Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Tak adil


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇.


Divta POV


Aku mengusap punggung Ara yang masih menangis dalam pelukanku. Rasa sakit yang ada di hatinya seolah menjalar di bagian tubuhku. Entah, kenapa aku tak bisa melihat air mata Ara. Hatiku terenyuh sakit ketika air mata menjatuhi pipi nya yang masih.


"Maaf Ta," ucap nya melepaskan pelukan ku.


"Tidak apa-apa Ra. Kapan saja kamu butuh pelukan aku, aku selalu ada," ucapku tulus. Aku tidak tahu kenapa aku bisa begitu dekat dengan Ara. Padahal sejak berpisah dari Chelsea aku sedikit trauma dengan yang namanya wanita.


Ara mengangguk sambil menyeka air matanya dengan kasar. Aku mengambil beberapa lembar tissue lalu memberikan nya pada wanita anak dua ini.


"Aku hanya tidak menyangka saja, kenapa mereka tega, Tak? Padahal aku tidak melakukan apapun selama ini. Aku tahu ibu tidak menyukai ku sejak awal, tapi apakah dia harus mencelakai Nara dan Naro?" ucap Ara masih terisak.


Aku mengusap pipi basahnya. Ara ini wanita keras kepala dan kuat serta tangguh. Dia jarang menangis, jika sudah menangis seperti ini. Pasti rasa sakit yang dia rasakan benar-benar menghantam bagian dadanya.


"Nanti aku dan Mas Bayu, akan bantu kamu selesaikan masalah ini ke jalur hukum. Mereka harus menerima hukuman yang setimpal. Bahkan bila perlu tindak pidana hukuman mati, karena ini termasuk pembunuhan berencana," ucap ku dengan menggebu-gebu. Aku juga marah, bukan tak marah sebab Nara dan Naro sudah ku anggap anakku sendiri. Apalagi Naro yang begitu menyanyangi aku.


"Terima kasih, Ta," ucap Ara.


"Sudah kamu jangan menangis lagi," sahut ku. "Tadi aku bawakan kamu bekal, ini dari Mama. Mama undang kamu datang kerumah kalau ada waktu," sambung ku sembari memberikan rantang nasi yang ku bawa.


"Terima kasih Ta, kirim salam buat Mama," ucapnya mengambil rantang tersebut dari tanganku.


"Ya sudah ayo," ajakku.


Aku kembali melajukan mobilku. Sesekali aku melirik Ara yang tampak diam walau dia sudah tak menangis lagi seperti tadi. Wanita rapuh ini sebenarnya bunuh sandaran. Butuh teman untuk saling berbagai. Semoga aku bisa menjadi teman itu, walau mungkin Ara tak percaya padaku sepenuh nya.


"Sudah lebih baik?" Aku melirik dia yahh masih terdiam.

__ADS_1


"Sedikit Ta. Aku jadi malu menangis didepan kamu," ucap ku membuang wajahnya ke sembarangan arah.


Aku terkekeh pelan. Ya wanita seperti Ara memiliki jiwa keras dan tegas. Untuk menangis didepan laki-laki pastinya sedikit membuat dia merasa gengsi.


"Tidak perlu malu. Bukankah sudah biasa?" goda ku.


"Ta." Ara mendesah malu. "Tapi kalau menangis itu bisa membuat perasaan lega meski tidak menyelesaikan masalah," ucap nya lagi.


Aku setuju dengan kalimat itu, karena aku pernah berada diposisi yang sama. Menangis dalam diam, memendam semua rasa yang mendalam. Menangis memang tak bisa menyelesaikan masalah namun menangis dapat memberi kelonggaran dalam dada. Menangis bukan karena cenggeng atau lemah tetapi melalui menangis, seperti ada sesuatu yang lepas begitu saja.


"Ta, terima kasih," ucap Ara sambil melepaskan sealbeat di tubuhnya.


"Nanti sore aku jemput. Pulang jam berapa?" tanya ku sambil melirik arloji ditanganku.


