Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
S2. Ingin tahu


__ADS_3

"Mantan kekasihmu?" Divta melirik Mentari.


"Bukan, Pak. Dia senior ketua BEM," sahut Mentari memaksakan senyum.


"Apa dia menyukaimu sejak lama?" tanya Divta lagi menyelidik. Lelaki tua tampak emosional melihat Mentari di dekati oleh lelaki lain.


"Baru tahu tadi, Pak," jawab Mentari dengan helaan nafas panjang.


Mentari juga tak menyangka jika Rein suka padanya. Dia tidak habis pikir apa yang membuat lelaki itu bisa menyukainya? Jika di lihat dari sisi manapun dirinya hanya gadis biasa yang berasal dari kampung.


"Kau masih memikirkannya?" Nada suara Divta terdengar tak suka.


Mentari tersenyum lalu melihat kearah Divta. Gadis itu menghela nafas panjang.


"Mustahil jika saya tidak menyukainya, Pak. Lelaki sempurna seperti Kak Rein tentu di incar oleh banyak wanita," sahut Mentari menjelaskan.


"Lalu, kenapa di tolak?" tanya Divta ketus. Kenapa ada sesuatu yang panas menelusup masuk ke dalam hatinya?


Mentari tersenyum kecut, "Saya sudah sadar diri duluan Pak. Kak Rein itu anak orang kaya, mana pantas bersanding dengan anak pembantu seperti saya. Saya lebih baik membunuh perasaan saya dari pada membuat dia patah hati karena perpisahan," jelas Mentari yang sudah sadar diri sebelum melangkah jauh.


Divta terdiam dan tidak lagi bertanya. Kenapa dia tidak suka melihat Mentari yang minder seperti itu? Rasanya tak rela saja, padahal Mentari ini memiliki wajah yang menarik serta kemampuan akademik di atas rata-rata.


"Kita mau kemana, Pak?" tanya Mentari memecahkan keheningan setelah cukup lama terdiam.


"Ke rumah mantan mertua saya," jawab Divta singkat padat dan jelas.


Sesampainya di kediaman Chelsea, kedua orang berbeda usia dan jenis kelamin tersebut turun dari mobil.


Divta menghela nafas panjang, dia harus selesaikan masalahnya dengan Chelsea. Jika wanita itu berani mengusik hidupnya lagi, Divta tak segan membawa ini ke jalur hukum karena Chelsea terus mengancam akan mencelakakan siapapun yang mendekati Divta.


"Pak, apa yang akan kita lakukan disini?" tanya Mentari


"Ini tentang mantan istri saya." Divta menarik nafasnya dalam.


.


.


"Mama," teriak Al dan El berlari menyambut Mentari dan Divta.


"Hei," sapa Mentari.

__ADS_1


Jujur saja gadis itu sedikit canggung mendengar namanya di panggil mama oleh dua bocah kembar tersebut. Entah siapa yang meminta kedua anak ini memanggilnya mama?


"Mama baru pulang?" Al memeluk Mentari dengan manja.


Divta merenggut kesal kedua anak itu bukannya menyambut kedatangan dirinya malah memeluk Mentari.


"Iya, Tuan Muda," sahut Mentari.


"Papa tidak di sambut?" singgung Divta.


"Papa."


Kedua anak berusia 4 tahun itu mengulurkan tangannya pada Divta dan meminta lelaki itu menggendongnya.


Mereka berempat berjalan masuk, sekilas terlihat seperti keluarga bahagia. Mentari yang dewasa di usia muda terlihat cocok dengan Divta yang memang sudah berusia.


"Pak, saya mau memandikan Tuan Muda dulu," ucap Mentari meminta izin.


Divta mengangguk. Lalu kedua anak kembar itu menggandeng tangan Mentari dan berjalan masuk ke dalam kamar si kembar.


Divta tersenyum simpul, seandainya dia memiliki istri pasti kedua anaknya akan bahagia karena ada yang mengurus. Tetapi dia harus menyimpan luka, saat kedua anaknya tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu.


"Pa." Divta mendesah lalu ikut duduk seraya melepaskan topinya.


"Tampak kusut? Masalah Chelsea lagi?" tebak Ferdy.


Ferdy sudah paham raut wajah anaknya. Kalau terlihat kusut seperti itu pasti sedang bermasalah dengan mantan istrinya karena Chelsea benar-benar bisa membuat mood Divta hancur.


