Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Jeritan hati Ara


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


Diandra POV.


Aku menggenggam tangan Nara, kondisi nya masih belum pulih. Terkadang Nara mengeluh sakit dibagian dadanya. Hal itu sukses membuat jantungku berdenyut sakit.


Andai aku bisa menggantikan posisi nya, biar aku saja yang sakit asli jangan dia.


"Mama," lirih Nara membuka matanya pelan.


"Iya Sayang, Mama disini. Nara mau apa?" tanya ku lembut.


"Mama." Mata Nara berkaca-kaca.


Aku mengeratkan genggaman ku pada Nara. Tuhan bisakah aku saja yang sakit, jangan anakku. Kenapa masalah dalam hidupku tak pernah berhenti? Tak apa jika aku harus kehilangan apapun dalam hidupku, bahkan jika pun kehilangan kebahagiaan tidak masalah. Tetapi aku tidak mau kehilangan Nara dan Naro. Mereka adalah harta paling berharga dalam hidupku.


"Mama dada Nara sakit," adunya.


Tangan ku terulur mengusap dada Nara. Air mata leleh begitu saja. Dokter masih memeriksa kondisi Nara untuk melakukan pengobatan selanjutnya. Kemungkinan Nara akan dirujuk ke rumah sakit luar. Tetapi tidak apa, aku akan lakukan apa saja untuk kesembuhan Nara.


Aku memanggil dokter agar memberikan obat anti nyeri pada Nara, setidaknya sakit Nara tidak terlalu menyiksa. Nara tak bisa tanpa oksigen yang membantu nya bernafas.


"Bagaimana Dok?" tanya ku. Sial, kenapa sih air mata ini tak bisa berhenti menetes.


"Nara sudah tenang Bu. Saya sudah memberikan obat anti nyeri padanya," ucap dokter Sally.


Aku mengangguk. Nara memang tampak tenang dengan mata yang terpejam erat.

__ADS_1


Aku duduk kembali di bangku samping ranjang Nara. Ku tatap dengan sendu anak perempuan ku tersebut. Bila perlu, aku rela mendonorkan jantungku untuk Nara. Bukankah hidupku untuk anakku, jika pun aku harus kehilangan hidupku demi dia. Itu bukan pengorbanan tetapi bentuk cinta ku padanya.


Sering aku bertanya, apakah jalan hidupku memang takkan pernah bahagia? Di hadapkan dengan berbagai masalah seolah aku adalah manusia paling lemah. Tidak cukupkah semua penderitaan yang selama ini aku derita, kenapa sekarang malaikat kecil yang Tuhan titipkan padaku harus merasakan sakit seperti ini? Rasanya aku tak sanggup menjalani semua kehidupan ini.


"Hiks hiks hiks hiks hiks."


Aku menangis sekeras mungkin didalam ruangan rawat Nara. Tidak boleh lebih dari satu orang menjaga Nara. Bahkan Naro kini aku titipkan pada Kak Dea.


"Hiks hiks hiks hiks."


Kupukul dadaku berulang kali, menghilangkan segala sesak yang menghantam didalam sana. Rasanya nafas ku tercekat. Bolehkah aku pergi dari dunia ini.


"Nara."


Tanganku terulur mengusap kepala Nara dengan simbahan air mata yang seolah tak berhenti menangis. Hancur. Rapuh. Semua perasaan itu benar-benar menyiksa dadaku.


"Bertahan ya, Nak. Kita akan berjuang sama-sama. Mama akan selalu ada untuk kamu. Bila perlu Mama akan berikan jantung Mama buat kamu. Kamu harus tetap hidup. Kamu tidak boleh pergi meninggalkan Mama. Kamu sumber kekuatan Mama, kalau kamu pergi bagaimana Mama bisa hidup?"


"Ara."


Aku segera menghapus air mataku, lalu mengarahkan pandangan kearah pintu masuk.


"Ibu. Ayah."


Aku sontak berdiri dengan wajah terkejut. Apakah aku tidak salah lihat? Beberapa kali ku kucek mataku untuk memastikan bahwa itu adalah ibu dan ayah yang sudah lama aku rindukan.


