Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 04. Chapter 18.


__ADS_3

Aku bertahan karena menanti kedatangan mu. Kuatkan aku demi menyambut mu. Pegang tanganku saat aku merasa lelah, aku ingin bersamamu untuk waktu yang lama.


######


Kemoterapi atau kemo bekerja dengan cara menghentikan pertumbuhan sel kanker yang bersarang dalam tubuh. Meski pengobatan ini dapat mencegah sel kanker atau tumor, kemoterapi juga memiliki efek samping yang tidak sedikit.


Jenis pengobatan kemoterapi yang diberikan akan tergantung pada jenis, lokasi, stadium, penyebaran sel kanker dan tumor dan kondisi kesehatan pasien tumor.


Efek samping yang ditumbulkan dari kemoterapi juga berbeda-beda, yaitu ada yang bersifat ringan dan ada juga yang memerlukan penanganan khusus dari dokter.


Aku sudah berada diruang kemoterapi. Beberapa selang mengalir di bagian tubuhku, seperti tangan, dada dan ada juga oksigen yang menempel di hidung untuk membantu pernapasanku.


Aku ditemani oleh Kak Galaksi karena tidak boleh ada lebih dari satu orang yang menjagaku itu akan menganggu konsentrasi pasien. Sementara Anggi menunggu di luar. Sekarang, aku hanya memasrahkan diriku pada takdir dan kehendak Tuhan.


Dokter Novi memilih pengobatan suntik, karena kondisiku yang semakin menurun, apalagi dalam kondisi hamil begini.


Selang darah juga mengalir di tanganku. Tubuku seperti disiksa oleh alat-alat medis itu. Jujur saja aku kesakitan. Tetapi apa boleh buat demi mempertahankan nyawa dan kehidupan yang aku inginkan.


Obat kemoterapi disuntikan pada bagian otot atau lapisan lemak. Misalnya lengan paha atau perut. Dokter Novi menyuntikan obat itu melalui otot pahaku.


"Bagaimana, Dok?" tanya Kak Galaksi menatap wajahku. Aku malah tersenyum simpul.


Dokter Novi menghela nafas, "Kita akan lihat prosesnya, ini tidak lama. Memang sedikit menyakiti Bu Arin akan tetapi dia akan lebih baik nanti, Dok," jelas Dokter Novi.


Saat ini hanya ada Kak Galaksi dan Dokter Novi serta beberapa perawat yang ikut bersama Dokter Novi untuk membantu dia melakukan tugasnya, agar kemoterapiku kali ini berhasil.


"Kemoterapi ini akan membantu memperkecil ukuran tumor kanker dan meringankan rasa sakit," jelas Dokter Novi.


"Mencegah penyebaran, memperlambat pertumbuhan, sekaligus menghancurkan sel kanker yang berkembang ke bagian tubuh lain (metastasis)."


"Menghancurkan semua sel kanker hingga sempurna dan mencegah kekambuhan kanker."


"Lalu apakah menyembuhkan?" tanya Kak Galaksi dia masih dia mengenggam tanganku erat. Dentingan alat pendeteksi jantung mengema diruangan itu. Aku memejamkan mataku takut, seolah aku tidur.

__ADS_1


"Kita hanya bisa menyerahkan pada Tuhan, Dok," sahut Dokter Novi.


"Ada beberap metode pengobatan kemoterapi, dan semoga saja ini tidak berbahaya untuk Bu Arin," tutur Dokter Novi.


Dokter menjelaskan beberapa metode kemoterapi yang akan akan dijalani oleh ku. Dan apa-apa saja resiko bagi tubuhku. Sedangkan aku hanya bisa berharap dalam doa dan harapan, barangkali Tuhan kasihan padaku lalu memberikan satu kesempatan lagi.


Sejenak aku ingat, bagaimana kemarin Kak Al dan Kak El mengusirku dari rumah. Mereka bahkan mengatakan tidak ingin memiliki adik sepertiku lagi. Keinginan mereka itu akan terwujud setelah aku tak lagi menjadi bagian dari penghuni bumi ini.


Mataku terbuka saat merasakan usapan lembut Kak Galaksi pada tanganku. Aku tersenyum menatap wajah khawatirnya. Dia kakak iparku tetapi sangat baik bahkan melebihi suamiku. Aku sudah dua hari tidak pulang ke rumah karena kemoterapi ini. Namun, sampai sekarang suamiku sama sekali tidak berniat mencariku. Hal ini semakin membuat aku sadar, bahwa dia memang tidak menginginkan aku ada. Sekalipun aku mati dan meninggalkan dunia ini, dia tetap takkan peduli. Baginya, aku hanya perempuan murahan yang tak pantas mendapat kesempatan untuk berubah.


