
SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........
CEKIDOT......
👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇
Aku tertegun mendengar ucapan Gisel, sekian lama berlalu masih saja mereka mengatakan bahwa kepergian Mas Galvin karena ego ku sendiri.
"Sudah, Ra. Tidak usah dipikirkan lagi," ucap Mira mengusap bahu ku.
Mustahil bila aku tak memikirkan hal tersebut, bukan hanya sekali dua kali hal ini ku dengar tetapi sudah sering dan bahkan tuduhan keegoisan itu terus di lontarkan kepadaku.
"Ayo kita pulang," ajak Mira.
Aku hanya mengangguk saja dan mengikuti ucapan Mira. Seketika mental ku langsung dihempaskan ketika Gisel mengatakan hal tersebut. Semua orang mengatakan jika aku pembunuh, bisakah aku menolak takdir?
Pipi ku mulai panas, seperti nya sebentar lagi aku akan menangis. Jika menyangkut Mas Galvin dan Nara, jiwaku selalu serasa dihempaskan oleh kenyataan. Rasa sakit kehilangan dan tak berdaya itu benar-benar menyiksa seluruh jiwa dan raga. Semua tak mudah ku lewati dan jalani, banyak hal yang tak hanya bisa di ukur kekuatan. Ada kala nya harus menangis agar rasa sakit itu berhenti menyiksa.
"Diandra Gautama."
Plok plok plok
Langkah ku dan Mira kembali terhenti saat mendengar suara yang juga seperti mengejekku.
"Chelsea," gumam ku.
Chelsea melipat kedua tangannya didada dan menatap ku dengan sinis dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Jadi ini calon istri Dante," ucap nya melihat ku dengan sinis, seolah aku adalah virus yang harus dia hindari. "Aku tidak menyangka jika kamu ternyata murahan. Mendekati Divta dan Dante dalam waktu yang bersamaan. Sungguh luar biasa."
Deg
__ADS_1
Aku menatap Chelsea dengan tajam. Apa maksud ucapannya? Aku tidak mempermainkan Mas Dante dan Divta, aku bahkan tak pernah berpikir didekati atau mendekati mereka.
"Jaga ucapan kamu Chelsea!" hardik Chelsea.
"Kenapa harus aku jaga? Apa ada yang salah dengan ucapan ku?" ledek Chelsea lagi.
"Sudah Ra, jangan di ladeni. Ayo pulang," ajak Mira setengah berbisik.
"Asal kamu tahu anak buangan, kalau Dante mau sama kamu bukan karena dia cinta. Tetapi karena kamu mirip Killa. Dia hanya ingin mengobati luka. Setelah dia sembuh, dia akan mencampakkan mu lagi," ucap Chelsea penuh penekanan. "Harusnya kamu tahu diri bukan malah percaya diri. Ap coba yang di harapkan Dante dari wanita miskin seperti kamu? Kamu saja tidak di inginkan oleh Daddy dan Mommy, apalagi orang lain," cemooh Chelsea.
Lagi aku hanya bisa terdiam, dadaku serasa sesak menusuk sangat dalam. Baru saja aku berharap bahagia sudah ada orang yang berusaha membuat ku tenggelam. Aku tidak tahu kenapa banyak yang tak menyukai ku.
"Heh, jaga omongan kamu. Kamu itu tidak sadar kalau yang tidak tahu diri itu kamu. Kamu mengejar mantan suami kamu dan meminta dia kembali. Dih, memalukan," ucap Mira menatap Chelsea sinis.
"Aku tidak memiliki urusan sama kamu. Jadi jangan ikut campur!" hardik Mira.
"Selama kamu berurusan sama Ara, berarti itu juga berurusan sama aku dan aku tidak akan diam saja kalau sahabat ku di perlakukan seperti itu. Harusnya kamu itu introspeksi diri, bukan malah tak sadar diri," ledek Mira.
"Apa? Mau berantem ayo sini, lawan aku," tantang Mira.
Chelsea merenggut kesal, seperti nya dia tidak berani melihat wajah Mira yang sanggar apalagi saat marah seperti itu.
