
"Maaf." Mira menarik tangannya dengan cepat.
Hal tersebut sukses membuat hati Lintang terasa sakit dengan penolakan wanita yang sangat dia cintai ini.
"Maaf Lintang aku tidak bisa," tolak Mira.
"Ra_"
"Luka yang kau tanamkan di dalam hatiku telah mendarah daging. Apapun alasan yang sudah kau jelaskan tidak akan bisa mengembalikan rasa percayaku. Rasa sakit itu mendominasi pada kecewa. Mungkin aku bisa membuat aku kembali mencintaimu tetapi kau takkan bisa mengembalikan rasa kepercayaan itu," jelas Mira mantap lelaki tersebut.
"Penjelasanmu yang aku dengar hanya menjerumus pada rasa kasihan. Tanpa peduli bahwa di sini aku lah yang menjadi korban."
"Kau tahu, Lintang? Setelah kau pergi aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjalani kehidupanku? Apakah aku mampu hidup tanpamu? Apakah aku sanggup melewati hari-hari berat tanpa hadirmu?"
"Kau tahu? Betapa beratnya aku melewati setiap proses rasa sakit yang menghantam dadaku. Dua orang yang begitu aku percaya dan aku cintai. Tega menancapkan belati di dadaku sehingga membuatnya luka dan mengeluarkan darah." Sambil menunjuk dadanya dengan lelehan bening yang menetes di pipinya.
"Semua rasa sakit itu aku lewati sendiri, Lintang. Pernikahan yang sudah kita persiapkan dengan matang harus gagal hanya karena kau lebih mementingkan perasaan orang lain dengan alasan kasihan. Kau tahu betapa aku dan orang tua ku malu? Aku hidup dalam guncingan orang-orang. Mereka beranggapan bahwa akulah yang wanita yang tidak benar!"
"Kau tahu? Betapa sakitnya menjadi aku, Lintang? Kau pergi tanpa permisi. Kau pergi tanpa pamit. Lalu tiba-tiba kau datang setelah luka ini perlahan membaik. Dengan mudahnya kau meminta aku memberimu kesempatan, segampang itu?" Mira menggeleng sambil menyeka air matanya. Wanita ini selalu tak bisa menahan apa yang mengganjal di dalam dadanya dia berbicara apa adanya dns mengeluarkan semua unek-unek yang terasa mencekik.
"Kau anggap aku apa, Lintang?" Mira menarik keras baju Lintang. "Apa kau punya perasaan? Apa kau pernah memikirkan perasaanku?!" hardiknya.
Semua pengunjung restaurant melihat kearah mereka berdua. Apalagi melihat Mira yang menangis dan Lintang yang terdiam, mereka beranggapan bahwa sepasang kekasih itu tengah bertengkar.
Melepaskan cengkraman tangannya dari kerah baju Lintang. Wanita itu menyeka air matanya dengan kasar.
"Maafkan aku, Mira. Ku mohon berikan aku kesempatan," mohonnya sambil mengenggam tangan wanita itu. Mira berusaha menepis tangan Lintang tetapi lelaki itu malah mengenggamnya kian erat.
Mira menolak dan melepaskan tangan Lintang dengan paksa. Apapun alasannya dia tidak akan mau kembali walau perasaan cinta masih ada di dalam dadanya.
Mira melenggang pergi tanpa peduli jika dirinya menjadi pusat perhatian. Toh orang lain takkan paham apa yang dia rasakan. Hanya dia yang tahu betapa hancur perasaannya saat ini.
Lintang terduduk kembali dengan wajah menunduk sambil mengusap wajahnya. Setetes air mata jatuh di pipi lelaki itu. Dia begitu mencintai Mira dan bahkan lebih dari apapun. Dia menyesal karena mengutamakan orang lain dari pada perasaan Mira.
"Maafkan aku, Mira. Aku tidak bisa melepaskanmu dan aku tidak mau kehilanganmu lagi. Aku akan lakukan apapun agar kau kembali padaku. Aku yakin kau masih mencintaiku," ucapnya sambil menyeka air mata yang jatuh.
__ADS_1
.
.
