
SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........
CEKIDOT......
👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇
Aku masih menggendong tubuh Nara seraya menangis. Entahlah, aku takut dan tidak tahu. Kenapa tidak ada taksi atau mobil yang lewat? Jalanan tampak sepi tidak ada satu kendaraan pun yang berlalu lalang memamerkan bunyian nya.
Tin tin tin
Sebuah mobil mewah berhenti tepat didepan kami. Aku tidak tahu siapa yang singgah untuk menolong atau apa?
"Ara."
Pak Dante keluar dari mobil. Aku pikir dia tidak akan datang menolong. Sebab aku tidak mau lagi terlibat dengan Divta. Sudah cukup, aku tidak mau menambah derita.
"Pak."
Aku tak peduli menangis. Saat ini yang terpenting Nara harus dibawa kerumah sakit.
"Ayo, cepat," ajak Pak Dante mengambil alih Nara dari gendongan ku.
"Iya Pak," sahutku yang tak bisa menahan tangis.
Pak Dante menbawa Nara masuk kedalam, disusul oleh aku dan Naro.
Aku memangku kepala Nara. Sejak tadi Nara sudah tak sadarkan diri, harusnya badan nya panas tetapi kenapa ini dingin?
"Sayang, tolong bertahan Mak. Kamu harus kuat." Kupeluk tubuh lemah dan kecil ini.
"Kakak," ucap Naro juga menangis.
Seharusnya aku menjadi penyemangat untuk kedua anakku, tetapi kenapa malah aku yang cenggeng.
Pak Dante fokus menyetir dan sesekali melirik aku dan Naro yang sudah saling bertangsian. Bagaimana kami tak menangis jika Nara saja terpejam seperti ini, apalagi tubuh Nara sangat dingin. Kenapa dingin? Tadi tubuh nya sangat panas dan Nara masih mengeluh karena sesak nafas, tetapi kenapa sekarang dia malah terdiam seperti ini?
__ADS_1
Aku memeluk Nara dengan tangis. Tuhan, tolong kali ini jangan ambil dia dari pelukanku. Aku takkan sanggup hidup, jika aku kehilangan senyuman Nara. Nara adalah bagian dari jiwaku, jika dia pergi meninggalkan ku bagaimana aku dan Naro bisa hidup?
"Ra, kamu tenang ya," ucap Pak Dante menenangkan ku.
Aku tak menanggapi, menangis dalam diam adalah pilihan saat ini. Naro ikut memeluk aku dan Nara, kami berdua menangis memeluk tubuh yang mulai dingin ini.
Sampai dirumah sakit Mitra Medika, salah satu rumah sakit besar di Pontianak. Kami turun dari mobil. Pak Dante mengambil Nara dari gendongan ku, mungkin dia kasihan melihat ku menggendong Nara yang tubuh nya notabene sudah besar.
"Ayo."
Aku menggandeng tangan Naro berjalan menuju ruang UGD. Para perawat yang melihat kami langsung mengambil alih untuk menangani Nara.
"Tolong anak saya, Dok," tangis ku sambil memohon. Apapun akan aku lakukan demi Nara. Tak peduli jika aku harus kehilangan ibu ku.
"Baik, Bu," ucap salah satu perawat.
Nara diletakan diatas ranjang rumah sakit ruang UDG. Aku menggenggam tangan gadis kecil-ku ini. Tangan Nara dingin.
Para perawat sibuk memasang infuse dan oksigen di hidung Nara. Ada yang bertugas mengambil sampel darah untuk dibawa ke laboratorium, memastikan penyakit yang bersarang di tubuh nya.
Salah satu dokter memeriksa penyakit Nara. Sedangkan aku menangis sambil mengusap kepala anakku. Seharian ini aku terlalu sibuk dengan pekerjaan, sehingga aku lupa menanyakan perasaan anakku.
Hati ibu mana yang tak sakit melihat anak perempuan nya terbaring tak berdaya diatas ranjang rumah sakit. Nara-ku, putri kecil-ku. Gadis ceria yang tak pernah mengeluhkan rasa sakit nya walau sebenarnya dia tak pernah baik-baik saja.
"Bagaimana, Dokter?" tanya ku.
