Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Wedding day


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


Senja POV


Aku menatap pantulan diriku didepan cermin, gaun mahal dan indah ini melekat dengan sempurna ditubuh ramping ku. Senyumku menggembang. Hari ini adalah hari yang telah ku nantikan sejak lama. Hari yang akan menjadi sejarah perjalanan cintaku.


Semoga kali ini aku bahagia. Semoga kali ini cintaku abadi. Bersama Mas Dante, lelaki yang sudah berhasil membuktikan padaku bahwa cinta tak selamanya berakhir menyakitkan. Lelaki yang sudah dengan sabar menemani ku dalam segala lelah dan juga gundah.


"Mommy cantik banget!" puji Tata.


"Iya, Ra. Kamu cantik banget." Kak Dea ikut menimpali. Saat ini kami sedang berada di ruangan rias.


"Tidak salah Pak Dante pilih kamu jadi istrinya," celetuk Henny, sambil mengedipkan matanya jahil.


Aku terkekeh mendengar pujian mereka bertiga. Aku juga tak menyangka jika aku akan secantik ini. Ini jauh berbeda. Bahkan aku sendiri hampir tak mengenal diriku.


"Semoga kamu bahagia ya, Ra. Aku bahagia kalau kamu bahagia." Mira memberikan pelukan hangat padaku.


"Terima kasih Mir. Terima kasih buat doanya." Aku membalas pelukan sahabat ku ini.


"Ya sudah ayo. Mereka sudah menunggu," ajak Kak Dea.


Pernikahan kami diselenggarakan dirumah mewah Mas Dante yang dia beli khusus untuk ku dan anak-anak. Jauh-jauh hari Mas Dante sudah menyiapkan masa depan untuk kami berdua. Agar kelak hidup kami terjamin.


Aku berjalan diatas karpet merah ini dengan gaun panjang serta sebuket bunga ditanganku. Rambut panjang menjuntai dan tergerai dengan indah


Ayah dan Daddy mengiringiku menuju altar. Meski pun hati ini masih kecewa atas perbuatan mereka. Tapi aku tak bisa menaruh dendam pada orang tua kandungku sendiri. Bagaimana pun mereka adalah orang tua ku karena mereka aku ada. Tapi jujur saja rasa kecewa itu hingga kini masih tetap ada. Namun aku berusaha berdamai dengan masa lalu ku. Sekarang aku ingin hidup baik-baik saja, sebagai seorang wanita dan sebagai seorang Ibu.


Bidikan kamera mengiringi langkahku. Diatas altar tampak Mas Dante dan seorang Pendeta tengah menunggu kedatangan ku. Mataku berkaca-kaca. Ini adalah pernikahan yang akan aku kenang hingga nanti. Dulu waktu aku menikah dengan Mas Galvin, hanya dihadiri oleh beberapa orang saja. Apalagi dulu tanpa kehadiran orang-orang yang aku sayang.

__ADS_1


Mas Dante tampak tersenyum menunggu kedatangan ku. Ini bukan pernikahan pertama kami tapi ini adalah pernikahan terakhir untuk kamu berdua. Kami sama-sama terluka. Kami sama-sama pernah kehilangan seseorang. Semoga kami pun belajar untuk saling menerima satu sama lain dan sama-sama takut kehilangan.


"Dante, Ayah serahkan Ara sama kamu. Buat dia bahagia. Jangan pernah menyakiti hati dan perasaan nya. Jika suatu saat kamu sudah bosan dengannya kembalikan dia pada Ayah. Ayah sangat menyayanginya." Mataku berkaca-kaca mendengar ucapan Ayah.


"Daddy juga serahkan Ara sama kamu. Buat dia bahagia seperti kamu membahagiakan Killa," ucap Daddy juga.


"Baik Ayah. Baik Daddy. Saya akan membahagiakan Ara dengan seluruh jiwa dan raga saya," jawab Mas Dante tegas dan lantang.


Mas Dante menyambut tangan ku dengan lembut. Terlihat bahwa dia benar-benar tengah berbahagia.


Ps : Maka tibalah saatnya untuk meresmikan perkawinan saudara. Saya persilahkan saudara masing-masing menjawab pertanyaan saya.