Mira masuk ke dalam mobil dan menangis segugukan sambil membenamkan wajahnya di stir mobil. Hatinya sakit seperti di remas-remas. Apalagi ketika mendengar penjelasan Lintang. Jika lelaki itu sungguh mencintainya harusnya Lintang menolak walau di paksa berkali-kali.
"Kenapa kau melakukan ini padaku, Lintang? Kenapa?" Mira memukul stir mobilnya berulang kali.
Tok tok tok
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu mobilnya. Wanita itu menyeka air matanya. Dia merenggut kesal, padahal dia sedang ingin menangis. Dengan perasaan kesal Mira membuka kaca mobil.
"Maaf, Bu. Silakan mundur soalnya ada mobil mau keluar!" ucap sang tukang parkir dengan lembut.
Mira mengambil uang di dompetnya untuk membayar biaya parkir.
"Lagi patah hati ya, Bu?" ledek si tukang parkir.
"Tidak. Lagi putus urat nadi," sahut Mira cetus lalu menyalakan mesin mobilnya. Si tukang parkir terkekeh pelan.
Mira menangis hebat di dalam mobil. Dia meluapkan semua rasa yang menyakiti hati dan jiwanya. Tak ada orang yang baik-baik saja ketika bertemu dengan cinta lamanya. Apalagi cinta yang dulu begitu dia bangga-banggakan dan berharap ceritanya akan berakhir bahagia.
"Kau tega, Lintang. Aku sangat membencimu," ucapnya penuh amarah.
.
.
"Ini, Pa. Teh nya." Yanti meletakkan secangkir teh panas tanpa gula.
"Terima kasih, Ma," ucap Marvel meletakkan buku bacaannya.
Yanti duduk di dekat suaminya dengan wajah bingung. Tampak wanita itu sedang berpikir kuat.
"Kenapa, Ma?" tanya Marvel melirik istrinya dengan selidik.
__ADS_1
"Kemarin Mama bertemu, Lintang," jawab Yanti.
Kening Marvel mengerut, "Lintang mantan Mira?" tebaknya.
Yanti mengangguk, "Iya Pa," sahutnya lagi.
"Lalu?" tanya Marvel yang tidak terlalu tertarik membahas lelaki itu. Lintang sudah membuat dia kecewa karena telah mengkhianati putrinya.
"Mama jadi bingung, Pa," ucap Yanti bersandar di bahu suaminya.
"Bingung kenapa?" tanya Marvel yang tidak mengerti dengan pikiran suaminya ini.
"Lintang sudah menjelaskan semuanya sama Mama. Mama jadi kasihan sama dia, Pa," sahut Yanti.
"Menjelaskan?" ulang Marvel.
Yanti mengangguk lalu menjelaskan alasan Lintang meninggalkan Mira. Lintang memang calon menantu kesayangan Mira, apalagi seorang dokter dan memiliki jabatan tinggi dan sangat cocok dengan anaknya Mira.
"Lalu Mama mau Mira kembali lagi sama Lintang?" tanya Marvel tak habis pikir sambil menggelengkan kepalanya.
"Kalau Mira masih mau, Mam setuju kok, Pa. Lagian Mira masih cinta sama Lintang," sahut Yanti. Dia memang menginginkan menantu seperti Lintang.
"Lalu bagaimana dengan Rick?" Marvel jelas tidak setuju jika Lintang ingin kembali menganggu kehidupan putrinya.
"Mira dan Rick 'kan belum saling mencintai," ucap Yanti.
"Ma, itu biar Mira yang pilih. Dia yang lebih tahu mana yang terbaik untuknya," sanggah Marvel.
"Mama yakin, kalau Mira masih mencintai Lintang." Yanti tetap keukeh mengatakan bahwa anaknya masih mencintai mantan yang telah meninggalkannya itu.
Marvel tak menganggapi. Jujur saja jika Lintang datang kembali dan meminta putrinya seperti dulu, dia tidak akan setuju. Sudah cukup Marvel melihat anak perempuannya menangis berhari-hari. Sebagai seorang ayah tentu dia ingin anaknya bahagia. Dia tidak rela jika putrinya di sakiti untuk ke sekian kalinya.
Lintang yang sudah membuat Mira mati rasa. Lalu dengan seenaknya lelaki itu datang dan mengatakan jika masih mencintai putrinya.
Bersambung...
__ADS_1