Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. Tuduhan


__ADS_3

Kak Rimba melepaskan pelukanku. Dia seka air mataku dengan jari-jari kekarnya.


"Sudah jangan menangis lagi," ucapnya tersenyum hangat.


"Terima kasih, Kak."


Di titik terapuh aku menjadi seorang wanita yang di khianat oleh suamiku sendiri. Aku bersyukur memiliki orang-orang yang selalu mendukungku dalam segala hal. Sahabat dan keluarga seperti menjadi pondasi kekuatan agar aku tetap kuat menjalani pahitnya kehidupan ini.


"Sudah sarapan?"


Aku mengangguk. Aku sarapan hanya sedikit saja karena nafsu makanku berkurang sejak kejadian di rumah tanggaku. Ternyata kejadian ini tak hanya menguncang jiwaku tetapi juga ragaku.


"Temani Kakak sarapan," ucapnya.


"Aku minta Lidya siapkan sarapan untuk Kakak," sahutku.


"Terima kasih, Adik Kecil." Kak Rimba mengacak rambutku.


"Kakak." Aku merenggut kesal.


Seandainya waktu bisa di ulang kembali, aku ingin menjadi anak kecil lagi. Andai waktu bisa di ulang kembali, aku tak ingin dewasa seperti ini. Menjadi anak kecil lebih enak, hanya tahu menangis saat lapar atau saat mata mengantuk. Sementara dewasa iri berat, ada beberapa beban yang seperti tak mampu di angkat boleh bahu. Apalagi jika bersangkutan dengan perasaan.


"Kak, terima kasih ya. Sudah mau menghibur Nara," ucapku tersenyum.


"Kakak 'kan sudah bilang. Kakak tidak akan pernah meninggalkan kamu. Kakak akan temani kamu melewati ini," sahut Kak Rimba.


Seandainya Mas Bintang yang mengatakan hal tersebut. Aku pasti akan sangat bahagia karena mendengar hal itu dari mulut pria yang ku cintai.


"Kak," panggilku.


"Iya, Ra. Kenapa?" tanya Kak Rimba lembut.


"Maaf ya, aku belum bisa balas perasaan Kakak," ucapku. Statusku sekarang masih istri orang. Bagaimana bisa aku menerima ungkapan cinta dari pria lain.


Kak Rimba tersenyum hangat. Lalu dia usap kepalaku dengan lembut dan sayang. Lelaki idaman ini selalu mampu membuatku merasa seperti wanita beruntung. Sayang, perasaan itu belum ada. Aku juga tidak tahu apakah masih bisa jatuh cinta saat ini.


Brak!


"Oh jadi ini yang kamu lakukan, Nara?"


Kami sontak menoleh kearah pintu masuk. Tampak Mas Bintang datang wajah merah padam.

__ADS_1


"Mas Bintang." Aku dan Kak Rimba berdiri melihat kedatangan suamiku.


"Dasar, perebut istri orang."


Bugh!


Mas Bintang melayangkan pukulan di wajah Kak Rimba


"Mas."


Aku terkejut bukan main. Apa Mas Bintang lakukan?


Mas Bintang menarik kerah baju Kak Rimba. Anehnya Kak Rimba diam saja dengan senyuman devil yang bisa ku lihat dari tatapan matanya.


"Kamu benar-benar lelaki tidak tahu diri. Kamu merebut Nara dari aku!" bentak Mas Bintang.


Kak Rimba menyunggingkan bibirnya, "Bukannya kalian sudah mau bercerai? Lalu apa salahnya kalau aku mendekati Nara? Aku mencintainya," jawab Kak Rimba tenang.


"Brengsek."


Mas Bintang hendak memukul Kak Rimba tetapi dengan sigap tangan Kak Rimba menahan dan mencengkram tangan suamiku.


Kak Rimba mendorong Mas Bintang hingga terjerembab ke lantai.


"Kamu sudah tidak berhak mengurus kehidupan Nara," ucap Kak Rimba yang terlihat marah.


"Dia masih istriku," jawab Mas Bintang sambil berdiri.


"Istri yang kamu sia-siakan," sahut Kak Rimba.


"Kak, sudah." Aku menghampiri Kak Rimba. "Wajah Kakak luka," ucapku panik.


"Kakak tidak apa-apa," sahut Kak Rimba dengan senyuman manisnya. Padahal bagian bibirnya sudah mengeluarkan darah.


"Nara, aku kecewa sama kamu." Mendengar ucapan itu aku menoleh kearah suamiku yang menatap kami berdua.