"Awas kamu," ancam Chelsea melenggang pergi meninggalkan kami.
Aku menunduk lemah, lagi dan lagi ada-ada saja sesuatu yang tercekat di dadaku. Padahal baru saja aku ingin bahagia bersama seseorang yang ku yakini sebagai pilihan hati. Namun, kenapa saat aku benar-benar ingin bahagia ada saja orang yang berusaha menjatuhkan mental.
"Ra, sudahlah. Ayo pulang. Tidak usah dipikirkan kata-kata Chelsea Club' itu, dia 'kan memang begitu sengaja membuat kamu ragu," jelas Mira berusaha menenangkan ku.
.
.
__ADS_1
"Sayang, kenapa diam saja?" tanya Mas Dante yang melihat ku tak banyak bicara hari ini.
Aku menghela nafas panjang, lalu melihat kearah nya. Apakah benar lelaki ini hanya ingin mengobati luka nya saja setelah kepergian Kak Killa dan karena wajah kami sangat mirip?
"Sayang, kalau ada masalah ayo cerita sama aku. Siapa tahu aku bisa bantu," ucap nya menggenggam tanganku.
Mas Galvin juga pernah mengatakan hal yang sama, jika ada sesuatu yang menjanggal katakan saja padahal. Tetapi akhirnya dia lah yang membuat segala sesuatu itu menjadi janggal.
Aku menatap Mas Dante, di lihat dari tatapan mata dan perlakuan nya dia seperti nya tulus padaku. Tetapi aku perkataan Chelsea masih saja terngiang dikepalaku. Aku tahu hanya dijadikan alat penyembuh luka Mas Dante. Jika luka itu sembuh maka aku akan kembali sendirian.
"Apa Mas mencintai ku?" tanya ku.
Aku harus was-was terhadap perasaan, aku perlu menyakinkan diri serta hati. Aku tak mau salah pilih lalu menyesal kemudian. Kegagalan pernikahan pertama ku membuat aku sedikit hati-hati jika bersangkutan dengan hati.
"Mas sangat mencintai mu, Sayang. Sangat malah," jawbw nya menyakinkan ku. Satu tangannya menggenggam tanganku dan satu nya lagi di gunakan untuk menyetir.
"Sedalam apa Mas mencintai ku? Mas jujur aku takut, aku tidak mau hanya menjadi penyembuh luka mu, aku mau menjadi bagian terpenting dalam hidup ku," ucap ku dengan mata berkaca-kaca.
Mas Dante menepikan mobilnya, lalu dia menatap ku dengan senyum. Tangan nya terulur mengusap kepalaku dengan lembut. Tatapan kami seketika bertemu, jantung ku selalu tak bisa diajak kerja sama kalau berada didekatnya.
"Mas tidak heran jika kamu berpikir seperti itu. Mas paham sama masa lalu kamu dan Mas juga tidak marah jika kamu meragukan Mas. Tetapi Mas tidak akan berhenti membuktikan sama kamu bahwa Mas tulus. Mas tidak menjadikan kamu hanya sebagai obat penyembuh luka, tapi Mas sungguh-sungguh mencintai kamu. Mas ingin hidup bersama kamu hingga nanti. Mas ingin kita bahagia bersama anak-anak," ucap Mas Dante mengusap kedua pipinya.
Entahlah, apakah aku harus percaya atau ragu pada ucapan dan perasaan nya? Aku terlalu takut karena tudingan demi tudingan seolah tak meminta kami bersama.
"Kamu berharga buat Mas. Izinkan Mas untuk membuktikan sama kamu bahwa Mas tulus," ucapnya lagi.
Aku mengangguk dengan lelehan bening dipipku. Terharu, sangat-sangat terharu. Setelah aku dipatahkan hebat oleh suami yang ku cintai dengan erat. Kini aku dipertemukan dengan pria yang bahkan selalu menyakinkan ku tentang kehidupan dana, bahwa selalu ada bahagia di balik penderitaan yang dilewati.
"Sttt, jangan menangis. Sini peluk Mas."
Dia merentangkan tangannya dan menarik ku masuk kedalam pelukan nyaman pria ini.
__ADS_1
Bersambung...