Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Penjelasan dokter


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


Aku terduduk di bangku tunggu rumah sakit saat mendengar penjelasan dokter.


"Nara harus menjalani pencangkokan jantung, Bu," jelas dokter Aldy.


Tubuhku langsung luruh. Benar dugaanku bahwa hal ini akan tiba, apa yang harus aku lakukan?


"Bagaimana kalau jantung saya saja, Dokter?" pinta ku.


"Maaf Bu, dari golongan darah saja sudah beda. Tentu yang lainnya pun akan tidak cocok," jelas Dokter Aldy.


Aku semakin melemah, ya Tuhan kenapa semua ini terjadi? Bagaimana kalau ternyata semua yang ku takutkan akhirnya terjadi? Sesuatu yang ku jaga dengan susah payah malah terlepas dari genggaman tangan ku.


Kepedihan telah membawa jari-jari ku mengepal dinding tembok yang terjal. Ku gantungkan semua rasa perih itu pada kursi yang ku duduki. Semua rasa takut kini menghantam bagian dadaku. Ketakutan yang selalu ku hindari kini benar-benar akan terjadi.


"Apa tidak ada cara lain, Dok?" tanya Pak Dante.


"Iya Dok, apakah ada pendonor jantung yang cocok untuk Nara?" sambung Divta.


Kedua lelaki ini seperti sengaja mendekati ku, entah apa maksud dan motif mereka. Aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Aku tak sempat memikirkan hal-hal tersebut. Bahkan Divta yang jelas-jelas sudah menjauh kini datang kembali seperti ingin membuktikan bahwa dia layak menjadi salah satu bagian dari proses ku belajar.


"Maaf Pak, kami tidak memiliki pendonor jantung dirumah sakit ini," jawab Dokter Aldy.


Air mata yang kutahan sejak tadi akhirnya luruh dan menetes dengan deras. Aku bahkan tak peduli jika aku menangis didepan Pak Dante dan Divta. Beberapa orang mengatakan jika menangis adalah tanda hati seseorang lemah. Tetapi bagiku menangis adalah caraku mengekspresikan diri terhadap rasa sakit.


"Bu, saya harap secepatnya menemukan pendonor jantung untuk Nara," ucap Dokter Aldy. "Kondisi nya semakin menurun," sambung Dokter Aldy.


Aku tak tahu harus jawab apa, kemana dan siapa yang mau mendonorkan jantungnya untuk Nara?


"Ra," panggil Divta.


Aku tak menjawab panggilan Divta. Sudah berapa kali aku mengatakan, agar dia pergi dari kehidupan kami. Aku tak mau menambah masalah. Hidupku sudah susah dengan pergumulan yang datangnya silih berganti.

__ADS_1


"Ra, nanti kita cari jalan keluar nya," ucap Pak Dante ikut menenangkan aku.


"Jalan keluar bagaimana, Pak? Apa ada orang yang mau mendonorkan jantungnya untuk Nara tanpa hubungan darah?" Aku menggeleng. "Tidak ada, Pak. Siapa manusia yang mau mati demi manusia lain," sergah ku putus asa. Rasanya aku tak memiliki tenaga. Bahkan untuk menangis, serasa semua energi dalam tubuh ku terkuras habis.


Mereka berdua sama-sama diam. Bukankah apa yang aku katakan memang benar, bahwa tidak ada manusia yang mau mati demi manusia. Walau aku salah satu ibu yang mau mati demi anak nya tetapi kehendak Tuhan justru berkata lain. Apa Tuhan ingin mempertahankan aku hidup, namun dengan cara yang sebenarnya tak ku inginkan sama sekali?


Pak Dante mengusap bahuku, seolah mentransfer kekuatan lewat bahu ku. Aku tidak tahu kenapa Pak Dante bisa begitu peduli padaku, padahal dia tahu bahwa aku bukan siapa-siapa dia dan tak memiliki hubungan apapun.


