
Akhirnya aku belajar melepaskan Mas Gevan, bukan karena aku tidak lagi mencintainya. Bukan juga karena sayangku sudah habis di dalam hati. Namun, aku sadar, mencintainya sendirian bukanlah cinta yang wajar. Aku dibunuh debar-debar dada dan kecemasan akan kenangan berselimut luka. Itulah mengapa aku mulai belajar melepaskan. Sebab, aku tahu cinta terbaik akan selalu pulang tetapi jika Mas Gevan tak kunjung datang, barangkali dia memang di takdirkan sebatas kisah yang hanya layak tersimpan sebagai kenang.
Mas Gevan harusnya paham dan mengerti, berbulan-bulan aku bertahan. Aku menjadi separuh waras. Mendekati sakau. Dia tahu tetapi seperti setengah hati dan membiarkan aku menyerah pada waktunya. Dia tidak mampu menyakinkan aku seperti aku memperjuangkan dan mempertahankannya. Aku tidak akan menyesalkan apapun atas perlakuannya. Aku paham, aku yang teramat cinta padanya. Perasaan ini yang terlalu sulit kupatahkan, meski hatiku sudah dikalahkan. Dia tetaplah seseorang yang kucintai dengan sangat. Seseorang yang pernah mengalirkan air maga hangat. Mas Gevan tetaplah cintaku. Kesungguhan atas hidup yang kurindu, meski terasa pilu saat mengingatnya.
Suamiku Mas Gevan, separuh jiwaku masihlah mengendap di sisa pekukku. Di sisa kecupan lembut yang pelan-pelan menghabisiku. Dia tetaplah menjadi seseorang yang kukenal dengan kuat. Jangan menyerah menghadapi hidup. Kini kubiarkan dia berjalan menjauh. Namun, aku tak pernah benar-benar melepaskan jiwanya yang mengikat jiwaku. Dia tak pernah benar-benar bisa kuhapuskan dari ingatanku. Hanya saja, aku paham, aku memang hayis belajar bahagia lagi. Aku harus mampu menenangkan kecemasan. Aku harus mampu belajar bahwa kenyataan kini sedang memporak-porandakan pertahanan yang kubangun untuk mencintaiku.
Berat memang melalui semua hal yang baru dengan mengesampingkan masa lalu. Namun, jika aku benar percaya pada apa yang aku cintai hari ini, tak akan ada masalah dengan semua itu. Karena memang, terkadang hal-hal yang mungkin mendatangkan ingatan harus dibuang dengan dihabiskan paksa. Untuk apa mempertahankan sesuatu yang bisa mendatangkan luka. Jika benar yakin yang di punya hati ini adalah cinta sebenarnya. Satu hal yang di pahami; bahwa aku mungkin tak bisa membawa kenangan kepada hal-hal yang pernah aku punya di masa lalu. Namun, aku pasti bisa membawa kisah yang belum pernah Mas Gevan punya sebelumnya.
"Kak Naro."
Aku dan Mas Rey turun dari mobil. Segera aku berjalan ke arah kakakku.
"Tata."
Aku berhambur memeluk Kak Naro. Aku tahu dia tak baik-baik saja. Bagaimanapun kuatnya seseorang takkan siap jika harus bertemu dengan cinta lamanya. Apalagi dia pernah dilukai oleh wanita yang sangat di cintai.
"Kakak yang kuat." Aku mengusap punggung Kak Naro.
Kak Naro memelukku erat. Sebenarnya dia tidak mau datang ke sini menemui Kak Sherly tetapi aku memaksa karena ini benar-benar penting dan mendadak. Aku takut terjadi sesuatu.
Aku melepaskan pelukan Kak Naro dja tersenyum hangat pada kakakku yang tampan ini. Kami tak sedarah tetapi saling menyayangi satu sama lain. Walau beda ayah dan ibu tetapi kami saling mendukung satu sama lain tanpa membeda-bedakan.
"Ayo, Kak."
"Tapi----"
"Semua akan baik-baik saja, Kakak. Ada Tata," ucapku menyakinkan Kak Naro.
"Ayo," ajak Kak Naro.
Kami bertiga masuk. Aku bergelayut manja di lengan kekar kakakku. Aku tahu dia tak baik-baik saja tetapi aku percaya Kak Naro akan kuat menghadapi ini semua.
