Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 04. Chapter 26.


__ADS_3

Ariana POV.


Perasaan akan tetap tumbuh dengan hal-hal yang di perjuangkan. Dengan segala impian dan usaha untuk melakukan pencapaian. Rasa cinta tak sebatas manja-manja. Ada beberapa hal yang memang harus diterima. Pekerjaan namanya. Kutukan manusia yang satu ini kerap kali menyeret tubuh ke tempat-tempat yang membuat segala rasa terasa jauh.


"Sehat-sehat ya, Sayang. Kita aman di sini. Tidak akan ada lagi yang menyakiti kita ber-empat" ucapku mengusap perutku yang sudah membuncit tersebut. Aku tak sabar menantikan kedatangan anak kembarku. Ah rasanya aku ingin hari itu segera tiba walau mungkin, aku tidak akan ada.


Ada beberapa hal dari jatuh cinta yang akhirnya membuat seseorang kewalahan. Memperjuangkan segara harapan sendirian, misalnya. Sesuatu yang seharusnya dihidupkan berdua, malah di hadapi sendiri. Hal semacam itulah yang pelan-pelan akan membunuh cinta. Meski beberapa cinta terlalu kuat, tetap bertahan meski sekarat. Beberapa lagi malah memilih mati daripada merana sendiri. Ada orang yang tahan banting hingga tetap bertahan meski berkali-kali perasaannya sedih berkeping-keping. Ada orang yang cinta buta, tak peduli betapa kali didusta tetapi tetap saja memilih percaya. Cinta kadang memang di luar logika, hanya bisa dimengerti oleh orang-orang gila. Orang-orang yang sedang jatuh di dalamnya.


Aku mungkin yang kedua. Memilih mati berkeping-keping daripada menyiksa diri dengan segala perasaan yang menyakiti hati. Kak Naro dan Mas Angga, adalah dua pria yang aku tinggalkan demi bertahan hidup di sini.


"Maafkan Bunda, ya. Bunda belum bisa memberikan yang terbaik untuk kalian. Semoga kelak kalian tidak mengalami apa yang Bunda alami."


Sel kanker dalam tubuhku telah menyebar ke bagian syaraf. Aku memutuskan untuk tidak lagi menjalani kemoterapi karena aku takut hal tersebut akan berpengaruh ada bayi-bayiku. Aku tak mau mereka kenapa-kenapa. Tujuanku bertahan hidup supaya mereka tetap walau kelak aku tidak akan bisa menyentuh atau bahkan melihat wajah mereka.


"Bunda kangen sama Ayah dan Papa kalian. Maafkan Bunda, Nak. Kalian harus lahir dari rahim wanita murahan seperti Bunda."


Ucapan Kak Naro yang mengatakan bahwa aku wanita murahan dan ****** masih saja terngiang di kepalaku. Setiap kali kata-kata itu terekam lagi, aku semakin tak berniat untuk kembali. Di sini sudah terlalu nyaman untuk wanita tak berharga seperti aku.


"Mas Angga, semoga kamu bangun kembali, Mas. Agar bisa merawat anak kita nanti. Jangan sampai mereka tumbuh tanpa kasih sayang kedua orang tua nya." Air mataku luruh.


Bolehkah aku meminta Tuhan memberikan aku kesempatan untuk kembali hidup walau hanya sebentar. Aku ingin menggendong anakku dan memberikan mereka asi. Aku memandikan mereka. Aku ingin menidurkan mereka dalam keheningan malam? Bolehkah Tuhan mengasihani aku sedikit saja? Aku tahu, diriku adalah manusia kotor yang penuh dengan kesalahan. Tetapi apakah tidak ada sama sekali kesempatan untuk memperbaiki diri.


Usia kandunganku memasuki bulan ketujuh. Dua bulan lagi aku akan melahirkan ketiga anakku. Waktuku hidup di dunia ini tak banyak. Tetapi sampai sekarang aku belum mendapatkan maaf dari kedua orang tua serta kakak-kakakku. Apakah aku akan mati dalam kebencian? Membawa dosa yang menggelora?

__ADS_1


Namun, dengan keluargaku tentu aku ingin menjalani hubungan yang baik. Meski jatuh tak bisa lepas dari rasa sakit, aku tetap bisa memilih lebih hati-hati. Agar tak mendadak luka tak mampu mengendalikan rasa. Agarbtak mudah gila karena mengabaikan logika. Perasaan yang tumbuh dan subur di dada. Biarlah mengutuh dengan segenap bahagia. Senaua akan berjalan dengan semestinya, sebab harus percaya dengan cinta yang semesta.