Sementara Divta tampak diam saja. Dia masih tak menyerah untuk mengejar kami. Padahal aku sudah jelaskan, bahwa aku tak ingin dia ada di kehidupan kami. Aku takut Chelsea benar-benar menyakiti anak-anak ku. Nara dan Naro sudah cukup menderita selama ini.


"Mama."


Kami semua menoleh kearah suara. Tampak Naro berjalan dengan setengah berlari, bersama Zenia dan Zeno di belakang nya. Putra kecilku masih memakai seragam sekolah. Ditangannya menenteng piala dan mendali yang dia pegang dengan erat.


"Naro." Aku menyeka air mataku.


Hari ini Naro ikut lomba olimpiade matematika perwakilan sekolah. Harusnya aku hadir untuk menyemangati anakku tersebut, tetapi karena kondisi dan keadaan, akhirnya hanya di wakilkan oleh Mas Bayu dan Kak Dea.


"Mama."


"Mama, Naro menang. Ini buat Mama dan Kak Nara," ucap nya menunjukkan piala dan piagam tersebut dengan bangga padaku.


Air mataku kian luruh, harusnya aku bahagia karena anakku memiliki prestasi yang belum tentu di miliki oleh anak-anak lainnya. Tetapi kenapa aku malah merasa gagal membimbing Naro mewujudkan impian nya.


"Terima kasih, Son. Selamat yaa." Ku kecup kening Naro dengan sayang.


"Sama-sama Mama. Mama jangan sedih lagi, nanti Kak Nara juga sedih," ucap Naro mengusap pipi basahku.


Bagaimana mungkin aku tak sedih jika keadaan saja membuatku serasa hancur dan berantakan, membuat air mata menetes sesuka nya.


.


.


Aku berjalan menelusuri malam mencari makanan di warung yang masih buka malam-malam begini. Sembari menikmati segala keresahan yang sekarang menghantam bagian dadaku.


Dinginnya angin malam membuat bulu kuduk ku berdiri, apalagi seperti menerpa bagian kulit ku yang lain.

__ADS_1


"Mang, nasi goreng nya satu makan disini," pintaku duduk dikursi plastik tempat penjual nasi goreng.


"Oh iya Neng, tunggu sebentar," ucap sang Mamang penjual nasi goreng.


"Iya Mang," sahutku memaksa kan senyum.


Ku usap kedua lengan ku yang terasa dingin. Untung malam ini tidak turun hujan, tetapi angin nya cukup mampu membuat badan terasa meriang.


"Ini Neng," ucap Mamang penjual nasi goreng meletakkan nasi goreng diatas meja ku.


"Terima kasih Mang," sahutku.


Ku tatap nasi goreng yang masih mengeluarkan asap mengempul tersebut. Lagi-lagi air mataku menetes. Setiap kali melihat nasi goreng, aku selalu ingat kegiatan pagi hari. Nara dan Naro menyukai makanan ini walau tak kami makan setiap pagi.


"Ra."


Aku menoleh ketika ada yang memanggil namaku.


"Eh Pak Dante."


Apa yang di lakukan manusia yang satu ini? Kenapa malam-malam dia ada disini? Bukankah seharusnya dia sudah pulang dari tadi siang?


Dia duduk dikursi plastik yang terletak disamping ku. Senyumnya mengembang tanpa beban.


"Malam ini saya akan temani kamu menjaga Nara. Tadi saya sudah izin sama dokter, kata nya boleh," ucap nya.


"Tidak perlu, Pak. Saya bisa sendiri," tolak ku.


"Kamu butuh teman, Ara," sergahnya.


Aku tak butuh teman yang ku butuhkan adalah bantuan secepatnya, di mana Nara bisa mendapatkan donor jantung.


Aku tak menjawab dan kembali melanjutkan makanku. Aku sebenarnya tak nyaman karena Pak Dante terlalu sering datang ke rumah sakit. Apalagi gosip para karyawan yang menganggap aku menggoda Pak Dante, sungguh membuat telinga ku panas. Namun, aku tak punya waktu untuk memikirkan hal tersebut.


Bersambung....


Jangan lupa like, Komentar dan vote ya guys.. love kalian sekebon teh....

__ADS_1


__ADS_2