Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. Hati yang dingin


__ADS_3

"Silakan di makan, Mas." Nara meletakkan makanan di atas meja.


"Sudah, Mas," jawabnya.


Aku dan Betrand makan berdua dan di temani oleh Nara. Istriku tampak sibuk dengan ponsel yang ada di tangannya. Tak seperti biasa, Nara tak suka bermain ponsel ketika kami duduk berdua. Dia akan mematikan ponsel tersebut lalu fokus bicara denganku. Namun, kali ini semua serasa berbeda dan berubah. Aku tidak tahu apa yang Nara pikirkan tentang aku. Aku berharap masih ada kesempatan untuk kami memperbaiki hubungan ini.


"Nanti pulang sama aku. Ada yang mau aku bicarakan," ucapku sembari meliriknya.


"Iya, Mas. Aku hubungi Kak Rimba dulu, supaya tidak jemput aku," ujarnya sambil tersenyum. Aku tahu jika senyum itu hanyalah kepalsuan di mana dia menutup luka dengan cara tersebut.


Aku mengangguk saja. Sedangkan Bertrand menatap semburat kesedihan di bola mataku. Dia memang selalu peka pada apa yang aku rasakan. Sebab kami menjadi teman sejak mengenal Bunda Senja.


Aku tersenyum kecut. Bahkan saat di depanku saja istriku berani izin pada pria lain. Aku tahu ini hukum karma karena aku yang lebih dulu menciptakan luka. Namun, kenapa rasanya aku tidak terima? Kenapa rasanya aku ingin marah? Kenapa rasanya aku tidak suka Nara izin pada Rimba? Rimba adalah orang asing sedangkan aku suaminya. Seharusnya aku yang berhak memberi izin atau tidak.


"Ini kamu yang masak, Ra?" tanya Betrand mengalihkan pembicaraan di antara kami.


"Oh iya, Mas. Suka?"


"Saya suka sekali, kamu pintar masak," puji Betrand mengacungkan jempolnya.


"Terima kasih, Mas. Pujiannya," sahut Nara menampilkan senyum lebarnya.


Aku melirik Nara sekilas. Aku kembali mengingat hari lalu tentang dia yang mengatakan mencintaiku dan meminta aku membuka hati untuknya. Dia berkata bahwa cinta yang dia miliki ada sejak pertama kali kami di pertemukan sebagai dua orang yang akan terikat dalam pernikahan.


Aku pernah menaruh hati pada Mona perempuan yang sangat aku cintai. Hingga membuat aku membiarkan diriku tenggelam dalam hal yang pelan-pelan membunuhku. Orang yang aku cintai ini menusuk pelan jantungku. Ia berkhianat atas segala hal yang dengan sepenuh hati kuperjuangkan. Dia mencampakkan aku dan memilih orang lain melarikan dirinya. Dia terbang ke lembah terjauh. Menghilang setelah semua perasaan sayangku sekarat, di bunuh olehnya lalu mati perlahan. Katanya, aku adalah orang yang tak lagi dia butuh. Waktu itu yang aku tahu hanyalah jatuh cinta bisa membuat luka terasa semerana itu.


Mungkin kini giliran aku yang akan merasakan sebuah rasa sakit dari pengkhianatan. Dulu aku membawa Mona ke dalam rumah tangga kami dan mengatakan bahwa Nara adalah adik sepupuku serta menjadikan dia seperti pembantu. Sekarang, mungkin aku yang akan berada di posisi Nara. Merasakan hal yang sama berkali-kali yang perlahan membunuh hingga mati.


Setelah selesai makan. Aku meminta Betrand pulang membawa mobilku. Sedangkan aku pulang dengan Nara menggunakan mobilnya. Beberapa hari terakhir mobil ini memang tidak ada di garasi ternyata Nara tinggalkan di cafe miliknya.


Kami berdua sama-sama terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku tak tahu yang dia pikirkan, entahkah ada aku di dalam hatinya yang sekarang sedang terluka.

__ADS_1


"Ra," panggilku memecahkan keheningan setelah hanya deru mobil yang terdengar menggema dan berisik.