"Ara."


Aku berjalan kearah mereka dengan langkah pelan. Hampir 11 tahun tidak pernah bertemu. Aku ingat terakhir kali, pertemuan ku dengan mereka ketika aku menikah dengan Mas Galvin. Ayah tampak kecewa, walau begitu dia tetap hadir meski tak memberi restu sama sekali.


"Bu."

__ADS_1


Aku berhambur memeluk ibu ku. Aku merindukan nya. Sangat-sangat rindu ibu. Sudah lama dan sangat lama kami tak bertemu untuk melepaskan rindu. Setiap kali aku menelepon, ayah selalu tak mau bicara. Entah kenapa rasa kecewa di hati ayah tak bisa hilang meski sudah berlalu selama puluhan tahun.


"Maafkan Ara, Bu," ucap ku menangis segugukan.


Sementara ayah tampak berjalan masuk menuju ranjang Nara. Ini pertemuan pertama ayah dengan Nara. Sejak Nara hadir didunia ini, ayah tak pernah melihat cucu nya. Apalagi Nara hadir disaat aku belum memiliki suami, artinya aku hamil tanpa pernikahan.


Ibu membalas pelukan ku dan kami sama-sama menangis untuk melepaskan semua kerinduan didalam dada. Aku anak bungsu dari tiga bersaudara, aku sebenarnya manja. Tetapi karena kesalahan ku sendiri, aku tak bisa lagi bermanja-manja dan merasakan hangatnya pelukan ibu.


"Ara kangen sama Bu," renggek ku.


"Ibu juga kangen sama kamu, Nak. Kangen banget," balas ibu.


Bayangkan 11 tahun lama nya kami tak bertemu. Bertanya kabar hanya lewat handphone, itu pun ayah tak mau berbicara dengan ku. Ayah masih marah dan enggan menatapku yang memang bersalah. Tentu saja aku sangat merindukan kedua orang tua ku. Dulu aku berprestasi dan membuat mereka bangga. Tetapi setelah aku mengecewakan kepercayaan ayah, aku kehilangan semuanya.


Ternyata benar bahwa hukum karma itu berlalu, pernikahan yang tanpa restu dari orang tua tidak akan berakhir bahagia. Sekarang aku sudah merasakan nya, pernikahan yang ku anggap sebagai pilihan terbaik ku, justru menyesatkan diantara penyesalan. Pernikahan ku berakhir karena orang ketiga dan ketidaksetiaan suamiku.


Ibu melepaskan pelukan ku, "Kamu sehat, Nak?" tanya Ibu mengusap pipi ku.


"Ara sehat, Bu. Ibu apa kabar? Ara sudah lama tak bertemu Ibu, maafkan Ara ya, Bu," ucap ku merasa bersalah. Andai saja aku tak pilih, aku pasti bahagia.


"Ibu sehat, Nak. Bagaimana keadaan anakmu Nara?" tanya Ibu.


"Seperti yang Ibu lihat," ucap melirik Nara.


Entah kapan, ayah tiba-tiba sudah duduk di kursi samping ranjang Nara. Dia tampak menatap cucu nya. Cucu yang mungkin saja kehadiran nya tidak diterima oleh ayah.


Aku tak bisa marah, karena aku memang salah. Aku terbuai oleh pergaulan bebas dan cinta monyet. Menyerahkan mahkotaku pada lelaki salah. Berharap dia akan setia padaku setelah memberikan apa yang dia mau. Tetapi lihatlah sekarang, dia malah menghempaskan dan menghancurkan hatiku. Menyadarkanku, bahwa memilih nya adalah jalan yang salah. Tetapi apa guna nya aku menyesal karena semua takkan kembali seperti sedia kala.


"Ayah," panggil ku.


Ayah tak merespon, dia malah diam dengan tatapan yang mengarah pada Nara. Aku tahu ayah masih marah. Tetapi melihat nya ada hari ini sudah membuat hatiku merasa nyaman. Setidaknya kemarahan ayah tidak seperti dulu. Walau mungkin aku tidak akan pernah mendapatkan maaf dari dia.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2