"Arin." Kak Galaksi mengenggam tanganku.


"Kamu harus kuat. Saya akan selalu menemani mu." Aku tersenyum mendengar ucapannya. Kenapa aku jadi rindu Mas Angga? Aku berharap Mas Angga bangun nanti setelah aku tidak ada.


"Terima kasih, Kak. Maaf Arin merepotkan."


"Sama sekali tidak, Rin. Kamu jangan berpikir yang aneh-aneh ya dan fokus pada kesehatan."


*


*


#######


Kemoterapi merupakan pengobatan kanker dan tumor yang efektif menyelamatkan jutaan jiwa. Namun, dibalik itu kemoterapi juga memiliki efek samping yang beragam.


Efek kemoterapi bisa berbeda-beda pada setiap orang, termasuk tingkat keparahan nya. Efek samping ini muncul karena obat-obatan tersebut memiliki tidak memiliki kemampuan untuk membedakan sel kanker dan sel sehat.


Aku tengah duduk di brangkar rumah sakit. Di depanku ada meja kecil, di meja itu ada selembar dan pensil.


Jari lentikku menari dengan lihai, wajahnya tampak serius seakan tak ingin diganggu oleh siapapun.


Rambut panjang yang dulu menjadi kebanggaanku, kini hanya kepala plontos yang terlihat polos. Kaca mata tebal minus juga bertengger dihidung mancungku. Aku yang tak pernah memakai kacamata sebelumnya diharuskan memakai benda itu.

__ADS_1


"Arin."


Tanganku terhenti ketika merasa ada yang memanggil namanya dan menoleh kearah pintu masuk.


Aku tersenyum hangat lalu meletakan pensil dan kertas tersebut.


"Kak Arin."


Anggi langsung berlari kearah arahku. Dia naik ke atas ranjang.


"Rindu," renggeknya bergelayut manja di pelukkanku


Aku mengusap punggung Anggi dengan sayang. Sudah beberapa hari sejak kemoterapi aku tidak bertemu dengan adik iparku itu.


"Bagaimana keadaan Kakak?" tanya Anggi melepaskan pelukanku.


"Kakak baik, Ngi."


Anggi tersenyum simpul melihat kepalaku yang plontos tanpa rambut. Sekarang, aku benar-benar akan tinggal di sini untuk beberapa waktu. Tidak ada keluarga yang tahu selain Kak Galaksi dan Anggi. Aku memang melarang mereka mengatakan pada siapapun tentang sakitku. Aku tak apa. Aku baik-baik saja. Aku tak ingin orang kasihan padaku hanya karena aku sakit. Apalagi aku di cap perempuan murahan.


"Bagaimana keadaan Mas Angga?" tanyaku.


Mas Angga di rawat di rumah mewah yang dia belikan untukku. Entah, kenapa dia tidak mau orang tahu bahwa dia sedang koma dan terbaring lemah di brangkar rumah sakit?


"Kakak kalau aku lihat Mas Angga, harus semangat sembuh!" seru Anggi. "Mas Angga baik-baik saja, Kak. Seperti biasa dia masih betah tidur dan tidak mau bangun," celetuk Anggi.


Aku terkekeh pelan. Gadis muda ini memperlakukan aku dengan baik. Kak Galaksi dan Anggi sangat memperhatikan kehamilanku. Bahkan mereka selalu siaga menjaga aku.


"Hai, apa kabar keponakan Tante Anggi. Kalau cewek pasti cakep seperti tante-nya," celetuk Anggi mengusap perutku.


"Aku cowok, Tante," ucapku menirukan suara anak kecil yang berhasil membuat Anggi tertawa pelan.


Aku tersenyum melihat Anggi yang tampak berbicara dengan calon bayiku. Usia kandunganku memasuki bulan ke-enam. Aku semakin tak sabar menanti kedatangannya. Bolehkah? Tuhan berikan aku satu kesempatan untuk menyambut kelahirannya nanti tanpa harus menghilangkan nyawaku dulu.

__ADS_1


Kemoterapi ini tidak menyelamatkan dan hanya memajangkan usia sesat saja. Pada akhirnya aku akan tetap pergi meninggalkan dunia yang kejam ini.


Bersambung.


__ADS_2