"Tidak usah Ta. Kamu fokus saja kerja, kamu bilang mau melatih anak didik baru?" tolak nya pelan. "Nanti aku pulang naik taksi saja."


"Tapi_"


"Aku duluan ya Ta. Sekali lagi terima kasih tumpangan dan bekal nya," pamitnya keluar dari mobil.


"Sampai bertemu besok Ra. Nanti aku telepon," teriak ku dari dari dalam mobil seraya melambaikan tangan ku.


Dia membalas dengan lambaian tangan nya sambil tersenyum.


.


.


"Jadi bagaimana Mas?" tanyaku pada Mas Bayu.


"Mas sedang menggumpulkan semua bukti dan para saksi di TKP," jawab Mas Bayu.


"Aku masih tidak menyangka Mas jika Galvin tahu hal ini tapi dia malah diam saja membiarkan anak-anak nya," ucapku.

__ADS_1


"Itu juga yang Mas pikirkan, Ta. Kasihan Ara. Kenapa mantan ibu mertua nya sangat kejam? Padahal Ara tidak sejahat itu," sahut Mas Bayu.


Aku sedang membantu Mas Bayu mengumpulkan semua bukti. Aku memiliki beberapa teman yang bekerja di kepolisian. Kasus ini harus segera terkuak agar si pelaku menerima hukuman dari perbuatannya itu.


"Sementara waktu Nara dan Naro akan homeschooling, Mas takut jika mantan mertua Ara kembali berbuat nekad," sambung Mas Bayu.


Aku mengangguk setuju. Kasihan Nara dan Naro, mereka harus menjadi harus menjadi korban karena keegoisan orang-orang yang tak memiliki perasaan. Padahal anak-anak di usia dini seperti itu, tentu belum paham apa-apa masalah orang dewasa.


"Ya sudah Mas, aku pamit dulu. Nanti aku hubungi kalau semua bukti sudah terkumpul," ucap ku sambil berdiri.


"Terima kasih Ta, sudah membantu," sahut Mas Bayu.


"Sama-sama Mas, Ara adalah sahabat ku. Aku ikhlas membantu nya," kataku.


"Hm, teman atau teman?" goda Mas Bayu sambil berdehem


"Temanlah, Mas," jawabku cepat.


Mas Bayu berdiri lalu menepuk bahu ku, "Ta kita sama laki-laki. Mas tahu dari gerak-gerik kamu, kamu memiliki perasaan sama Ara," ucap Mas Bayu dengan senyuman menggoda. Aku mendelik melihat Mas Bayu.


"Tidak perlu khawatir. Kamu mendapat restu dari calon iparmu itu," ujar Mas Bayu sambil tertawa pelan.


Aku menanggapi dengan senyum. Entahlah, aku tak pernah menyadari perasaan aku selama ini. Setiap kali berada didekat Ara aku merasa nyaman, sebenarnya perasaan nyaman ini sudah ada sejak kami sama-sama duduk dibangku sekolah menengah. Hanya saja saat ini kami sebatas teman yang sudah memiliki pasangan masing-masing.


"Tapi kamu harus sabar dan berusaha untuk membuka hati Ara. Kamu tahu kan jika dia memiliki masa lalu yang juga kelam, sama seperti kamu," ucap Mas Bayu lagi.


Aku mengangguk saja, aku belum yakin dengan perasaan ku. Setelah berpamitan aku segera keluar dari ruangan Mas Bayu. Kalau terus aku ladeni, dia akan semakin menggoda ku. Mas Bayu tipe orang yang humoris dan kocak serta sayang istri.


Aku masuk kedalam mobil dan melajukan mobil ku menuju kantor. Kenapa bayangan Ara yang menangis terus terngiang dikepalaku? Setiap air mata yang menetes dipipi nya seperti sayatan pisau yang mengukir hati ku.


"Apa benar yang Mas Bayu katakan bahwa aku menyukai Ara?" tanya ku pada diri sendiri.


Bersambung....

__ADS_1


jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan guys ...


__ADS_2