Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 04. Chapter 34.


__ADS_3

Aku tersenyum mendengar ucapan Mas Angga. Sayang semua tidak seperti dulu lagi. Perasaan yang dulu menggebu di dalam dada kini sebatas kenang yang layak di bawa pulang.


"Mas." Aku menatap mantan calon suamiku tersebut. Andai kami jadi menikah kala itu, semua pasti tidak akan seperti ini.


"Iya, Rin." Mas Angga mengenggam tanganku. "Kenapa?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca. Bisa kulihat semburat kekhawatiran dan kehancuran yang tercetak jelas di raut wajah dan tatapan matanya.


"Arin titip anak-anak ya, Mas. Sayangi mereka dan persiapkan masa depan untuk mereka. Arin tidak mau mereka menderita seperti Arin," mohonku menatap lelaki ini. Tak ada lagi getaran rasa seperti dulu, semua perasaan itu telah di borong oleh suamiku dan aku sama sekali tidak bisa berpaling dari dirinya.


Mata Mas Angga berkaca-kaca. Aku tahu lelaki ini sangat mencintai aku dan masih mencintaiku. Tetapi aku minta maaf, bukan aku ingin berkhianat. Perasaanku sudah tak bisa lagi dia miliki.


"Arin, bertahanlah demi anak kita. Mas tidak mau kehilangan kamu lagi. Walau Mas tidak bisa memiliki kamu tapi Mas bahagia kamu sama Naro," ucapnya terdengar lirih.


Ke manapun seseorang pergi dia tidak akan bisa menghindari yang namanya kematian. Hal itu akan tiba sekalipun berusaha berlari sejuah sepuluh kilo mill untuk menghindarinya. Tetap saja dia akan mengejar. Lalu aku? Aku tak ingin berlari menghindarinnya karena sekuat apapun aku mencoba pergi dari kenyataan. Dia akan tetap datang menghampiri jika waktunya sudah tiba.


Hidup ini hanya sementara. Tidak ada yang abadi termasuk kebersamaan. Walau aku menolak pada takdir Tuhan karena harus pergi di saat semua kehidupanku membaik. Aku takut, aku benar-benar takut berada di tempat yang asing dan dingin. Di sana aku akan sendirian tanpa siapapun. Tanpa Papa, Mama, Kak Al, Kak El, Mas Angga, Anggi, Kak Galaksi dan suamiku tersayang, Kak Naro. Aku benar-benar akan sendirian sepanjang masa.


Bohong jika aku tidak takut. Bohong jika aku terlihat baik-baik saja. Aku tidak baik-baik saja. Aku ketakutan. Aku ingin merayu Tuhan agar memanjangkan usiaku sesaat, setidaknya melihat senyuman terakhir ketiga anakku. Namun, bagaimana jika aku sendiri tak mampu menghindari hal tersebut?


"Mas, waktu Arin sudah selesai. Saatnya Arin pergi dan meninggalkan dunia ini. Mas harus janji sama Arin, bahwa Mas akan menjaga dan merawat anak kita dengan baik," ucapku.


Andai ada yang paham betapa aku menderita karena penyakit ini. Bahkan aku sudah tak mampu bergerak selain berbaring menyamping dengan perut besar tersebut. Rasa sakitnya tidak bisa aku jelaskan dengan kata-kata. Seluruh tubuhku seperti mati rasa. Partikel-partikel syaraf itu seperti terjepit dan lumpuh seketika.

__ADS_1


"Tidak, Arin. Kamu pasti bisa bertahan. Apa kamu tidak ingin melihat anak kita? Mereka masih membutuhkan kamu. Bagaimana nasib mereka nanti hidup tanpa seorang ibu?"


Air mata Mas Angga luruh begitu saja membasahi pipi tampannya. Ibu mana yang tak ingin melihat anaknya tumbuh? Termasuk aku. Aku tak hanya ingin menyambut kedatangan mereka tetapi aku juga ingin tumbuh bersama mereka hingga dewasa nanti. Tetapi apa boleh buat? Tugasku cukup sampai di sini dan semua yang aku lakukan di dunia sudah ada tanggal jatuh temponya. Aku tidak bisa melewati tanggal itu, karena saat itulah aku akan pergi meninggalkan dunia ini.


