
SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........
CEKIDOT......
👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇
Aku duduk dengan tenang di bangku tunggu depan ruangan Al. Pak Dante duduk disampingku, sedangkan Divta dan Chelsea tamoj bertengkar satu sama lain.
Aku heran kalau memang masih saling mencintai kenapa tidak rujuk saja. Kenapa harus berdebat ini dan itu? Chelsea memang terlihat menyesal karena sudah meninggalkan Divta. Sementara Divta terlihat sekali jika dia benci pada mantan istrinya tersebut.
"Tapi kamu tidak bisa menyalahkan Ara, Chelsea. Aku tidak bisa kembali padamu bukan karena Ara. Tapi karena aku tidak mencintai kamu lagi," ucap Divta.
"Cih, jangan bohong Divta. Aku tahu kamu cinta sama, Ara. Kalau kamu tidak cinta sama dia. Kamu tidak mungkin menolak aku," ujar Chelsea tampak emosi dan bahkan suara nya terdengar menggema.
Aku tak terkejut sama sekali ketika Chelsea mengatakan Divta mencintai ku. Divta sudah pernah mengatakan hal tersebut sebelumnya. Tetapi aku sama sekali tidak sama sekali tertarik atau ditarik untuk percaya pada hal tersebut.
"Kenapa kalau aku cinta sama Ara? Masalah buat kamu? Bukankah kamu yang pergi meninggalkan aku bersama laki-laki lain? Lalu tiba-tiba kamu datang dan seenaknya meminta aku kembali?" ucap Divta sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak akan biarkan itu terjadi Divta. Ara tidak boleh bahagia," tegas Chelsea sambil melirik ku yang duduk dengan tatapan kebencian nya. "Kamu milik aku Divta," ucap Chelsea dengan penuh keyakinan. "Sedangkan Ara, aku benci sama dia karena dia mirip sama Killa."
Sontak aku dan Pak Dante menoleh kearah Chelsea. Apa selama ini Chelsea tahu bahwa sebenarnya aku kembar?
"Apa maksud kamu?" tanya Divta tak mengerti.
Divta pernah bercerita kalau dia memang tidak pernah bertemu dengan almarhum istri Pak Dante, karena dulu Pak Dante dan istrinya tinggal di jauh dari mereka. Sementara dia dan Chelsea juga baru menikah satu tahun lalu bercerai setelah Chelsea melahirkan kedua anak kembarnya.
Chelsea menatap ku dengan tajam. Aku tak tahu kenapa dia bisa benar-benar membenci aku? Padahal sebelumnya kami hanya sebatas teman SMA pada masanya. Mungkin usia kami pun hanya beda beberapa tahun saja. Lantas apa yang membuat Chelsea begitu membenci aku?
"Aku tahu kamu itu wanita jahat, Ara. Kami dekatin Divta dan Dante supaya kamu bisa mempermainkan perasaan mereka, iya kan?" tuding Chelsea.
Aku tetap santai sambil menghela nafas panjang. Aku tidak tersinggung dan terpengaruh dengan ucapan Chelsea. Aku tidak merasa kalau aku menggoda dua lelaki itu. Mereka yang mendekatiku bukan aku yang mendekat.
"Jaga ucapan kamu Chelsea!" hardik Divta.
__ADS_1
Pak Dante juga tampak emosi walau dia tidak berkata apapun, tetapi dia wajah nya terlihat marah.
"Kenapa kamu membela ****** ini, hah?"
Chelsea hendak menarik rambutku namun dengan cepat aku mencengkram tangannya dan membalas tatapan Chelsea. Ku hempaskan tangannya dengan kuat.
"Aww," rintih Chelsea menjerit kesakitan.
"Aku sudah cukup sabar Chelsea dengan segala tuduhan kamu. Kalau kamu ada masalah dengan Divta, harusnya kamu selesaikan dengan dia tanpa membawa-bawa nama ku. Aku tidak tahu masalah kalian," sentakku.
Kutarik rambut Chelsea dari belakang. Sekarang aku benar-benar marah, jika bisa rasanya aku ingin menelan Chelsea hidup-hidup.
"Awww," rintih Chelsea lagi.