"Kata ayahnya Chelsea sudah pindah ke Jakarta bersama suami barunya," jelas Divta.


"Berarti sudah aman?"


"Entahlah, semoga saja dia tidak menganggu lagi," sahut Divta jenggah mendengar nama mantan istrinya itu. Dia tidak habis pikir kenapa dulu bisa mencintai Chelsea hingga menikahinya.


"Tari cantik juga, memiliki jiwa keibuan lagi. Boleh," ucap Ferdy terkekeh pelan.


Divta mencebik, "Come on Dad. Dia masih terlalu muda untukku," kilah lelaki itu padahal perasaannya sudah ketar-ketir tak karuan.


"Umur bukan masalah yang penting dia baik," sahut Ferdy. "Belajarlah membuka hati untuk wanita lain, Son. Kau tidak bisa selamanya terjebak dalam perasaan itu. Papa yakin kau akan menemukan yang lebih baik dari Chelsea," nasehatnya lagi.


Divta mendesah pelan sambil menggulung baju dinasnya dan melepaskan beberapa dasi baju tersebut. Dia hanya takut menemukan perempuan yang sama seperti Chelsea. Divta tak mau gagal lagi dan akhirnya menimbulkan luka yang menyayat hati. Untuk kali ini dia ingin bahagia seperti lelaki yang lain.

__ADS_1


"Aku masih belum bisa, Pa. Aku takut," jawab Divta jujur.


Sebenarnya dia sudah berani membuka hati dan bahkan mencintai wanita bernama Ara. Namun, lagi kenyataan selalu tak berpihak padanya. Dia malah di patahkan dengan kenyataan bahwa wanita itu mencintai lelaki lain.


"Bisa. Asal kau mau mencoba saja," sahut Ferdy tersenyum.


"Aku butuh waktu," jawab Divta.


Tak ada hal yang sepele jika berbicara tentang perasaan, jika tak bisa membawa diri maka akan meninggalkan luka yang mendalam.


"Papa harap semoga kau bisa bangkit dan menemukan kebahagiaan yang baru. Kasihan Al dan El, mereka butuh figure seorang ibu," jelas Ferdy memberi semangat dan dia masih berharap jika Divta menikah dan menemukan perempuan yang tepat.


"Aku takut tidak menemukan yang bisa menerima Al dan El," ucap Divta yang tak bisa membendung perasaan khawatirnya.


"Jika kau menemukan perempuan yang tepat, maka dia akan menerima anakmu juga," sahut Ferdy.


"Iya, Pa. Aku masuk kamar dulu mau membersihkan diri," pamit Divta.


Ferdy mengangguk dan menatap punggung putranya. Dia kasihan melihat anaknya yang selalu gagal dalam hubungan percintaan.


"Papa berharap kau bahagia, Son," ucap Ferdy.


Sebagai seorang ayah tentu dia ingin yang terbaik untuk putranya. Apalagi Divta anak satu-satunya.


"Kenapa, Pa?" tanya Melly membawa secangkir teh tanpa gula. Suaminya itu tidak boleh mengkonsumsi yang manis-manis karena gula darahnya naik meningkat.


"Biasanya, memikirkan putra kita," sahut Ferdy.


"Papa, tenang saja. Mama sudah punya calon istri untuk Divta. Anak teman Mama," ucap Melly meletakkan.


"Siapa, Ma?" tanya Ferdy penasaran.


"Itu lho, anaknya Bu Lasmi yang baru lulus ilmu kedokteran di UI, dia lulusan terbaik. Bulan depan dia pulang ke sini karena bertugas di rumah sakit Dokter Langit. Jadi, sekalian Mama mau memperkenalkan dia sama Divta," jelas Melly panjang lebar. Dia sudah membayangkan memiliki menantu seorang dokter cantik dan pintar.


Sebenarnya Melly tidak memilih calon menantunya harus anak orang kaya dan berpendidikan. Dia ingin mencari yang setara dengan anak lelakinya itu.


"Kalau Divta tidak suka jangan di paksa, Ma. Biarkan dia mencari cinta sejatinya sendiri," ucap Ferdy memperingatkan.


"Mama yakin Divta pasti suka!" seru Melly dengan senyuman manis dan sumringah.


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2