"Kita tunggu hasil lab ya, Bu. Kami akan segera pindahkan anak Ibu ke ruangan rawat inap. Mohon di urus segala administrasi nya, Bu," jelas salah satu dokter. "Nanti anak Ibu akan ditangani oleh dokter spesialis anak," sambungnya.
Aku mengangguk dengan wajah lemas. Aku tidak mempermasalahkan bersama banyak biaya yang harus aku keluarkan. Aku hanya takut terjadi sesuatu ada Nara. Dokter mengatakan harus menunggu hasil lab, apakah penyakit anakku benar-benar parah.
"Iya Dok," ucap ku menyeka air mata ku dengan kasar.
Kutatap Nara dengan sendu. Tidak kah cukup penderitaan Nara selama ini? Dia sudah cacat dan tak bisa berjalan tetapi kenapa dia malah harus sakit lagi? Andai aku bisa menggantikan posisi Nara, biar aku saja yang sakit jangan dia.
Aku menyimak orden yang menutupi ranjang Nara, sebab di ruang UGD hanya dibatasi dengan orden untuk memisahkan antara ranjang yang satu dengan ranjang yang lainnya.
__ADS_1
"Ra, bagaimana?" tanya Pak Dante yang terlihat panik.
"Menunggu hasil lab nya keluar, Pak," sahutku.
Sial kenapa air mataku tak bisa berhenti menetes. Rasanya begitu sakit sekali mengingat penderitaan anakku yang satu itu. Kenapa harus Nara? Kenapa tidak aku saja.
"Ra."
Pak Dante menarik ku dalam pelukan nya. Aku tak peduli, siapa yang memelukku saat ini. Aku hanya ingin menangis meluapkan semua rasa sakit yang menggembang didalam dada. Aku takut, aku takut kehilangan. Nara dan Naro adalah alasan kenapa aku bertahan hidup hingga kini. Tanpa mereka aku tak bisa bayangkan seperti apa kehidupan ku nanti nya.
"Menangislah, Ra," ucap Pak Dante.
Tak peduli, aku membalas pelukan Pak Dante dan menangis sepuasku. Jiwa dan raga pun benar-benar di hantam hebat oleh rasa sakit yang menjadikan semua ini ada. Dunia ku terasa gelap, hitam dan abu-abu.
"Mama."
Naro juga ikut memeluk aku dan Pak Dante. Menangis memang tidak menyelesaikan masalah tetapi menangis dapat memberi kelonggaran dalam dada. Aku bukan wanita kuat, sesekali aku ingin memberontak meluapkan segala rasa yang ada didalam dada. Bolehkah aku marah pada Tuhan? Bolehkah aku memberontak pada hidup yang terasa tak adil ini.
Setelah aku kehilangan suami, sekarang aku harus dihadapkan dengan penyakit anakku. Rasanya aku tak ingin hidup walau hanya sekedar bernafas. Aku ingin pergi jauh dan sejauh mungkin, meninggalkan kehidupan yang tak pernah ku inginkan sama sekali. Aku lelah, aku rasanya ingin marah pada ketidakadilan Tuhan atas hidupku.
Pak Dante melepaskan pelukannya. Dia menyeka air mataku. Aku tidak tahu kenapa Pak Dante mau menolong ku malam-malam begini. Dan entah inisiatif dari mana yang membuat ku berkeinginan menghubungi Pak Dante.
"Mama," panggil Naro narik ujung bajuku.
"Iya Son." Tangan ku terulur mengusap kepala Naro.
"Jangan sedih Mama. Naro ada disini menemani Mama," ucap Naro lembut.
"Terima kasih Son," balas ku.
Betapa aku beruntung memiliki anak-anak hebat dan luar biasa. Disaat aku tak memiliki tujuan mereka seolah datang memberikan kekuatan lewat senyuman.
"Ra, saya urus administrasi Nara dulu," ucap Pak Dante.
"Tidak perlu, Pak. Saya ada uang kok," tolak ku. Aku tak mau berhutang budi terlalu banyak pada orang. Apalagi Pak Dante hanya sebatas Boss yang tak sengaja ku kenal.
__ADS_1
"Jangan menolak Ara. Saya ikhlas membantu," sergah Pak Dante. Jika Divta masih bisa ku tolak dengan berbagai alasan. Tetapi Pak Dante ini sepertinya tidak menyukai penolakan.
Bersambung....