"Mas, penyakit Arin sudah komplikasi. Kemungkinan operasi ini berhasil hanya 30%. Itu juga untuk anak-anak kita. Arin bahagia Mas bisa memperjuangkan mereka di tengah kematian."


Untuk membuka matanya saja rasanya perih. Efek kemoterapi beberapa bulan lalu masih ada. Paru-paru basah, infeksi mata, gagal ginjal dan bintik-bintik merah di kulit. Sebab itulah aku berhenti kemoterapi karena tidak mau nantinya malah akan berakibat pada keselamatan ketiga bayi kembarku. Biarkan saja kanker ini membunuh tubuhku perlahan asal anak-anakku bisa selamat.


"Arin."


Tangis Mas Angga pecah sambil memeluk yang terbaring. Raung dan jeritan masih terdengar jelas ketika aku memejamkan mata karena sudah tak tahan dengan rasa sakit ini.


"Jangan tinggalkan Mas, Arin. Mas tidak bisa hidup tanpa kamu. Tolong bertahan, Mas masih butuh kamu buat anak-anak. Mas tidak sanggup merawat mereka seorang diri."


Suara Mas Angga masih terdengar jelas di telingaku. Tetapi aku sudah tak mampu lagi membuka mata. Rasanya kepalaku berat dengan denyut-denyut yang menghantam di dalam sana. Kata dokter, ada cairan yang pecah di bagian kepalaku hingga memasuki otak vital dan aku sempat mengalami pendarahan otak kanan beberapa waktu lalu. Rasa sakitnya, mungkin tak bisa ku gambarkan lewat apapun karena aku belum pernah merasakan rasa sakit seperti ini.


"Maafkan Mas yang sudah meninggalkan kamu di hari pernikahan kita. Maafkan Mas yang sudah meminta Naro menikahi kamu. Mas hanya tidak mau kamu hamil tanpa suami. Mas tidak mau kamu menjadi bahan omongan orang-orang."


Mas Angga salah, sekalipun aku dinikahi oleh Kak Naro. Tatapan orang-orang terhadapku sama sekali tak berubah. Aku tetap saja seorang wanita murahan yang dengan bodohnya mau menyerahkan tubuh pada lelaki yang notabene bukan suami sendiri.


"Arin, buka mata kamu. Jangan buat Mas panik," desak Mas Angga.

__ADS_1


Aku masih mendengar semua apa yang Mas Angga katakan. Tetapi aku tak bisa membuka mataku lagi karena terasa berat dan perih. Ahh, apakah memang begini jika mau mati? Bolehkah aku putar arah dan kembali lagi di kehidupan yang sebelumnya.


"Arin."


Mas Angga memeluk tubuhku yang sudah lemah. Aku bahkan tak bisa lagi merasakan pelukannya. Tubuhku benar-benar mati rasa dan tak terasa.


"Mas mencintai kamu. Andai waktu itu Mas tidak kecelakaan, kita pasti akan bersama selamanya."


Semua kejadian tentu ada hikmahnya. Kecelakaan yang Mas Angga alami juga sudah tertakdir. Pernikahanku dan Kak Naro juga sudah tertulis di kitab kehidupan sebelum dunia dijadikan. Jadi, tidak ada yang perlu di sesali oleh apapun. Dunia akan berputar pada porosnya dan memporak-porandakan kehidupan manusia.


"Arin."


Kudengar suara Kak Naro setengah berlari masuk ke dalam ruangan. Mendengar suara suami yang aku cintai sontak mata yang tadinya berat untuk di buka langsung saja menyambut wajah tampan suamiku yang menangis.


"Arin, bertahan, Sayang."


Di dalam kelemahan dan tubuh yang sudah tak bisa merasakan apapun, ku ulurkan tangan mengusap wajah tampan suami tuaku ini. Perbedaan usia kami 11 tahun. Jelas dia jauh lebih tua dari aku.


"Ak-ku me-nc-inta-imu. Ak-ku pa-m-it, Kak."


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2