Namun, jika akhirnya semua kata maaf itu tak mengiringi kepergianku. Aku tak mau membawa dendam dan luka yang meredam. Biarkan aku tenang dengan segala rasa yang terasa mencekik leher.


"Papa, Mama, Kak Al, Kak El. Arin kangen sama kalian. Kenapa kalian tidak mau memaafkan Arin? Apa kalian tahu kalau sebentar lagi, Arin akan pergi meninggalkan kalian. Maafkan Arin, Pa."


Jika air mata ini bisa jadi uang mungkin aku sudah mampu membeli pesawat saking banyaknya air mata yang keluar. Aku adalah wanita manja dan cenggeng. Terbiasa hidup dalam kemewahan membuatku canggung menghadapi semua ini.


Aku memang ingin mati tetapi saat menghadapi kematian. Kenapa aku sangat takut? Bagaimana nasib anakku nanti? Apakah mereka juga akan mengalami hari-hari seberat diriku? Aku tidak mau anak-anak ku menderita. Aku ingin mereka bahagia walau tanpa aku.


"Kak."


Aku segera menyeka air mataku ketika mendengar suara Anggi. Akibat kemoterapi beberapa bulan yang lalu aku harus memakai kacamata tebal karena penglihatanku yang mulai kabur dan tidak jelas. Semua rambut yang jadi mahkota di kepalaku terkikis habis bersama obat-obatan yang membuatnya rontok tersebut.


"Kakak." Anggi menatapku sendu.


"Kakak yang kuat ya, si kembar akan kuat kalau bunda-nya juga kuat," ucap Anggi sembari tersenyum mengusap perut rataku.


Kak Galaksi dan Anggi adalah dua orang yang berjasa dalam hidupku. Mereka menyayangiku tanpa pamrih. Bahkan mereka rela kehilangan banyak hal demi aku bertahan.


"Kakak kangen sama Papa dan Mama, Ngi," ucapku mengadu pada Anggi.


"Anggi tahu, Kak. Tapi mereka sudah membuang Kakak. Jadi, tidak ada gunanya memikirkan mereka lagi."

__ADS_1


Andai semua semudah yang di katakan Anggi, mungkin aku sudah lama melupakan keluargaku. Tetapi nyatanya aku tak bisa.


"Anggi punya kabar baik buat Kakak," ucap Anggi tersenyum lebar.


"Apa, Nggi?" Aku menyeka air mataku dengan kasar.


"Mas Angga sudah bangun dari komanya," ucap Anggi dengan senyum lebar.


Aku langsung terdiam. Harusnya aku senang tetapi kenapa aku malah takut? Aku takut Mas Angga tahu kondisi aku saat ini. Dia pasti sedih dan terluka apalagi ini bersangkutan dengan ketiga anaknya.


"Kakak kenapa?" tanya Anggi menatap wajahku penuh selidik. "Kakak tidak senang mendengar Mas Angga sudah bangun?" tanya Anggi lagi tampak kecewa.


Aku menggeleng, "Tidak. Hanya saja Kakak tidak mau Mas Angga tahu kondisi Kakak sekarang. Dia pasti sedih," ucapku.


"Tapi, Kak_"


"Mas Angga terlalu baik untuk Kakak. Kakak tidak mau membuat dia khawatir Karena penyakit Kakak. Kakak belum bisa bertemu Mas Angga dan Kak Naro dalam keadaan seperti ini," ucapku dengan mata berkaca-kaca.


"Kak." Anggi mengenggam tanganku. "Bagaimanapun Kak Naro dan Mas Angga adalah dua orang yang berperan dalam hidup Kakak. Mas Angga ayah dari bayi Kakak. Sementara Kak Naro suami Kakak. Mereka wajib tahu semua yang Kakak lewati selama ini," jelas Anggi.


"Tidak, Anggi. Kakak tidak mau jadi beban. Lagian waktu Kakak hanya tinggal dua bulan saja. Sebentar lagi, Kakak akan menjadi salah satu manusia yang terlupakan," jelasku berusaha memberikan pengertian. Aku tak ingin keluargaku tahu bahwa sekarang aku tak baik-baik saja.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2