
Divta Tarumanegara, seorang duda beranak dua. Usia nya menginjak 30 tahun. Dia telah kehilangan segala cinta yang dia perjuangkan dengan susah payah. Sang istri pergi meninggalkan nya dan memilih pria lain. Sementara wanita yang dia harapkan akan menjadi pengobat dari rasa sakit yang dia rasa, malah menciptakan luka yang semakin dalam.
Divta seorang abdi negara yang menjabat sebagai Perwira Tertinggi TNI AL. Mengambil keputusan sebagai abdi negara tentu nya adalah pilihan yang sudah di tentukan oleh Divta sejak dia duduk dibangku sekolah menengah. Apalagi dukungan dari kedua orang tua nya membuat dia yakin akan keputusan nya itu. Mendapat jabatan sebagai Perwira Tertinggi TNI AL adalah suatu penghargaan dan pencapaian yang tentunya tidak mudah. Divta harus berjuang demi untuk bisa menggapai semua impiannya.
Jika dalam karir dia adalah pria yang perlu diperhitungkan. Namun, tidak dalam masalah percintaan. Dirinya adalah pria yang seperti tak layak untuk bahagia. Jatuh cinta pada adik kelasnya bernama Senja Mentari, Divta bertemu kembali dengan Senja setelah sekian lama. Dulu adik kelasnya tersebut adalah gadis pendiam yang kutu buku. Namun, sayang wanita itu malah dipersunting oleh seorang dokter tampan dan kaya raya.
Divta berusaha melupakan segala hal yang bersangkutan dengan Senja. Padahal dia berharap hati wanita itu akan berlabuh padanya setelah berpisah dengan sang mantan suami. Tetapi sayang, pertemuan memang tidak selalu berujung bahagia. Jodoh juga tidak bisa di paksa. Divta butuh waktu lama untuk melupakan Senja, hingga akhirnya mantan kekasihnya bernama Chelsea Kalingga, kembali lagi padanya. Divta berpikir Chelsea adalah pelabuhan terakhir cintanya. Tetapi lagi dan lagi, wanita itu malah menambah luka yang berangsur membaik menjadi goresan sangat dalam.
Divta patah bukan main, dia bahkan tak tahu caranya untuk bahagia. Hanya dua putra kembar nya adalah sumber kekuatan pria tersebut dalam menjalani hidup. Kedua putranya menjadi salah satu alasan bagi Divta memperjuangkan kebahagiaannya. Lagi, dia dipertemukan dengan sahabat lamanya bernama Diandra. Mereka adalah teman dekat ketika SMA dan sama-sama anggota OSIS yang sering bersosialisasi dan melaksanakan tugas dari sekolah. Divta tidak tahu kapan tepatnya dia merasakan hatinya berdebar ketika berdekatan dengan wanita tersebut. Tanpa sadar pria tersebut menaruh hati pada janda anak dua itu.
Namun, sayang inilah puncak paling menyedihkan dalam hidupnya. Wanita yang dia sukai itu sudah dianggap sebagai ibu kandung sendiri oleh keduanya anaknya. Tetapi dia tak bisa menggapai hati wanita itu karena nyatanya wanita tersebut malah memilih cinta yang lain.
"Aku tidak peduli kau menolak ku atau tidak, aku akan memaksa untuk kembali padamu," ucap Chelsea.
Chelsea jenggah sendiri melihat Divta yang hanya diam saja seperti tak memiliki gairah untuk hidup.
"Divta," panggil wanita itu pada mantan suaminya.
__ADS_1
"Jangan pernah bermimpi untuk kembali Chelsea, karena apapun yang akan kau lakukan untuk mendapatkan hatiku. Aku tak akan menerima dan mencintai mu lagi. Setelah kau pergi meninggalkan luka di hatiku, saat itu aku sudah berhenti mencintai mu," ucap Divta dengan suara lantang dan juga tegas.
Divta takkan membiarkan dirinya kembali pada orang yang salah. Hatinya sudah mati karena penghianatan Chelsea. Untuk menerima wanita ini kembali menjadi istrinya, Divta rasa hal tersebut adalah kegilaan yang akan membuatnya jatuh pada lubang yang sama.