Ps : Saudara Dante Araujo, maukah saudara menikah dengan Diandra Gautama yang hadir disini dan mencintainya seumur hidup baik dalam suka mau pun dalam duka?


Dante : Ya, saya mau


Ps : Saudari Diandra Gautama maukah saudara menikah dengan Dante Araujo, yang hadir disini dan mencintainya seumur hidup baik dalam suka mau pun dalam duka?


Ara : Ya, saya mau


Dante : Saya Dante Araujo, mengambil engkau Diandra Gautama, sebagai istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya; pada waktu susah mau pun senang, pada waktu kelimpahan mau pun kekurangan, pada waktu sehat mau pun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai mau memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang Kudus dan inilah janji setiaku yang tulus.


Ara : Saya Diandra Gautama mengambil engkau Dante Araujo sebagai suami saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya; pada waktu susah mau pun senang, pada waktu kelimpahan mau pun kekurangan, pada waktu sehat mau pun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai mau memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang Kudus dan inilah janji setiaku yang tulus.


Ps : Selanjutnya pemasangan cincin (Nara dan Naro datang membawa nampan berisi satu kotak beludru berwarna merah)


Ps: Cincin ini bulat tanpa awal dan tanpa akhir, sebagai lambang tanda kasih Kristus, yang tanpa awal dan tanpa akhir. Atas dasar itu, cincin ini menyatakan bahwa saudara berdua, untuk meniru kasih Kristus dalam kehidupan rumah tangga; dengan mengasihi pasangan tanpa awal dan tanpa akhir.


Ps : Silahkan mempelai pria untuk memasangkan cincin (Mas Dante mengambil cincin itu dari tangan Naro)


Dante : Diandra Gautama cincin ini aku berikan padamu sebagai lambang cinta kasih dan kesetiaanku (Mas Dante memasangkan cincin itu ke jari manis ku)


Ps : Silahkan mempelai wanita untuk memasangkan cincin (Nara menyerahkan satu cincin pada ku)

__ADS_1


Ara : Dante Araujo, cincin ini aku berikan padamu sebagai lambang cinta kasih dan kesetiaanku (Aku memasangkan cincin itu ke jari manis Mas Dante).


Ps : Silahkan mempelai pria untuk mencium mempelai wanita.


Mas Dante mengecup keningku dengan sayang. Aku meresapi ciuman hangat itu. Semoga aku bahagia kali ini.


'Terima kasih Tuhan. Jadikan aku istri yang berbakti pada suami dan anakku.'


"Selamat kalian berdua sudah sah menjadi pasangan suami istri. Ingat jangan ada kata pisah kalian sudah berjanji dihadapan Tuhan dan para saksi. Semoga langgeng sampai maut memisahkan kalian. Jadilah keluarga yang berpondasi pada kebenaran firman Tuhan," ucap sang Pendeta menasihati kami.


"Terima kasih Pak Pendeta."


Acara dilanjutkan dengan resepsi pernikahan. Sebenarnya aku meminta Mas Dante agar acaranya sederhana saja dan tidak perlu mewah. Tapi Mas Dante malah ingin acara ini mewah, kata nya ini adalah moment sekali seumur hidup.


Para tamu undangan berdatangan. Entah berapa ribu undangan yang tersebar. Terlihat banyak para abdi Negara teman Divta serta rekan bisnis Mas Dante.


"Dante. Ara. Selamat yaa." Mama memeluk kami berdua secara bergantian.


"Terima kasih Ma," jawab kami berdua bersamaan.


"Son selamat," Papa juga memberikan pelukan hangat nya pada Mas Dante.


"Terima kasih Pa," balas Mas Dante.


"Senja."


"Papa." Aku mengecup punggung tangan lelaki yang sudah ku anggap seperti Ayah ku sendiri


"Semoga bahagia ya. Papa titip Dante sama Tata," pesan Papa.


"Iya Pa. Makasih ya Pa," sahut ku dengan mataku berkaca-kaca.


Papa tersenyum. Pria paruh baya ini memang selalu baik padaku. Dari pertama aku masuk kedalam kehidupan Mas Dante dan Tata, Papa selalu mensupport aku dan hingga aku sah menjadi istri Mas Dante

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2