Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 04. Chapter 15.


__ADS_3

Ariana POV.


"Argh!"


Aku mengunci pintu kamar sembari memegang perutku yang terasa berdenyut sakit.


"Tolong jangan ngedrop!" mohonku sembari merapalkan doa.


Aku duduk dengan pelan di bibir ranjang. Sial, darah lagi-lagi mengalir keluar dari hidungku. Aku tak mau penyakit ini membuat aku kalah dan menyerah pada keadaan.


"Mas Angga."


Aku kembali menangis segugukan ketika mengetahui fakta bahwa Mas Angga lah yang meminta agar Kak Naro menikahiku.


"Kamu lihat sekarang, Mas. Aku tidak bahagia, aku sudah berhasil jatuh cinta pada lelaki itu. Tetapi aku tidak bisa membuatnya menerima aku sebagai istri."


Kubaringkan tubuhku di atas kasur tipis. Malam ini terasa dingin padahal tidak ada AC di dalam kamar kecil ini. Sejak di vonis penyakit mematikan tersebut, kondisi tubuhku rentan terhadap rasa sakit yang seolah membuat tubuhku berhenti bekerja.


Aku menyerahkan hidup ini kepada Sang Pencipta takdir. Jika pada akhirnya aku berakhir dan meninggalkan kehidupan di dunia ini aku pasrah pada keadaan yang meminta ku bertahan dan berjuang di tengah pahitnya kehidupan.


"Papa."


Aku merindukan papa. Hampir empat bulan aku menikah dengan Kak Naro, selama itu juga akan tidak pernah bertemu dengan keluargaku termasuk mama. Kami seperti hilang kontak satu sama lain. Aku sadar diri walau sangat merindukan suasana hati. Ingin rasanya ku telepon mama seperti ketika pertama aku menikah dengan Kak Naro. Tetapi aku takut, malah membuat mama bersedih apalagi jika dia tahu keadaanku yang sebenarnya.


Percakapanku dengan Kak Naro di meja makan tadi membuatku sadar bahwa sampai kapanpun aku tidak akan bisa membuat lelaki itu jatuh cinta padaku.


"Kak, awalnya aku memang tidak memiliki rasa apapun padamu. Tetapi setelah waktu berlaku cukup lama aku merasakan bahwa dadaku berdebar setiap kali melihatmu. Apakah mungkin aku sudah jatuh cinta padamu, Kak?"


"Maaf, bila rasaku ini bukan rasamu. Maaf, bila diam-diam aku berharap dan memintamu pada Tuhan dalam setiap doaku. Sekarang, aku tidak akan mengejarmu lagi, Kak. Cukup sampai di sini kisah cinta yang kuimpikan."


*


*


Aku turun dari mobil taksi. Seperti biasa aku akan menjenguk Mas Angga. Sebelum hari pernikahan kami, Mas Angga mengalami kecelakaan sebelum koma sampai sekarang dia sempat berpesan agar Kak Naro yang menikahiku. Sebenarnya aku ingin marah, kenapa dia harus meminta orang lain untuk menjagaku? Aku tak butuh siapapun, aku hanya ingin bersama Mas Angga dalam waktu lama sebelum akhirnya takdir membawa aku pergi dari dunia ini.


"Arin."


"Kak Galaksi."


Aku tersenyum melihat kearah kakak iparku tersebut. Aku bersyukur di detik terakhir hidupku, masih ada orang yang peduli, yaitu Kak Galaksi. Untung saja Kak Galaksi mau bekerja sama dan tidak mengatakan pada siapapun tentang penyakitku.

__ADS_1


"Kakak sudah makan?"


Ternyata selama ini Kak Galaksi juga tahu masalah Mas Angga, bahkan dia yang merawat mantan tunanganku itu sebelum koma.


"Belum," jawabnya sambil tersenyum.


"Ayo, masuk. Di dalam ada Anggi!" ajak Kak Galaksi.


Mas Angga di rawat di rumah yang dia belikan untukku sebelum kami menikah. Rasanya jantungku berhenti berdetak ketika mendengar hal tersebut.


"Bagaimana kondisi kandungan kamu?" tanya Kak Galaksi.


"Puji Tuhan sehat, Kak." Aku tersenyum sambil mengusap perutku yang setengah membuncit.


