Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
S2. Kecemburuan Divta.


__ADS_3

"Eh, Nak Rein," sapa Melly yang terkejut ketika melihat Rein tiba-tiba ada dirumahnya.


"Ayo, silakan masuk," ajaknya.


"Iya Tante," jawab Rein.


Rein berjalan masuk ke dalam rumah mewah Divta. Foto-foto lelaki itu terpampang di berbagai sudut ruangan. Foto pengangkatan dirinya naik jabatan dan masih banyak lagi.


"Tari-nya ada, Tante?" tanya Rein. Tujuan dia datang kesini memang bertemu dan menjemput Mentari.


"Ada apa ya, Rein?" Melly menatap penuh selidik lelaki tersebut.


"Saya di suruh Mama untuk jemput Tari, Tante," jawab Rein lagi.


"Lho, Tante juga nanti mau ke rumahmu," sahut Melly.


"Iya Tante," sahut Rein tersimpul.


Lelaki itu celingak-celinguk mencari keberadaan Mentari. Entahlah, mudah sekali dia merindukan sosok Mentari yang lemah lembut dan apa adanya itu.


Tidak lama kemudian Divta keluar dengan jas lengkap di tubuhnya. Lelaki ini jarang memakai pakaian casual seperti yang itu tetapi saat dia memakainya aura ketampanan terlihat begitu menyilaukan mata.


Kening Divta mengerut ketika melihat Rein yang sudah duduk dengan nyaman di sofa bersama ayah dan ibunya.


"Ada apa kamu ke sini?" tanya Rein tidak suka.


"Saya mau jemput Tari, Pak," jawab Rein sopan yang tidak mau mencari keributan dengan Divta.


"Kenapa harus di jemput?"


"Saya di suruh Mama, Pak," jawab Rein lagi memaksakan senyumnya.


Ferdy geleng-geleng kepala saja sambil tersenyum simpul. Terlihat sekali jika anak lelakinya itu sedang marah karena mungkin cemburu. Sebagai seorang laki-laki yang pernah muda dan jatuh cinta tentu Ferdy memahami perasaan dan kecemburuan di hati Divta.


"Kak Rein."


Mereka semua menoleh kearah Mentari. Sejak kemarin Rein memang sudah berjanji akan menjemputnya. Sebenarnya Mentari ingin menolak tetapi karena Dona yang meminta dirinya tidak mungkin bisa membantah.


"Tari."


Divta dan Rein terpesona dengan penampilan Mentari malam ini. Gaun sederhana yang di berikan Dona padanya terlihat pas di tubuh ramping sang gadis.


"Tari," sambut Rein tersenyum damba.

__ADS_1


Sementara Divta menampilkan wajah tak suka. Sebenarnya dia ingin mengatakan tentang hubungan mereka berdua tetapi Mentari melarang karena dia belum siap ketika Melly tahu bahwa dirinya menjadi kekasih dari anaknya itu.


"Kamu cantik sekali, Tari," puji Rein.


"Terima kasih, Kak," sahut Mentari.


Setelah berpamitan keduanya berangkat duluan. Jujur saja sebenarnya Mentari tak nyaman apalagi melihat wajah Divta yang dingin. Tetapi inilah yang terbaik untuk mereka karena Mentari takut Divta malah bermasalah karena dirinya.


'Mas Divta pasti kecewa,' batin Mentari.


"Tari, kenapa diam?" Rein melirik gadis tersebut.


"Aku gugup, Kak," jawab gadis itu menteralisir detak jantungnya.


Mentari masih belum paham kenapa ibu Rein sangat baik padanya sampai mengirim gaun untuk dia pakai di acara ulang tahun tersebut. Walau dalam pikiran bertanya-tanya tetapi dia tidak mau menimbulkan curiga.


"Tidak usah gugup. Mama orangnya baik kok," sahut Rein. "Kata Mama sekalian mau umumkan perjodohan antara Kak Audrey dan Pak Divta," sambungnya.


Deg


Jantung Mentari berdetak kencang ketika Rein mengatakan bahwa Divta dan Audrey akan di jodohkan. Gadis itu berusaha menahan sesuatu yang terasa bergejolak di dalam sana. Air mata yang tak ingin dia keluarkan. Dia harus sadar diri untuk tidak berharap lebih tentang hubungannya dan Divta.


"Perjodohan?" ulang Mentari sekali lagi.


