Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. Melangkah jauh.


__ADS_3

Teruslah melangkah semakin jauh. Biarlah aku menenangkan segala perasaan rapuh. Bagiku, akan selalu ada alasan untuk kembali mencintai diri sendiri. Semoga Mas Bintang bahagia dengan segala yang dia pilih dalam hidup ini. Walau jujur saja perasaan tentangnya tak pernah benar-benar mati. Aku pernah berharap bahwa kami akan kembali utuh meski sudah berpisah cukup lama.


Hidup memang harus berlanjut. Biarlah urai semua semua kepedihan yang kusut. Mas Bintang tak perlu memikirkan apapun perihal aku. Sebab dia takkan akan kuat menjalani bagian dari hidupku. Ini berat sekali. Namun, aku hanya ingin dia bahagia untuk hidupnya nanti. Jika itu yang aku pikirkan terbaik, biarlah ku pulihkan hatiku dengan sengaja ku buat tidak baik lagi. Hati yang dulu mencintainya dengan sungguh, kini dia sungguh-sungguh melukai perasaanku dengan utuh.


"Kakak," panggil Shaka turun dari motor ninjanya.


"Shaka." Aku tersenyum menyambut adik beda ayah tersebut.


Shaka berjalan kearahku. Dia masih memakai seragam sekolah dengan rapi. Adikku yang satu ini memang pembuat onar dan Daddy sering di panggil ke sekolah gara-gara ulahnya yang nakal. Namun, sesungguhnya dia adalah pria baik. Terbukti jika bersamaku dia selalu menurut.


"Apa Kakak sudah lama menunggu? Kak Rimba mana, Kak?" cecar Shaka duduk di bangku sebelah ku.


Jika Naro dan Tata menyukai Kak Rimba maka berbeda dengan Shaka. Sejak awal aku dekat dengan Kak Rimba dia memang tidak menyukai sosok lelaki yang sudah menjadi kekasihku itu.


"Dia ada urusan mendadak," jawabku asal.


"Ck, sesibuk apapun urusan dia. Harusnya dia antar Kakak duluan, 'kan dia yang ajak Kakak ke sini," sahut Shaka tampak kesal.


Aku tersenyum simpul. Apa yang di katakan Shaka memang benar tetapi aku berusaha memahami. Mungkin Kak Rimba benar-benar memiliki urusan mendadak yaitu mengurus anaknya Putri.


"Iya sudah, ayo. Antar Kakak ke cafe. Kamu lapar tidak?" ajakku sambil berdiri dan menggantung tasku di bahu.


"Lapar, Kak. Kebetulan Shaka belum makan siang," jawab Shaka.


"Ayo."


"Kak, apa Kakak tidak kepanasan naik motor? Ini Kakak pakai jacket Shaka saja."


Aku tersenyum hangat ketika Shaka membuka jacket yang dia pakai lalu mengenakannya di tubuhku. Walau baru berusia 15 tahun tetapi tinggi tubuh Shaka di atas rata-rata. Aku tak bisa bayangkan bagaimana tinggi dan besar badannya ketika menginjak usia 20 tahun ke atas.


"Terima kasih adik Kakak yang paling jelek," godaku sambil tersenyum. Sebenarnya ini hanya cara aku menutup luka yang menggores dadaku.


"Ck, adikmu ini paling tampan, Kak. Walau masih jomblo," sergah Shaka yang tak terima jika kukatakan jelas.


"Dih, jangan memikirkan pacar dulu. Sekolah yang benar. Nanti Daddy bisa menggantungmu," ucapku setengah mengancam.

__ADS_1


Daddy memang sedikit keras dengan Shaka. Apalagi adikku ini memang suka sekali berulah. Shaka hanya berani manja padaku.


"Apa Kakak bisa naik?"


"Ck, motormu ini terlalu tinggi," protesku.


"Bukan motornya yang tinggi. Tapi Kakak yang pendek," celetuk Shaka yang berhasil membuatku merenggut kesal.


Aku naik ke atas motor Shaka. Untung saja aku tidak memasuki rok. Kalau aku pakai rok bagaimana caranya aku bisa duduk?


"Peluk Shaka, Kak," teriak Shaka.


"Iya," sahutku.


Kupeluk adikku dari belakang. Entah apa yang adikku ini makan? Di usia 15 tahun saja tubuhnya sudah sebesar ini. Shaka memang sering berolah raga karena cita-citanya ingin menjadi Tentara Angkatan Laut seperti Om Divta.


