Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 05. Tata Story 03.


__ADS_3

Aku menata makanan di atas meja. Sembari menunggu suami dan anakku menuju meja makan. Tumbennya hari ini Mbak Queen bangun cepat dan membantuku menyiapkan makanan.


"Makanan kesukaan Gevan apa ya, Ta?" tanya Mbak Queen.


"Untuk apa Mbak tahu makanan kesukaan suamiku?" tanya balikku menatap Mbak Queen curiga.


Aku bukan Kak Nara yang lemah lembut dan mudah di bully. Entah kenapa aku merasa Mbak Queen ini memiliki niat yang tidak baik untuk keluargaku? Dia seperti sengaja mencari tahu hal-hal tentang suamiku.


"Memangnya tidak boleh ya, Ta? Kalau Mbak ingin tahu. Iya siapa tahu nanti pas kamu tidak ada di rumah Mbak bisa masak untuk Gevan," jelas Mbak Queen tersenyum hangat. Seolah pertanyaan sinisku sama sekali tidak dia hiraukan.


Memang aku sering berpergian meninjau cabang butikku di kota lain. Tetapi tetap suamiku sama sekali tidak mau makan masakan sembarangan. Kalau aku tidak ada, dia pasti pulang ke rumah kedua orang tua nya.


"Mas Gevan itu tidak mau makan masakan orang lain. Selain masakan aku, jadi Mbak percuma tahu apa masakan kesukaan suamiku," jawabku seraya memaksakan senyum.


"Mbak minta maaf ya, Ta. Jangan salah paham," ucap Mbak Queen terlihat tak enak hati.


"Tidak apa-apa, Mbak," jawabku.


"Pagi, Mama," sapa Lala.


Kedua orang itu berjalan ke arah meja makan sembari bergandengan tangan satu sama lain. Senyum Lala seolah mampu mengalihkan duniaku. Dia yang membuat aku betah berlama-lama di rumah.


"Pagi, Sayang," sapa Mas Gevan mengecup kening seperti biasa.


"Pagi juga, Mas," balasku. "Ayo sarapan!" ajakku.


Mas Gevan dan Lala duduk berdampingan. Sementara tatapan Mbak Queen tak lepas dari suamiku. Mataku dari tadi mengawasinya. Huh, sebelum terjadi sesuatu yang tidak aku inginkan sebaiknya aku harus segera meminta Mbak Queen pindah dari sini.


"Pagi, Van," sapanya pada suamiku.


"Pagi," balas Mas Gevan tersenyum.


Tunggu, suamiku ini hampir tak pernah tersenyum pada orang lain kecuali pada aku dan Lala. Namun, kenapa kali ini dia seperti bahagia saat di sapa oleh Mbak Queen?

__ADS_1


"Oh ya, Ta. Pagi ini kamu yang antar Lala ya, aku ada jadwal operasi pagi takut tidak sempat," ucap Mas Gevan melirik arloji di tangannya.


"Iya, Mas," jawabku.


Kami sarapan. Dari tadi aku perhatikan Mbak Queen curi-curi pandang pada suamiku. Atau hanya memang perasaanku saja yang takut kehilangan Mas Gevan, sebab aku terlalu mencintai suamiku. Apalagi zaman sekarang banyak sekali orang yang ingin menghancurkan rumah tangga orang lain.


"Sayang, Mas berangkat duluan ya. Jangan lupa makan siang," pesan Mas Gevan.


"Iya, Mas." Aku mencium punggung tangan suamiku.


"Anak Papa, semangat sekolah dan belajarnya. Ingat jangan nakal," ucap Mas Gevan memberikan ciuman pada putri kecilnya.


"Iya, Pa."


Lala membalas ciuman Mas Galvin di pipi membuat suami tampanku terkekeh pelan. Aku juga tersenyum gemas. Harapan demi harapan aku sematkan. Semoga keluargaku tetap utuh seperti ini tanpa ada gangguan dari orang luar.


Setelah Mas Gevan berangkat. Aku masuk ke dalam mobil bersama Lala. Sementara Mbak Queen tetap di rumah karena dia belum mendapatkan pekerjaan dan tidak memiliki kesibukan lainnya.