"Kenapa Mas kecewa?" Aku tersenyum mengejek.


"Kamu menuduh aku berpoligami. Tanpa sadar kamu juga berpoligami, Nara. Kamu menjalani hubungan dengan lelaki lain di saat kamu masih jadi istri aku," tuding Mas Bintang sambil menunjuk wajahku dengan wajah merah penuh emosi.


Aku menatap Mas Bintang sambil menggeleng. Sebelumnya aku tidak pernah dekat dengan Kak Rimba, aku selalu menjaga jarak karena memang sadar bahwa aku wanita bersuami. Tetapi saat melihat perbuatan suamiku sendiri, akhirnya aku memutuskan menceritakan keretakan rumahtangga kami pada Kak Rimba karena aku tidak tahu harus meminta saran dan masukan pada siapa lagi.

__ADS_1


"Bagaimana rasanya, Mas? Bagaimana rasanya ketika orang yang kamu sayang bersama orang lain?" Aku menatap Mas Bintang tajam. Apa dia tahu bagaimana dulu aku tersiksa karena sikapnya. Dia tak hanya membawa Mbak Mona di kehidupan rumahtangga kami tetapi juga menciptakan kebencian yang telah mendarah daging.


Mas Bintang langsung terdiam dan menatapku berkaca-kaca. Dokter tampan yang biasa kulihat selalu terurus dengan pakaian rapi-nya, kini sangat lusuh dan tak terurus. Apalagi sejak masalah yang menghadang rumah tangga kami.


"Maafkan aku, Nara. Aku tidak aku kehilangan kamu," ucapnya tersungkur di depanku dan berlutut di kakiku.


Aku sudah bosan mendengar kata aku tidak aku kehilanganmu. Mas Bintang sudah terlambat, mau dia menangis berlutut ribuan kalipun. Aku tidak akan pernah mau kembali pada orang yang sama.


"Kamu bilang tidak mau kehilangan aku. Tanpa kamu sadari, Mas. Bahwa kamulah yang membuat aku pergi. Kamu yang menciptakan racun dalam rumahtangga kita. Sudah berapa kali aku katakan, jangan pernah kembali lagi di kehidupan aku. Aku tidak akan pernah mau kembali lagi pada lelaki yang salah," jelasku. Aku berusaha sekuat tenaga menahan air mata agar tidak jatuh.


"Nara, aku moh_"


"Pergi dari sini, Mas," usirku.


"Tapi, Na_"


"Pergi, Mas. Aku tidak mau melihat wajah kamu lagi dan sampai bertemu di pengadilan," ucapku tegas tanpa mau melihat Mas Bintang.


Lelaki itu menatapku sekilas sebelum akhirnya berbalik dan meninggalkan ruangan kerjaku.


"Ra."


"Kak, ayo obati luka Kakak dulu," ajakku menuntun Kak Rimba duduk di sofa.


Kak Rimba mengangguk. Lalu aku mengambil kotak P3K yang selalu tersedia di dalam nakas.


"Kak, maaf ya. Gara-gara aku, Kakak jadi seperti ini," ucapku merasa bersalah.


Dia menggeleng sambil tersenyum hangat padaku. Aku mengobati luka Kak Rimba, sesekali dia meringgis kesakitan. Entah berapa kuat Mas Bintang memukul lelaki ini sehingga bibirnya mengeluarkan darah segar?


Aku menghela nafas panjang setelah selesai mengobati wajah Kak Rimba. Pagi-pagi mood-ku di uji dengan kedatangan Mas Bintang. Padahal pagi ini aku dan Kak Rimba akan membahas masalah proyek kami yang belum selesai.


"Jangan terlalu di pikirkan," ucap Kak Rimba melepaskan jasnya.


"Aku sebenarnya tidak ingin memikirkan masalah ini, Kak. Tapi aku tidak bisa menghilangkan pikiranku pada Mas Bintang," jawabku jujur.


"Perlahan kamu pasti bisa melupakan Bintang. Semua hanya masalah waktu saja," sahut Kak Rimba.


Mungkin memang benar jika semua hanya masalah waktu saja. Tetapi rasanya lelah menanti hari yang aku takutkan. Hari perpisahan yang tak pernah aku bayangkan sama sekali. Hari perpisahan yang benar-benar akan menjadi sejarah dalam perjalanan cintaku. Semoga dan semoga setelah ini kebahagiaan menghampiriku. Walau aku tidak tahu, Apakah masih bisa jatuh cinta lagi seperti dulu?


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2