
"Ma, tadi Lala lihat Papa sama Tante Queen peluk-pelukan," lapor Lala, anakku yang berusia 7 tahun itu.
"Papa sama Tante Queen?" ulangku sekali lagi.
"Iya, Ma. Mereka peluk-peluk gitu," jelas Lala sambil mempraktekkan cara orang berpelukan.
Namaku Ditha Araujo lebih akrab dan sering di panggil Tata. Sepuluh tahun yang lalu aku menikah dengan Mas Gevan, pria yang usianya jauh lebih tua dari aku. Pernikahan kami di karuniai satu orang putri yang sangat cantik namanya Clara Anggela, usianya 7 tahun dan sudah duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar.
Aku dan Mas Gevan menikah karena saling cinta antara dua orang. Bukan satu pihak. Dia lelaki baik dan dewasa yang memperlakukan aku dengan baik. Usianya juga jauh di atas aku, 15 tahun lebih tua.
"Lho, kok bisa Papa sama Tante Queen?" tanyaku heran.
Queen adalah saudara tiri Mas Bintang, anak Om Reza dengan Tante Siska. Selama ini dia menetap di Jakarta dan menikah dengan orang sana. Namun, beberapa bulan yang lalu dia kembali ke Kalimantan karena perceraian dengan mantan suaminya. Dia memang menginap di sini sampai menemukan kontrakkan dan pekerjaan.
"Iya, Ma. Lala lihat mereka jalan berdua," jelas Lala. "Pas Lala turun dari mobil Papa langsung suruh Tante Queen masuk," sambungnya.
Aku berpikir keras. Apa hubungan Mas Galvin dan Mbak Queen? Suamiku itu pria dingin tak tersentuh, dia tidak mudah dekat dengan orang lain selain keluarga dekatnya. Bahkan aku sendiri saja susah memahami sifat suamiku itu.
"Hem, ya sudah Lala mandi dulu sama Bibi ya. Mama mau masak," ucapku mengecup ujung kepala anak perempuanku. Putri satu-satunya karena aku tak lagi bisa melahirkan.
"Iya, Ma," jawab Lala masuk ke dalam kamarnya. Dia masih memakai seragam sekolah dengan tas Hello Kitty yang dia pakai di punggungnya.
Aku menuju dapur dan masih memikirkan kata-kata Lala. Anak kecil selalu polos dan apa yang dia keluarkan dari mulutnya itulah yang dia lihat. Tetapi apakah mungkin Mas Gevan?
Usiaku dan Mas Gevan memang jauh berbeda. Sifat kami juga bertolak belakang satu sama lain. Dia mampu mengayomi aku yang belum dewasa. Oleh sebab itulah aku benar-benar mencintainya dan menjadikan dia satu-satunya pria yang aku cintai.
"Kenapa melamun, Bu?" tanya Bik Arum, asisten rumah tangga yang membantu semua pekerjaan rumah.
"Oh, tidak, Bik," jawabku memaksakan senyum simpul. "Lala sudah mandi, Bik?"
__ADS_1
"Sudah, Bu," jawab Bik Arum.
Aku berkutat dengan alat dapur memasak untuk suami dan anakku. Mas Gevan kalau masalah makanan dia sangat rewel dan harus aku yang turun tangan jika urusan perut. Kalau bukan aku yang masak dia pasti tidak mau makan. Sesuka itu dia pada masakkanku.
Aku menyajikan makanan di atas meja dan di bantu oleh Bik Arum. Selain sebagai ibu rumah tangga, aku juga memiliki beberapa bisnis butik di berbagai cabang dan kota. Hasilnya lumayanlah untuk membantu perekenomian suamiku. Walau gaji Mas Gevan sebagai dokter sangat tinggi, apalagi dia bekerja di rumah sakit Mas Langit bersama Kak Galaksi, Auny dan Anggi.
"Mas Gevan kok belum pulang ya? Sudah jam 7," gumamku.
Tak biasanya suamiku pulang terlambat. Dia selalu pulang tepat waktu. Kecuali kalau ada dinas malam, itu juga dia pasti izin atau mengabariku lewat pesan.