__ADS_1
Kami masuk ke dalam ruangan Kak Sherly. Tampak dia tengah terpejam dengan tenang bersama dentingan pendeteksi jantung yang terdengar menggema di dalam ruangan ICU tersebut.
"Sherly."
Mendengar panggilan Kak Naro. Sontak mata Kak Sherly terbuka lebar. Dia melihat ke arah kami dengan senyuman lebar.
"Naro." Dia tersenyum.
Kak Naro berjalan pelan dan mendekat sembari mengenggam tanganku. Aku tahu dia tak sepenuhnya sanggup, apalagi rasa sakit di dada masih menjalar di seluruh tubuhnya. Kakakku sudah dia kali merasakan kehilangan hal tersebut seperti membuatnya trauma menjalani hubungan dengan para wanita.
"Apa kabar?"
*
*
Aku dan Mas Rey duduk di ruang tunggu depan ruangan Kak Sherly. Sementara di dalam Kak Naro sedang berbicara dengan mantan kekasihnya itu. Entah apa yang mereka bicarakan sehingga Kak Sherly meminta ruangnya dengan Kak Naro.
"Iya. Beberapa tahun lalu setelah dia putus dari Yosua," jawab Mas Rey.
"Yosua?" ulangku. Nama itu seperti tak asing dan aku pernah mendengarnya tetapi di mana ya?
"Teman dekat Naro," jawab Mas Rey.
"Iya, Mas. Aku pernah dengar nama itu. Tapi lupa di mana," sahutku.
Mas Rey tampak menghela napas panjang.
"Aku sebenarnya tidak mencintai Sherly," aku Mas Rey.
Aku mendelik ke arahnya. Tidak mencintai Kak Sherly? Apa maksudnya? Beberapa bulan yang lalu sebelum aku dekat dengan Mas Rey dia mengatakan sangat mencintai wanita itu. Lalu kenapa sekarang malah berubah pikiran?
__ADS_1
"Tidak mencintai Kak Sherly?" ulangku dengan kening mengerut heran.
"Semua permintaan kedua orang tua Sherly," jawab Mas Rey.
"Mas aku masih belum paham. Kemarin Mas bilang cinta banget sama Kak Sherly dan bahkan sampai mau menikah tapi kenapa sekarang Mas malah bilang tidak mencintai Kak Sherly?" cecarku. Bagaimana aku tak bingung? Kemarin dia mengatakan cinta kenapa sekarang malah tidak?
"Sherly pernah hamil dengan Yoshua. Setelah itu mereka menikah dan tiba-tiba di belakang Sherly Yosua selingkuh dan sampai menghamili wanita lain. Sherly depresi dengan usia kehamilan yang sudah membesar dan karena aku dekat dengan Sherly sejak kecil jadi orang tua nya meminta aku menikahi Sherly setelah dia melahirkan. Namun, sayang anak Sherly tidak tertolong. Bayinya meninggal ketika lahir karena kekurangan cairan. Setelah melahirkan Sherly di vonis menderita kanker dan sampai sekarang sudah berlalu sekian tahun, aku belum bisa mencintai Sherly," jelas Mas Rey panjang lebar.
Aku manggut-manggut. Walau tak sepenuhnya paham pada apa yang di jelaskan oleh Mas Rey.
"Apa Mas tidak mencoba membuka hati untuk Kak Sherly?" tanyaku.
"Sudah, tapi tidak bisa. Karena aku masih memikirkan seseorang di masa lalu," sahut Mas Rey.
"Sabar ya, Mas." Aku mengusap bahunya. "Eh, kenapa Mas tidak jadi menikah dengan Kak Sherly?" tanyaku.
"Sherly tidak mau karena dia tahu kalau aku tidak mencintainya," sahut Mas Rey lagi.
Aku masih ingat beberapa waktu lalu Kak Sherly meminta aku menggantikan dia menikah dengan Mas Rey. Tentu saja aku menolak apalagi kala itu statusku masih bersuami.
"Aku tidak tahu jika ceritanya begitu, Mas," ucapku.
"Iya begitulah."
"Tapi aku lihat Mas tulus banget rawat Kak Shery?" tanyaku lagi.
"Aku sudah anggap dia sebagai adik aku sendiri. Apalagi sejak kecil kami berteman. Jadi, sudah seperti saudara," jelas Mas Rey.
"Jadi, bagaimana dengan gaun penggantin yang sudah aku rancang itu, Mas?"
Bersambung...
__ADS_1