue bertanam lilin angka 29. Aku saja lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahun ku. Kesibukan menjadi istri dan ibu rumah tangga membuat ku lupa pada hari lahirku sendiri.


Aku menutup mulut tak percaya dan saking terkejutnya juga. Apa mereka tahu hari ulang tahunku?


"Selamat ulang tahun Sayang." Mas Dante mendekat.

__ADS_1


Kenapa bau parfum Mas Dante membuat perut ku serasa di kocok-kocok?


"Stop! Mas jangan mendekat." Aku menahan Mas Dante dengan tangan ku.


"Kenapa Sayang?"


Tak hanya Mas Dante yang heran tapi mereka semua. Aku juga heran kenapa aku tidak suka mencium wangi parfum Mas Dante dan rasanya aku ingin muntah.


"Mas jangan mendekat," ucapku menahan.


"Tapi Sayang _" Mas Dante tampak mendesah.


"Mommy kenapa kok tidak mau dekat-dekat Daddy?" tanya Tata heran sambil melihat ku.


"Iya Mama, kenapa?" tanya Nara dan Naro secara bersamaan. Wajah mereka malah terlihat panik.


Aku menggeleng tidak tahu. Entahlah aku tidak tahu kenapa bisa aku tidak mampu mencium bau parfum dari tubuh Mas Dante?


"Kamu kenapa, Ra? Kamu sakit lagi?" tanya Mas Daddy tampak panik.


Aku menggeleng karena aku memang tidak merasa sakit. Hanya saja aku mual dan tidak bisa mencium sesuatu yang bau nya menyengat.


"Sayang." Mas Dante tampak kesal. "Kenapa bisa begitu?" tanya nya merenggek kesal.


"Aku tidak tahu, Mas," jawabku.


"Ya sudah tiup dulu lilin nya," suruh Kak Dea.


Aku meniup lilin ulang tahun itu. Tapi tetap enggan dekat-dekat Mas Dante, aku tidak tahu bau parfum itu benar membuat perut ku bergejolak seolah ingin keluar seluruh isi yang ada didalamnya.


"Sayang potong kue nya dulu."


Aku menggeleng cepat, "Aku tidak mau, Mas," tolakku.


"Atau jangan-jangan Ara hamil!" seru Mama.


Semua mata melihat kearah Mama yang tampak tersenyum menggoda. Aku benar-benar tak habis pikir, jika aku hamil? Bahkan dengan jelas dokter mengatakan kalau aku tidak bisa punya anak lagi. Tetapi bagaimana jika aku benar-benar hamil?


"Hamil?" Mereka semua melihatku secara bersamaan.


Aku berjingkrak terkejut. Apakah mungkin aku hamil? Aku langsung kikuk melihat tatapan mereka semua. Apalagi Mas Dante menatap ku dalam, membuatku salah tingkah.


.


.


.


.


9 bulan kemudian....


Aku tengah berjuang diruang persalinan. Hari ini adalah hari yang telah aku nantikan sejak lama. Tak mengira Tuhan begitu baik dan mengizinkan aku menjadi seorang Ibu.


Kemurahan Tuhan dalam hidupku seolah tak ada duanya. Meski begitu banyak masalah yang aku lewati tapi aku bersyukur karena Tuhan memberiku jalan menuju kebahagiaan.


"Ayo Sayang, kamu pasti bisa." Mas Dante mengecup keningku.


Aku tersenyum mengangguk. Baru pembukaan tiga, para dokter juga tengah menyiapkan alat-alat medisnya.

__ADS_1


"Mas aku takut," lirihku sambil menggenggam tangan Mas Dante, padahal ini bukan pertama kalinya aku melahirkan. Tetapi rasa takut itu itu terasa menggelora didalam dada.


"Tenang Sayang, ada Mas disini." Lelaki ini berusaha menguatkan ku.


Aku mengangguk. Sakitnya luar biasa sekali. Dari rumah tadi air ketubanku sudah pecah. Untung saja memiliki suami yang pake komplit yang selalu siaga menjagaku. Aku juga bersyukur, kelahiran anak ketiga ku ini tidak melalui proses


"Siap-siap untuk mengejan ya Bu, ini sudah hampir pembukaan sempurna."


Aku mengangguk. Ahh kenapa ini sakit sekali. Sangat sakit. Rasanya seluruh isi perutku ingin keluar.


"Sayang yang kuat."


"Arghhhhhhhhhhhhh."


"Arghhhhhhhhhhhhh."


"Ayo Bu, sedikit lagi," seru dokter Susi.


"Ayo Sayang." Mas Dante juga ikut menyemangati.


"Arghhhhhhhhhhhhh."


"Owe owe owe owe."


Aku bernafas lega serasa ada sesuatu yang benar-benar keluar dibawah sana.


"Tolong mandikan bayi nya." Dokter Susi menyerahkan bayi itu kepada perawat.


"Saya akan bersihkan ya Bu, agar tidak ada darah kotor yang tertinggal disana."


Setelah membersihkan area sensitif itu. Dokter Susi menjahit nya juga. Astaga kenapa ini sakit sekali? Bahkan berbunyi meledup. Aku meringgis kesakitan dan sial tidak diberi obat bius sama sekali. Apa dokter ini sengaja ingin membunuhku?


Melahirkan pertama secara normal tetapi tidak sesakit ini. Melahirkan kedua operasi dan rasa sakit nya hanya setelah bius nya hilang maka akan sakit. Tetapi untuk kelahiran ketiga benar-benar menguras emosi.


"Selamat Pak. Selamat Bu. Bayi Anda berjenis kelamin laki-laki."


Dokter Susi menyerahkan pangeran kecil ku pada Mas Dante. Mas Dante berkaca-kaca sambil menyambut putra kecil kami.


"Sayang, putra kita."


Tak hanya Mas Dante yang berkaca-kaca dan terharu tapi aku juga. Ini adalah mimpi yang tak pernah aku bayangkan. Aku juga tak menyangka jika akan diberikan satu kesempatan lagi untuk memiliki anak oleh Tuhan. Ini seperti berada didunia mimpi.


"Mas."


Mas Dante memberikan bayi itu padaku.


"Hai putra Mommy, selamat datang ya Sayang dikehidupan Daddy, Mommy, Kak Nara, Kak Naro dan Kak Tata." Aku mengecup kening putra kecilku begitu juga dengan Mas Dante.


"Sayang terima kasih." Mas Dante kembali mendaratkan kecupan dikeningku.


"Sama-sama Mas. Aku bahagia Mas," ucapku.


"Mas juga bahagia Sayang. Semoga dengan kehadiran putra kecil kita. Kebahagiaan dihati kita akan semakin bertambah."


"Amin," ucapku.


"Apa kamu sudah siapkan nama untuk pangeran kecil kita Sayang?" tanya Mas Dante


Aku mengangguk, "Sudah, Mas." Lalu aku menatap putra kecilku.

__ADS_1


"Arshaka Araujo."


Bersambung...


__ADS_2