Mentari nengangguk dan tersenyum kecut. Hatinya teriris sakit ketika mendengar kenyataan tersebut. Harusnya Mentari sudah tahu resikonya bahwa dia dan Divta memang tidak akan bisa bersama.


"Tari," panggil Rein.


"Iya Kak?" Gadis cantik itu tersenyum pada lelaki yang ada di sampingnya.


"Aku berharap kita lebih dari teman." Ini bukan pertama kalinya Rein berharap lebih tentang hubungan mereka. Bahkan dia sudah pernah di tolak oleh Mentari tetapi dia tetap keukeh memperjuangkan gadis tersebut.


"Lebih dari teman?" ulang Mentari.


.


.


Sepanjang jalan Divta hanya diam saja dengan wajah dinginnya tanpa peduli pada celotehan Melly yang memamerkan Audrey.


"Pokoknya nanti kalau kalian menikah, Mama ingin souvernir yang mahal," ucap Melly yang sudah membayangkan pernikahan anaknya.


"Aku tidak akan menikah dengan Audrey, Ma," tolak Divta. Dia hanya ingin menikah dengan gadis bernama Mentari. Baginya gadis itulah yang cocok menjadi pendamping hidupnya.

__ADS_1


"Kenapa?" Melly memincingkan matanya curiga. "Apa karena gadis kampung itu?" tanya Melly lagi menatap Divta dengan tajam.


"Aku mencintainya, Ma," jawab Divta.


"Hoh, ayolah Divta. Seorang abdi negara menyukai gadis miskin dari kampung seperti Mentari?!" Melly geleng-geleng kepala salut.


"Masih banyak wanita di luar sana yang cocok bersanding dengan kamu," sambungnya.


"Mama tidak akan pernah merestui hubungan kalian! Camkan itu," ucap Melly tegas pada putranya.


Dia bukan mau mengatur hidup anaknya tetapi dia ingin anaknya itu mendapatkan pasangan terbaik. Sebab Divta pernah gagal sebelumnya karena pilihannya sendiri dan Melly tidak mau hal itu terjadi lagi.


Divta tak menjawab dia tetap fokus menyetir. Sebenarnya dia malas sekali ikut ke acar yang seperti ini kalau bukan karena Mentari. Divta takkan biarkan Rein mengambil kesempatan untuk mendekati kekasih kecilnya tersebut.


Mobil yang mereka tumpangi memasuki pekarangan rumah mewah Rein. Keduanya turun dari mobil, wajah Divta dingin dan tak bersahabat.


"Ayo, masuk," ajak Melly.


Melly memeluk lengan putranya itu sambil tersenyum. Dia paling suka memamerkan anak lelakinya, selain tampan dan kaya anaknya juga seorang abdi negara dan memiliki jabatan kapten yang tentunya sangat di perhitungkan oleh banyak orang.


Tampak para tamu undangan sudah berdatangan, sejak tadi mata Divta terus menelusuri isi ruangan mencari keberadaan Mentari. Hingga tatapannya tertuju pada Rein yang memeluk lengan Mentari dengan posesif sambil berbincang-bincang dengan Dona.


Rahang Divta seketika mengeras dan tangannya mengepal kuat. Wajahnya merah padam menahan amarah. Jika saja tidak banyak orang, mungkin dia sudah menarik Mentari agar menjauh dari Rein.


"Ayo kita kesana." Melly menarik tangan Divta. Sementara mata Divta hanya tertuju pada Mentari.


"Selamat malam Jeng Dona," sapa Melly.


Hingga obrolan ketiga orang itu terbuyarkan dan mereka kompak melihat kearah Melly dan Divta.


Mentari langsung menunduk dan memeluk lengan Rein. Mungkjn dengan begini dia bisa membuat Divta membencinya. Walau dalam hati dia sama sekali tak berniat menyakiti hati lelaki itu.


"Selamat datang Jeng Melly." Dona memberikan pelukan hangat pada sahabatnya itu.


"Terima kasih sudah di sambut, Jeng," sambut Melly membalas pelukan Dona.


"Selamat ulang tahun, Tante." Divta ikut menyalami tangan Dona.


"Terima kasih, Nak Divta. Kamu tampan sekali malam ini," pujinya terkekeh pelan. Dona juga berharap jika Divta menjadi menantunya nanti.


Divta mengangguk serta memaksakan seulas senyum palsu di bibirnya. Padahal hatinya sudah ingin meneriaki Rein yang berani-berani mendekati kekasih kecilnya.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2