"Apa kau masih memikirkan Ara?" tuding Chelsea.
Hingga sekarang, Chelsea masih begitu membenci adik tirinya tersebut. Entah apa yang membuat wanita ini tak menyukai adiknya sendiri. Entah karena iri atau ada hal lain.
"Siapapun yang aku pikirkan itu bukan urusan mu lagi Chelsea," sahut Divta menatap mantan istrinya itu dengan sinis.
Divta masih ingat bagaimana Chelsea meninggalkan nya. Bahkan dia harus merawat kedua putranya yang masih bayi kala itu. Hingga sekarang kedua anaknya tidak mengenal siapa ibu mereka. Tanpa sengaja atau memang tidak tahu, Al dan El memanggil Chelsea dengan panggilan tante.
"Ingat Divta kau hanya milikku dan aku tidak akan melepaskan dirimu begitu saja, aku akan melakukan segala cara untuk mendapatkan mu kembali. Al dan El akan jatuh ke tangan ku," ucap Chelsea mengancam.
Divta tetap tenang, lelaki itu tak takut sama sekali. Walau dia tahu Chelsea adalah wanita nekad. Tetapi wanita itu takkan bisa mengalahkan dirinya. Dia seorang abdi negara yang memiliki kuasa hukum, tentu tidak akan dengan mudah untuk Chelsea mengambil kedua anaknya kembali.
"Lakukan sesuka hatimu Chelsea. Ambil saja jika kau bisa. Tetapi kau harus ingat sedang berhadapan dengan siapa. Aku tidak akan tinggal diam jika kau berani merebut kedua putraku, apalagi sampai melukai mereka. Sedikit saja kulit mereka tergores, maka kau akan bayar dengan darah," ancam Divta tersenyum miring.
__ADS_1
Lelaki itu berdiri dari duduknya. Sebenarnya dia lelah mengurus Chelsea setiap hari. Chelsea juga menjadi penghambat Divta meraih cinta Ara hingga wanita itu jatuh kedalam pelukan lain.
"Jangan menggangguku lagi, Chelsea. Aku punya batas kesabaran. Aku tidak melarang mu bertemu anak-anak. Tetapi jika kau berniat merebut mereka, maka bersiaplah menerima hadiah dariku."
Setelah berkata demikian, lelaki itu melenggang pergi meninggalkan sang mantan istri yang tampak kesal karena dirinya. Divta lelah setiap hari hanya mengurusi Chelsea, padahal dia tidak ingin tahu apapun yang di lakukan wanita tersebut. Namun, Chelsea seperti nya benar-benar memancing emosi Divta.
Divta masuk kedalam mobil, lelaki itu masih memakai pakaian dinas. Niatnya makan siang, malah bertemu dengan sang mantan. Mau menghindar percuma karena sudah terlanjur dilihat.
"Ra," gumam Divta.
Perasaan nya pada Ara masih membekas hingga kini. Entahlah, Divta merasa wanita ini memiliki daya tarik tersendiri. Dulu dia begitu dekat dengan Ara sebelum kedatangan Dante dan Chelsea. Tetapi semua perlahan berubah saat Ara masuk dan bekerja di perusahaan milik kakak iparnya itu.
"Apa kau tahu, Ra? Aku masih mencintai mu, sangat," lirih Divta.
Melihat Ara bersanding dengan Dante di pelaminan membuat hati lelaki itu tergores sakit. Kadang dia menatap sendu wajah kedua putranya yang begitu menginginkan Ara menjadi ibu sambung mereka. Tetapi apa daya, wanita itu tak bisa dia jangkau dengan tangannya.
"Aku belum ikhlas melepas mu," ucap nya lagi terdengar lirih dan menyayat hati.
__ADS_1
Tanpa sadar lelaki itu meneteskan air matanya. Terlalu sering disakiti dan patah hati membuat Divta sensitif terhadap perasaan. Apapun yang bersangkutan dengan hati, baginya itu bukanlah main-main. Selalu saja meninggalkan luka yang mendalam, hingga dia tak mampu menyelami nya.
Bersambung...