"Mama, papa kok belum datang? Lala sudah lapar?" tanya Lala. Kami memiliki kebiasaan makan bersama baik pagi dan malam. Jadi, kebiasaan tersebut sampai sekarang menjadi tradisi yang susah kami lapar.
"Lala makan dulu saja ya," jawabku.
"Tapi papa belum pulang, Ma?" sahut Lala dengan wajah sendunya.
"Tidak apa-apa, Nak. Lala makan duluan saja ya." Aku mengusap kepala anakku.
Aku mengambilkan Lala makanan ke dalam piring lalu meletakan di atas meja.
"Makan yang banyak ya, Nak." Aku tersenyum lebar.
"Iya, Ma. Supaya Lala cepat besar!" seru Lala.
Aku terkekeh pelan. Sambil menatap anakku yang makan dengan lahap. Aku lambat hamil, maka dari itu usia Lala dan pernikahanku berbeda tiga tahun. Untuk mendapatkan Lala juga aku harus ikut program hamil dan beberapa treatment agar bisa hamil. Walau lama tetapi akhirnya berhasil. Namun, sayang aku tak bisa lagi hamil setelah menjalani operasi ketika melahirkan Lala.
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Mas Gevan tak kunjung datang. Ke mana sebenarnya suamiku itu? Aku mengambil ponsel dan menghubungi Mas Gevan tetapi nomornya malah tidak aktif.
"Jangan buat aku panik, Mas. Kamu tidak biasanya seperti ini," ucapku seraya menghela napas panjang. Jujur saja aku panik, apalagi ucapan Lala tadi seolah memberi aku peringatan agar hati-hati.
__ADS_1
Entah kebetulan atau bagaimana? Mbak Queen juga belum datang. Biasanya dia hanya di rumah sambil menunggu lamaran. Mbak Queen lulusan sarjana ekonomi. Jadi, dia melamar di bank dan perusahaan lainnya.
Tidak lama kemudian kudengar deru mobil Mas Gevan. Aku segera menyambutnya di depan pintu. Lagi, aku terkejut ketika melihat mereka berdua keluar dari sana. Yang paling membuat aku merasa aneh, Mas Gevan merangkul bahu Mbak Queen dengan jas kedokteran yang dia pakaikan di tubuh Mbak Queen.
"Ta, tolong kamu buatkan teh hangat untuk Queen!" titah Mas Gevan padaku.
Dalam kebingungan aku malah mengangguk karena masih bungkam ketika melihat permandangan yang menurutku sangat tak wajar.
Aku memerintahkan Bik Arum membuatkan teh hangat untuk Mbak Queen. Apa sebenarnya yang terjadi pada wanita itu? Kenapa suamiku terlihat sangat peduli padanya?
"Mas, Mbak Queen kenapa?" tanyaku duduk di sofa sambil memberikan secangkir teh hangat manis pada Mbak Queen.
"Tadi dia hampir di perkosa. Untuk Mas lihat dan segera menolong dia," jelas Mas Gevan membantu Mbak Queen teh tersebut.
Mbak Queen menangis sesenggukan sembari meminum teh hangat tersebut. Aneh, kenapa harus Mas Gevan sepeduli ini pada Mbak Queen? Dia sangat perhatian, padahal sekedar minum teh. Mbak Queen bisa sendiri tanpa perlu di bantu oleh suamiku.
"Diperkosa?" ulangku.
Mbak Queen memeluk jas suamiku dengan erat. Penampilannya cukup berantakkan. Memang Mbak Queen ini suka sekali memakai pakaian seksi yang terlihat belahan dada dan pahanya. Aku saja heran, apa dia tidak risih memakai baju seperti itu?
"Hiks iya, Ta. Mbak takut banget." Mbak Queen bersandar di bahu suamiku.
Deg
Aku menatap tak percaya. Astaga, istri mana yang takkan cemburu melihat wanita lain bersandar di bahu suaminya? Apalagi wanita ini adalah kakak sepupuku.
"Mbak, kenapa harus bersandar di bahu Mas Gevan?" protesku. Jelaslah aku tidak terima, apalagi mereka seperti akrab begitu.
"Kamu ini kenapa sih, Ta? Bukannya bantu memenangkan malah protes? Queen itu sedang ketakutan!" sarkas Mas Gevan yang membuat mulutku bungkam seketika.
__ADS_1
Bersambung...