Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 05. Tata Story 34.


__ADS_3

Aku termangu melihat tubuh bujur dan kaku dengan mata terpejam dan pucat yang terbaring di sana. Di atas tubuhnya di tutupi dengan kain putih. Seluruh tubuhku terasa membeku seketika dan tatapan mata seolah tak mampu menetra. Jantung berhenti berdetak. Kenapa? Apa sebenarnya yang terjadi?


"Mas Gevan?" gumamku pelan.


Entah, kenapa air mata yang ku tahan sejak tadi menetes dan mengalir dengan deras membasahi pipi. Beberapa kali ku yakinkan diriku bahwa aku sedang tidak bermimpi.


"Ta."


Ku rasakan usapan lembut yang mengusap bagian punggungku. Kutatap matanya dengan sendu dan penuh rasa pengaduan.


Di sana ada Mama Meysa, Papa Rizel, Tante Mentari dan Om Divta serta masih banyak lagi anggota keluarga. Wajah semua orang menunjukkan raut yang sama, yaitu kesedihan dan kepatahhatian.


"Tata."


Mama Meysa berhambur ke arahku. Dia peluk tubuh yang sedari tadi serasa mati rasa. Tubuh yang seakan-akan bisa hancur dan bertemu dengan tanah.


Kubalas pelukan Mama Meysa dengan erat. Aku masih terdiam seolah tak sadar dari keterkejutan ku.

__ADS_1


"Apa yang terjadi, Ma?" tanyaku. Lidah terasa kelu dan tak mampu mengeluarkan suara apapun.


"Gevan dan Queen mengalami kecelakaan. Queen koma di rumah sakit dan bayinya tidak dapat diselamatkan. Sementara Gevan meninggal di tempat," jelas Mama Meysa memelukku kian erat.


Tubuhku langsung luruh. Jika saja tidak di peluk oleh Mama Meysa mungkin sudah merosot ke lantai. Aku seperti kehilangan salah satu partikel dalam tubuhku. Bukan, maksudku bagaimana dengan Lala? Apa yang harus aku katakan padanya jika dia telah kehilangan sosok yang selalu dia rindukan selama ini.


"Kamu harus kuat, Ta!" Mama Meysa memelukku.


"Ta." Mama Ara juga ikut memeluk tubuh lemahku seolah memberi aku kekuatan pada segala resah yang menghantam dada.


"Mas Gevan," gumamku.


"Kamu yang kuat ya, Nak." Mama Ara memeluk tubuhku kian erat.


"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks hiks."


Suara tangis terdengar menggema di dalam rumah mewah kami dulu. Saudara Mas Gevan serta keluarga besarnya datang menjengguk termasuk orang tua Mbak Queen.

__ADS_1


Kau tahu? Bagian mana yang paling menyakitkan dari perpisahan? Berpisah karena KEMATIAN. Tak peduli sebesar apa kau merindukannya. Dia tidak akan kembali ke dunia yang fana ini.


"Mas Gevan!"


Aku berhambur ke arah Mas Gevan. Kupeluk tubuh mantan suamiku ini. Selama ini aku tak membencinya, aku hanya kecewa dengan perbuatannya. Bagaimanapun dia adalah seseorang yang pernah ada memberi kebahagiaan di dalam dada. Walau pada akhirnya hanya luka yang ada.


"Mas, bangun! Bangun, Mas! Aku datang ke sini mau ketemu kamu, Lala kangen sama kamu, Mas. Lala pengen di suapi sama kamu. Tolong buka mata kamu, Mas. Kamu bilang mau menyembuhkan penyakit Lala. Tapi, kenapa kamu malah pergi? Kenapa, Mas?!"


Ku goyangkan tubuhnya berharap bahwa Mas Gevan hanya tertidur atau pingsan. Tidak, ini pasti tidak benar. Ini pasti hanya mimpi saja, Mas Gevan hanya tertidur aku yakin.


"Mas buka mata kamu, Mas! Jangan tinggalkan aku! Jangan pergi! Aku mohon, aku mohon." Teriakanku terdengar menggema di dalam rumah mewah ini.


"Ta." Mama Ara mengusap bahuku.


"Jangan pergi, Mas! Jangan pergi! Bagaimana dengan Lala? Dia pasti akan terluka kehilangan kamu."


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2