"Ma, tadi Lala perhatikan kok Tante Queen melihat Papa terus ya?" ujar Lala.


Sampai di sekolah Lala, aku langsung turun dari mobil dan mengantar anakku di depan gerbang serta memastikan bahwa dia akan sampai dalam kelas.


Kuhembuskan napas kasar. Kupejamkan mata sejenak. Kenapa ucapan Lala tadi terus terngiang di kepalaku?


Aku masuk kembali ke dalam mobil. Lalu meninggalkan sekolah Lala. Bayanganku terus saja tertuju pada Mas Gevan. Ketakutan akan kehilangan sosok suamiku seolah menghantui pikiran yang ingin aku tenangkan.


Sebelum semuanya terlalu dalam. Harusnya Mas Gevan memikirkan bila ingin bertahan denganku, jika rasanya setengah hati biarlah aku yang berlalu. Aku mencintainya. Dan ini bukan hal yang mudah baginya. Dia akan melalui banyak hal karena kucintai. Pikiran-pikiran yang aneh. Kegiatan dan pekerjaan yang menyita waktuku. Pola hidup dan hal-hal yang sering kuhadapi. Apakah dia bersedia bertahan demi semua itu? Demi impian dan begitu banyak mimpiku.


"Mas, aku takut kehilangan kamu. Semoga kamu juga takut kehilangan aku. Agar kita menjaga cinta ini bersama-sama. Tak ada curiga. Tak ada pertanyaan aneh dari sikap yang mulai berubah."


Aku tak punya waktu banyak untuk menyediakan pelukan. Akan jarang sekali menyediakan waktu penuh kehangatan. Bagiku, ada beberapa hal yang memang harus kuperjuangkan saat ini. Dia tahu sejatuh apa aku di hari lalu sebab terlalu dalam mencintai.


Keasyikan dengan lamunan. Aku sampai tak sadar jika sudah sampai di butik. Aku mencoba tenang dan menetralisir emosiku. Berpikir positif bahwa rumah tanggaku baik-baik saja. Aku dan Mas Gevan akan saling menjaga seperti janji di depan Tuhan dan para saksi.

__ADS_1


"Selamat pagi, Bu," sapa para pengawaiku.


"Pagi," balasku.


"Oh ya, Bu. Tadi ada laki-laki tampan mencari Ibu, katanya mau tanya-tanya gaun pengantin yang cocok untuk calon istrinya," jelas Lia, salah satu pengawaiku.


"Sekarang dia di mana?" tanyaku.


"Ada di ruang tamu, Bu," jawab Lia.


"Suruh dia temui saya di ruangan ya," ucapku.


"Baik, Bu."


Aku berjalan menuju ruanganku. Sejak lulus kuliah aku memang sudah berbisnis butik tentunya dengan bantuan Daddy dan Kak Naro. Aku belum terlalu paham dunia bisnis kala itu. Tetapi perlahan setelah aku jalani bertahun-tahun, akhirnya usahaku tidak sia-sia.


"Selamat pagi, Bu."


Aku mengangkat pandanganku dan tersenyum melihat pria yang ada di depanku ini.


"Selamat pagi juga, Pak," balasku menyambut uluran tangannya. "Silakan duduk, Pak!" ucapku mempersilakan.


"Terima kasih, Bu," jawab lelaki tersebut. Dia masih sangat muda, mungkin usianya di atasku tetapi tua sedikit.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanyaku.


"Jadi, begini, Bu. Saya sedang mencari gaun pengantin yang cocok untuk calon istri saya. Menurut Ibu mana yang cocok untuk calon istri saya ya? Saya tidak mau yang terlalu terbuka, Bu. Kalau bisa yang sederhana tapi mewah," jelasnya panjang lebar.


"Kapan pernikahannya, Pak?" tanyaku sembari mencoret-coret kertas yang ada di atas meja.


"Bulan depan, Bu," jawabnya.


"Calon istri Bapak tidak ikut?" tanyaku penasaran. Biasanya pasangan yang mau menikah itu bersama-sama mengukur baju, ini kenapa hanya suaminya saja? Istrinya ke mana?

__ADS_1


"Calon istri saya sedang sakit, Bu. Dia tidak bisa ikut."


Bersambung...


__ADS_2