Kami masuk ke dalam salah satu kamar. Di sana Mas Angga masih terbaring lemah dengan alat medis yang menempel di bagian tubuhnya yang lain. Seandainya aku tahu sejak awal bahwa Mas Angga kecelakaan aku tidak akan pernah menerima perjodohan antara aku dan Kak Naro, apalagi sampai menikah seperti ini.


"Kak."


Anggi memberikan pelukan hangat padaku. Tidak ada yang tahu tentang Mas Angga selain aku, Kak Galaksi dan Anggi.


"Apa kabar Kakak?" tanya Anggi.


"Kakak sehat, Ngi," jawabku. "Ini Kakak bawakan sarapan buat kamu!" Aku menunjukan rantang nasi di tanganku.


"Iya sudah makan sama sama Kak Galaksi."


"Iya, Kak."


Kak Galaksi dan Anggi makan di ruangan rawat inap Mas Angga. Sementara aku berjalan kearah ranjang lelaki tersebut. Aku duduk di kursi samping ranjang Mas Angga. Tatapanku sendu dan pipiku lagi-lagi panas. Seandainya waktu bisa di ulang kembali. Aku ingin bersama lelaki ini dalam waktu lama.


"Mas." Kugenggam tangan dingin Mas Angga.


"Bangun, Mas."


Buliran bening bergulir melalui kerling mataku yang indah. Aku tak bisa berkata apa-apa ketika dadaku terasa tercekik karena keadaan ini.


"Maaf, aku telah mengkhianatimu."


Aku merasa bersalah karena berbagi hati. Pada kenyataannya tanpa aku sadari aku jatuh cinta pada suamiku sendiri dan bukan pada ayah dari anakku. Entah kapan tepatnya perasaanku tumbuh pada Kak Naro? Rasanya aku selalu merasa nyaman walau menatap wajah dinginnya. Meski ucapannya selalu saja melukai hatiku.


"Argh!"

__ADS_1


Sial, kenapa sakit sekali? Tidak, aku tidak boleh lemah. Aku bertahan demi anakku dan Mas Angga, aku tidak boleh menyerah.


"Arin."


Kak Galaksi dan Anggi yang sedang asyik makan sontak berlari kearahku dan meninggalkan makanan mereka.


"Kakak, kenapa?" tanya Anggi panik.


"Arin."


Tanpa permisi Kak Galaksi langsung mengangkat tubuhku, lalu membaringkan aku di atas ranjang Mas Angga yang berukuran sangat besar.


"Tunggu sebentar, saya periksa!" Kak Galaksi mengambil alat-alat medisnya.


"Astaga, Kakak. Kenapa hidung Kakak berdarah?" tanya Anggi panik.


Aku rasanya tak mampu menjawab pertanyaan Anggi. Seluruh tubuhku sangat sakit, selama ini aku memang tidak mengkonsumsi obat, karena takut akan berpengaruh pada kesehatan janin di dalam rahimku.


"Tahan ya."


Kak Galaksi langsung memeriksa kondisiku. Wajahnya tampak panik, entah kenapa aku merasa perlakuannya melebihi perhatian seorang kakak pada adiknya. Walau dia termasuk pria berdarah dingin tetapi cara dia melihatku sangat berbeda.


"Kakak sebenarnya kenapa sih? Kok sering sekali mimisan?" tanya Anggi menangis segugukan. Dia memang sangat cenggeng dan manja.


"Rin, kondisi kamu sudah semakin menurun. Mau tak mau kamu harus menjalani kemoterapi!" ucap Kak Galaksi.


"Kemoterapi?" ulang Anggi melihat aku dan Kak Galaksi secara bergantian.


Kemoterapi? Aku tak bisa bayangkan bagaimana efek kemoterapi itu nanti? Jika aku kemoterapi, pasti akan ketahuan jika selama ini aku tak baik-baik saja.


"Kak, jelaskan pada Anggi. Kenapa Kak Arin harus menjalani kemoterapi?" desak Anggi menguncang lengan Kak Galaksi.


Kak Galaksi berjongkok di depanku dan tersenyum pada aku dan Anggi.


"Nggi, kamu janji ya jangan katakan pada siapapun bahwa...." Aku menarik napas dalam.


"Bahwa apa, Kak?" Anggi menatapku penuh selidik dan seperti tak sabar mendengar jawabanku.


Apakah aku siap mengatakan bahwa aku menderita kanker rahim? Entahlah, tetapi Anggi sudah terlanjur tahu.


"Kakak menderita kanker rahim stadium lanjut."

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2