Sementara Pak Dante dan Divta berdiri dan melonggo melihat aksiku.
"Selama ini aku cukup hidup dalam ancaman mu. Sekarang aku tidak takut lagi, jika kamu berani mencelakai anak-anak ku. Maka akan ku pastikan tangan mu patah dan gigi mu rontok!" ancam ku mendorong tubuh Chelsea dengan kasar sehingga dia terjerembab ke atas lantai.
Chelsea meringgis kesakitan sambil bangkit dari lantai.
"Dan kamu Divta, aku sudah katakan berulang kali jangan dekati aku. Aku tidak mau salah paham. Hidupku sudah banyak masalah jadi tolong jangan ditambah lagi dengan masalah kalian berdua," ucap ku menunjuk Divta.
"Ra, aku cinta sama kamu. Aku tidak bisa jauh dari kamu, Ra. Aku dan anak-anak butuh kamu," ucap Divta hendak menggapai tangan ku.
Secepatnya aku menarik tangan ku. Jika dulu memang memiliki rasa pada Divta tetapi saat ini aku tak percaya lagi pada kata cinta. Sudah cukup hidup ku selama ini di patahkan karena cinta.
"Stop, Ta. Aku tidak mencintai kamu. Tolong, aku mohon sekali jauhi aku dan anak-anak. Al dan El tetap akan menjadi anak ku tanpa kita bersama," ujar ku.
"Tidak bisa. Mereka tidak bisa memanggil kamu Mama. Dasar wanita murahan," cemooh Chelsea padaku.
"Kalau bicara jangan sembarangan, Chelsea. Ara calon istri saya," ucap Pak Dante menimpa sambil merangkul bahuku.
Aku terkejut dan sontak melihat Pak Dante yang menjulang tinggi diatas ku.
__ADS_1
"Calon istri?" ulang Divta dan Chelsea bersamaan.
"Iya Ara calon istri saya. Mulai sekarang berhenti menuduh Ara menggoda Divta karena selama ini calon istri saya tidak pernah menggoda mantan suami, Anda," jelas Pak Dante dengan tegas.
Chelsea menggeleng, "Semudah itu kamu melupakan Killa karena wanita murahan ini, Dan?" Chelsea menggeleng sambil dengan senyuman meledek.
Aku menahan tangis yang hampir keluar, sekuat apapun aku. Aku tetaplah wanita lemah. Wanita mana yang takkan sedih jika ada yang mengatakan bahwa dia wanita murahan.
"Memangnya kenapa? Lagian saya tidak berjanji untuk tidak jatuh cinta lagi pada wanita lain setelah kepergian Killa?" ucap Pak Dante santai.
"Ayo, Sayang. Kita pulang saja. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri," ajaknya.
Aku tak berkata apa-apa selain mengangguk dan mengikuti arah kaki Pak Dante. Pipi ku mulai panas, rasanya sangat sakit ketika mendengar tudingan Chelsea.
"Sudah, jangan dipikirkan," ucap Pak Dante menenangkan.
"Pak terima kasih sudah menolong saya. Tapi tolong lepaskan tangan Bapak dari bahu saya," ucap ku melepaskan rangkulan tangannya di bahu ku.
"Ehh iya maaf," ucap Pak Dante
Aku masuk kedalam mobil. Aku kasihan pada Al yang meminta ku tetap tinggal dirumah sakit. Bagaimana aku bisa tinggal jika Chelsea ada disana? Dia akan tetap menuduhku yang tidak-tidak.
"Pak, apa Chelsea menyadari jika wajah saya dan Bu Killa sama?" tanya ku.
Pak Dante mengangguk, "Chelsea menang tidak menyukai istri saya. Setelah kami menikah hingga istri saya meninggal, mereka tidak pernah bertemu," jelas Pak Dante.
Sekarang aku paham kenapa Divta tidak tahu menahu masalah almarhum istrinya Pak Dante. Ternyata mereka memang tidak pernah bertemu bahkan setelah sah menjadi ipar.
Bersambung....
Jangan lupa like komen dan vote ya guys..
Hari ini otor usahain crazy up...
__ADS_1