Aku menatap kosong hangatnya kota Pontianak. Aku masih teringat ucapan Shaka tadi, memang Kak Rimba yang mengajakku ke sini tetapi malah dia yang meninggalkan aku karena kondisi anak Putri yang kritis.


Aku tahu bahagia adalah pilihan, meski sebenarnya tak ada yang benar-benar bisa dipilih oleh manusia. Tak ada satu hal pun yang mampu menjadi sebuah kepastian. Hidup sesungguhnya adalah kumpulan rasa cemas, kumpulan ketakutan yang disamarkan. Kegamangan yang dikuat-kuatkan. Dan perpisahan dengan seseorang yang di cintai membuatku merasa bahwa benar tak ada yang benar-benar setia. Dia sudah menikam jantungku terlalu dalam. Dia benamkan aku dalam perasaan luka terdalam. Dia begitu kejam. Sungguh, aku tak pernah menduga dia mampu membuat semuanya sesakit ini.


"Kakak tidak melamun," kilahku.


"Dih, jangan menyangkal, Kak. Shaka liat dari kaca spion," tukas Shaka.


Aku terkekeh. Adikku yang masih remaja ini memang sangat teliti. Dia selalu memperhatikan hal-hal kecil jika bersangkutan dengan aku.


"Iya."


"Kakak sudah jadian sama Kak Rimba?" tanya Shaka dengan suara keras. Maklum jika naik motor memang tak bisa bicara pelan, apalagi motor aneh seperti adikku ini.


Sejak berpisah dengan Mas Bintang aku memang jarang membawa mobil sendiri. Bahkan hampir tak pernah. Entah kenapa aku seperti masih trauma walau tak ada sangkut pautnya sama sekali.


"Hem." Aku berdehem.


"Dih, jawab, Kak. Jangan hanya hem-hem tidak jelas," protes Shaka.

__ADS_1


Aku tergelak. Setidaknya tawa ini bisa menghibur hatiku yang tak baik-baik saja.


"Iya, Kakak sudah jadian sama Kak Rimba," jawabku.


Seketika Shaka langsung terdiam. Diam, dia yang sibuk bertanya malah memfokuskan dirinya menyetir. Entah kenapa adikku ini? Sebelumnya dia tidak pernah bersikap aneh? Walau tak menyukai Kak Rimba.


Aku kembali melamun dan diam sambil memeluk perut kekar adikku.aku mencoba mencari tempat baru seolah bahagia. Jika memang lukaku pun bukan hal yang dicemaskan. Jalan baru yang kupilih akan membenamkan aku dengan rasa perih. Namun, remuk hati akan kembali pulih. Takkan kubiarkan siapapun membunuh hatiku. Meski aku tahu kematian karena mengobatinya tetap saja hal yang mungkin kutetima. Dendam dan doa akan mengejarnya kemanapun dia pergi. Perasaanku yang terbawa olehnya akan mengutuk dia tak lagi bahagia hingga mati. Huh, apakah ini sumpah karena kekesalan dan kekecewaan hatiku atau doa yang diharapkan terjadi. Harusnya tak boleh begitu tetapi memang itulah kenyataanya. Bahwa rasa sakit bisa mengubah malaikat menjadi iblis pencabut nyawa.


Shaka memarkir motornya di parkiran cafe.


"Pelan-pelan, Kak," tegur Shaka sambil memiringkan motorku. Ini motornya yang tinggi atau aku yang pendek.


"Bisa?"


"Susah," renggekku.


"Ck, Kakak ini sudah besar juga masih saja tidak bisa buka helm sendiri," gerutu Shaka.


Aku cengengesan, dari dulu hingga sekarang aku memang selalu kesusahan membuat helm di kepalaku. Itulah alasan kenapa aku jarang naik motor walau suka.


"Terima kasih, Adik."


Aku merapikan rambutku yang sedikit berantakan karena helm yang dilepas Shaka dari kepalaku.


"Ayo, masuk. Kamu pasti sudah lapar," ajakku.


"Iya, Kak," sahut Shaka.


Kami masuk dengan aku yang memeluk lengan kekar Shaka. Aku selalu suka bermanja-manja, baik pada Shaka, Naro ataupun Tata. Walau begitu aku selalu tegas jika mengenai masa lalu mereka.


"Nara."


Langkahku dan Shaka seketika terhenti ketika mendengar suara memanggil namaku.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2