"Iya, Mas. Kenapa?" Aku bisa melihat luka di matanya. Tetapi dia tutupi dengan senyuman lebar. Benar kata Bee, jika Nara bisa mengelabui orang lain melalui tawa yang ia ciptakan.


"Aku minta maaf," ucapku penuh rasa bersalah. Apakah Nara akan menerima maafku dan memberikan aku kesempatan kedua?


Matahari menyimpit dengan kening berkerut heran. Tampaknya dia bingung dengan ucapanku yang tiba-tiba minta maaf.


"Minta maaf untuk apa, Mas?" tanyanya yang masih heran.


"Maaf karena aku sudah menyakitimu," ucapku dengan perasaan membuncah. Ini pertama kalinya kami dekat dan berbicara empat mata.


Dia hanya tersenyum dan mengangguk. Tetapi aku tahu bahwa senyum itu palsu. Aku tahu Nara terluka sama seperti aku yang juga terluka karena pengkhianatan Mona.


"Lupakan saja, Mas. Lagian aku sudah tidak mengingat itu," sahutku. Dia hanya mengatakan tak mengingatnya tetapi Nara tak bisa menyembunyikan perasaan melalui raut wajah. Aku bisa melihatnya bahwa dia terluka.


"Aku dan Mona sudah putus," ucapku. Entah kenapa aku reflek mengatakan hal tersebut? Entah aku bermaksud minta kasihani atau memang aku ingin Nara tahu bahwa aku dan Mona sudah tak memiliki hubungan?


Aku melirik istriku. Nara mengatakan hal tersebut tanpa beban? Apa dia sungguh ingin aku dan Mona bersama? Atau ini cara Nara agar tak terlihat terluka di depanku?


"Dia hamil."


Seketika Nara terdiam sejenak. Dia pasti salah paham dan mengira aku yang menghamili Mona.


"Oleh Ikmal," sambungku kemudian.


"Ikmal?" ulang Nara.


"Teman kuliah dan rekan kerja," jawabku tersenyum kecut.


Aku melirik sekilas kearah istriku dan ingin tahu apa responnya. Nara hanya manggut-manggut seperti paham pada apa yang aku jelaskan.

__ADS_1


"Sabar ya, Mas," ucapnya mengusap lenganku.


Kata sabar adalah bahasa yang sering terlontarkan setiap kali orang menghadapi masalah. Aku tahu, Nara mengatakan ini bukan hanya untukku tetapi juga untuknya.


"Aku minta maaf sama kamu. Aku sudah membawa Mona ke dalam rumah tangga kita."


Nara menghembuskan nafasnya kasar.


"Bukan salah kamu, Mas. Tapi aku yang salah. Aku menjadi orang ketiga di antara kamu dan Mbak Mona. Maafkan aku juga, Mas."


Seorang istri bukan orang ketiga dalam hubungan suami dan kekasihnya. Tetapi akulah yang sudah membawa orang ketiga merusak rumah tangga kami.


"Kamu tidak salah, Ra. Akulah yang salah. Aku sudah menyakiti kamu dan bahkan tega mengabaikan kamu," ucapku dengan perasaan bersalah yang tidak akan pernah bisa hilang sampai kapanpun. Perasaan yang melebur menciptakan kehancuran dalam dada.


Dia mengangguk saja sambil tersenyum lalu kembali melamun dan menatap kosong keluar arah jendela.


"Ra," panggilku.


"Iya, Mas. Kenapa?"


"Maukah kamu kasih aku kesempatan kedua untuk memperbaiki hubungan kita?" pintaku penuh harap. Kali ini aku benar-benar berharap jika Nara memberikan satu kesempatan untuk kami bersama lebih lama.


Nara melihat kearahku. Aku tak bisa mengartikan tatapan matanya. Aku tak menangkap apapun selain kesedihan dan kepatahhatian. Betapa aku menyadari bahwa aku takut kehilangan sosok perempuan yang ada di depanku ini.


"Aku pikir kamu memang tidak bisa tersenyum, Mas. Sampai aku mengira bahwa kamu tidak akan pernah tersenyum karena hal apapun. Tetapi saat kamu membawa Mona ke rumah kita satu hal yang aku sadari bahwa hatimu tidak akan pernah menjadi milik aku," ungkapnya.


"Ra."


"Aku ingin kita bercerai, Mas."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2