
Season 05. Tata Story 25.
Tubuhku langsung merosot ketika mendengarkan penjelasan dokter. Aliran darah dalam tubuh seolah seketika berhenti mengalir. Ku gantungkan rasa sakit pada penyangga kursi yang ku pegang. Rasa sakit yang kian menyeluruh ke seluruh tubuh.
"Kondisi Lala sewaktu-waktu bisa menurun. Tidak hanya itu dia juga kekurangan banyak darah dan kita harus segera mencari pendonor," jelas dokter.
"Darah saya saja, Dok. Golongan darah saya sama dengan Lala," ucap Mas Gevan.
Sementara air mataku luruh tak terbendung. Tak bisa ku bayangkan tubuh sekecil itu sudah harus di gerogoti penyakit mematikan yang menyiksa dirinya.
"Baik, Dok. Kita akan segera melakukan transfusi," ucap Dokter Hans yang menangani penyakit Lala.
"Lala pasti baik-baik saja," ujar Mas Gevan menenangkan aku. Dia merangkul bahuku dan seraya mengisapnya dengan pelan.
"Mas." Kutatap wajah mantan suamiku itu. "Lala, Mas," aduku berharap jika Mas Gevan bisa menolong anak kami.
"Kamu tenang ya. Selama ada Mas, Lala pasti baik-baik saja." Mas Gevan merengkuh tubuh lemahku masuk ke dalam pelukannya.
Aku berharap hidupku akan baik-baik saja setelah berpisah dengan Mas Gevan. Aku bisa menjadi segalanya untuk Lala serta menemani dia dalam hal-hal rumit. Tetapi saat tahu dia menderita penyakit mematikan itu rasanya seluruh raga jiwa dan perasaanku terguncang.
__ADS_1
Ibu mana yang takkan terluka jika melihat putri semata wayangnya jatuh sakit seperti itu? Hatiku saat ini bagai di tusuk oleh jarum-jarum yang banyak hingga mengeluarkan darah.
Kami keluar dari ruangan dokter. Tatapanku kosong dan pikiran melayang entah ke mana. Setelah melakukan transfusi darah, Lala akan menjalani kemoterapi pertamanya. Entah bagaimana nanti aku harus jelaskan pada Lala tentang kondisi dirinya.
Aku masuk ke dalam ruang rawat Lala. Ternyata dia sudah di pindahkan ke dalam ruangan VVIP oleh Kak Galaksi. Ku tatap wajah putri kecilku itu yang masih terlelap nyaman dengan selang-selang yang mengalir di bagian tubuhnya.
"Lala."
Air mata tak terbendung lagi. Dia keluar sesuka hati. Seakan mengatakan jika aku kalah oleh kondisi. Lala, putri kecilku kini menderita penyakit mematikan yang sewaktu-waktu bisa membuat nyawanya dalam ancaman.
"Kamu anak yang kuat. Mama mohon, Nak. Jangan tinggalkan Mama. Mama berjanji akan menjaga kamu dengan baik." Kukecup kening Lala dengan lembut sembari meresapi harum wangi shampoo yang dia pakai.
"Kamu sudah berjanji pada Mama bahwa kita akan selalu bersama apapun yang terjadi," ucapku lagi.
Lala masih terpejam dengan wajah pucatnya. Tangannya dingin sekali. Aku menggenggam tangan Lala, dia masih terpejam erat. Selama ini anakku itu tak pernah mengeluhkan rasa sakitnya.
Aku mengeratkan genggamanku pada Lala. Tuhan bisakah aku saja yang sakit, jangan anakku. Kenapa masalah dalam hidupku tak pernah berhenti? Tak apa jika aku harus kehilangan apapun dalam hidupku, bahkan jika pun kehilangan kebahagiaan tidak masalah. Tetapi aku tak bisa kehilangan Lala. Dia harta paling berharga yang aku miliki.
Aku duduk kembali di bangku samping ranjang Lala. Kutatap dengan sendu anak perempuan ku tersebut. Andai aku bisa mengikat sebuah keajaiban. Aku ingin menyembuhkan dia.
__ADS_1
Sering aku bertanya, apakah jalan hidupku memang takkan pernah bahagia? Di hadapkan dengan berbagai masalah seolah aku adalah manusia paling lemah. Tidak cukupkah semua penderitaan yang selama ini aku derita, kenapa sekarang malaikat kecil yang Tuhan titipkan padaku harus merasakan sakit seperti ini? Rasanya aku tak sanggup menjalani semua kehidupan ini.
"Hiks hiks hiks hiks hiks."
Aku menangis sekeras mungkin didalam ruangan rawat Lala. Meluapkan semua rasa sakit yang terasa menghantam dada.
"Hiks hiks hiks hiks."
Kupukul dadaku berulang kali, menghilangkan segala sesak yang menghantam didalam sana. Rasanya nafas ku tercekat. Bolehkah aku pergi dari dunia ini.
"Lala."
Tanganku terulur mengusap kepala Lala dengan simbahan air mata yang seolah tak berhenti menangis. Hancur. Rapuh. Semua perasaan itu benar-benar menyiksa dadaku.
"Bertahan ya, Nak. Kita akan berjuang sama-sama. Mama akan selalu ada untuk kamu. Bila perlu Mama akan beli mukjizat itu agar kamu bisa sembuh."
Aku mencoba kuat menahan segala terjangan badai yang menerpa perahu tempat ku berlayar. Tetapi siapa sangka ternyata aku karam dan berbalik bersama perahu tersebut. Aku mencoba keluar dan menyembulkan kepalaku, supaya tetap bisa bernapas. Kini aku berenang sejauh sepuluh kilo meter untuk mencari daratan. Tetapi kenapa tidak ada pulau yang bisa kusinggahi. Apakah aku akan tenggelam sampai ke dasar lautan, lalu mati bersama batu karang?
"Mama."
__ADS_1
Bersambung..