Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Menahan emosi


__ADS_3

Divta POV


Aku berjalan masuk kedalam rumah nya. Rasanya hari ini cukup lelah dan menguras emosi. Apalagi melihat Ara yang diperlakukan seperti tadi, membuat emosiku seketika membuncah didalam dada.


"Baru pulang, Ta?" tanya Mama


"Iya Ma," jawabku langsung duduk disofa.


Kang Ujang membawa koperku masuk. Setelah dari pelabuhan aku langsung menemani Diandra mengambil berkas penting kedua anaknya. Namun, kami harus di kejutkan dengan tindakan Galvin. Aku masih emosi, jika saja bukan Ara yang menahan ku. Sudah kupastikan Galvin berakhir di penjara atas kekerasan nya.


"Lho, tumben kamu lama Ta? Biasanya dari pelabuhan langsung ke rumah?" tanya Papa ikut menimpali.


Setelah berpisah dari Chelsea aku kembali di kediaman kedua orang tua ku. Sebagai anak tua dari dua bersaudara, aku harus menjaga Papa dan Mama. Lagi, untuk mengurus bayi kembar ku. Bukan aku tak percaya dengan babysitter tetapi kedua anakku butuh dipantau.


Mama dengan senang hati menjaga kedua cucu kembarnya. Malah Mama tampak bahagia ketika aku memutuskan tinggal bersama mereka.

__ADS_1


"Aku menemani Ara pulang ke rumah nya," jawabku sambil melepaskan topi dinas dikepalaku. Sebagai kapten aku harus selalu ikut perjalanan dinas untuk memantau pasukan.


"Ara kenapa?" tanya Mama penasaran dan sekaligus panik.


"Tidak apa-apa Ma. Dia hanya mengambil berkas-berkas penting anak nya," jawabku.


Jangan heran jika Mama kenal Ara. Dulu waktu SMA, Ara sering datang ke rumah untuk mengerjakan tugas kelompok bersamaku.


"Bagaimana kondisi anaknya?" sambung Papa.


"Mereka sudah sehat, Pa. Nara masih dalam proses pemulihan," jawabku.


"Ta, kapan-kapan kamu ajak ya Ara main kesini. Sekalian bawa anak-anak nya," ucap Mama.


Aku mengangguk saja. Tak heran jika Mama sedikit memaksa ku dekat dengan wanita. Aku sudah cukup lama menduda. Setelah dikhianati oleh Chelsea, aku seperti tak memiliki rasa untuk memulai hubungan baru dengan wanita lain.

__ADS_1


"Bagaimana kasus kecelakaan anak-anak Ara? Apakah sudah ditemukan siapa pelaku nya?" tanya Papa ikut menimpali.


"Mas Bayu sudah menemukan orang nya, Pa. Tapi dia tidak mau mengatakan siapa," sahutku.


Ya tadi Mas Bayu menghubungi ku bahwa dia sudah menemukan pelaku yang menabrak Nara dan Naro. Aneh nya Mas Bayu tidak mengatakan siapa yang menabrak anak-anak Ara. Mas Bayu mengatakan bahwa pelakunya adalah orang yang sangat aku kenal.


"Memang nya siapa?" tanya Papa penasaran.


"Mas Bayu tidak mengatakan nya Pa. Kata Mas Bayu aku kenal orangnya. Tapi aku tidak tahu siapa?" jelasku. Ya dan aku masih memikirkan ucapan Mas Bayu ditelepon tadi.


"Memangnya kamu tidak ikut menyelidiki nya?" tanya Papa.


Aku menggeleng, "Ara tidak mau aku ikut campur Pa. Katanya biar Mas Bayu saja yang menyelidiki," ucap ku.


Ara memang melarangku untuk menyelidiki kasus ini. Entahlah, aku sendiri tak paham sifat wanita tersebut. Dia memang selalu menolak segala bantuan yang aku berikan. Bahkan saat aku membayar biaya rumah sakit anak-anak nya, Ara malah membayar nya walau dengan mencicil. Padahal aku sudah mengatakan agar tidak perlu dipikirkan masalah uang tersebut.

__ADS_1


Namun, sifat Ara masih tak berubah dia tidak mau bergantung pada orang lain. Sekalipun dia mengenal orang tersebut dengan baik.


Bersambung....


__ADS_2