Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
S2. Setuju


__ADS_3

"Lho, memangnya kenapa? Mentari anaknya baik dan Mama juga suka sama sikap dia," sahut Dona tak habis pikir ketika anaknya mengomel tidak jelas seperti itu.


"Ihh, Mama sama saja seperti Rein. Anak baik dari mana sih, Ma. Mama tidak lihat dia juga genit-genit sama Divta?" gerutu Audrey yang tidak terima jika Mentari di puji.


Dona geleng-geleng kepala melihat sikap putrinya. Audrey menuruni sifat sang ayah hang arogant dan sombong berbeda dengan Rein yang ramah seperti ibunya.


"Lalu kamu takut kalau Divta itu jatuh cinta sama Mentari?" Dona memincingkan matanya curiga. "Kamu takut tersaingi?" Seraya menatap putrinya tersebut.


"Iya tidaklah, Ma. Mana mungkin Mentari menyaingi aku apalagi membuat Divta jatuh cinta. Di lihat dari sisi manapun dia dan Divta tidak cocok," sergah Audrey yang tidak terima jika Mentari akan membuat Divta jatuh cinta.


Audrey wanita cantik dan berkelas, seorang dokter spesialis penyakit dalam yang baru menyelesaikan pendidikannya di usia 28 tahun. Kedua orang tua nya berpisah karena sang ayah menikah lelaki tetapi walau begitu ayahnya tetap memenuhi kebutuhan sang ibu serta biaya sekolah anak-anaknya.


"Iya sudah kalau kamu tidak takut, biarkan saja," ucap Dona tersenyum simpul.


Audrey melipat kedua tangannya di dada. Dia rela menolak beberapa tawaran di rumah sakit yang ada di Jakarta, demi pulang ke Kalimantan dan bertemu Divta. Dia memang tidak kenal Divta sebelumnya tetapi saat melihat foto yang ibunya kirim dia sudah tertarik pada lelaki itu. Audrey bahkan tak peduli dengan status Divta yang duda. Baginya, pria itu sangat menarik.


"Pokoknya aku tidak mau Rein dekat dengan Mentari," sarkas Audrey yang tidak mau tahu.


"Audrey, kamu tidak akan bisa mengatur adikmu. Kamu tahu 'kan betapa kerasnya Rein? Sudah biarkan saja, lagian tidak ada salahnya Rein dekat dengan Mentari," jelas Dona berusaha memberikan pengertian.


"Tidak. Pokoknya aku tidak mau!" tolak Audrey keras lalu melenggang masuk ke dalam kamarnya karena kesal.


Dona geleng-geleng kepala saja melihat sikap putrinya ini. Apa yang tidak di sukai Audrey pada Mentari? Padahal gadis itu sederhana dan juga kelihatannya baik, tidak neko-neko dan terlihat apa adanya.


"Ma."


Rein berhampiri sang ibu. Calon dokter itu memang manja pada ibunya apalagi sejak kecil dia memang sudah kehilangan sosok seorang ayah yang tega meninggalkan anak dan istrinya demi kebahagiaan bersama perempuan lain.


"Kenapa, Rein?" tanya Dona menyambut putranya dengan senyum. Walau mereka sering bertengkar karena sifat Rein yang suka bangun kesiangan, tetapi sesungguhnya ibu dan anak itu sangatlah dekat.


"Kak Audrey, kenapa?" Rein melirik pintu kamar kakaknya. "Baru pulang sudah mengomel seperti itu!" Lelaki tersebut menggelengkan kepalanya salut.


"Kamu 'kan sudah kenal, Kakakmu seperti apa?" sahut Dona terkekeh pelan.

__ADS_1


Rein tampak menghela nafas panjang, lalu terdiam sejenak sambil melamun. Entah apa yang di lamunkan pemuda tersebut.


"Kenapa?" Dona melirik anak lelakinya sedangkan tangannya sibuk merajut kasih di tangannya.


"Menurut Mama, Tari itu bagaimana?" tanya Rein meminta pendapat. Sebab dia yakin jika sang ibu lebih tahu ciri-ciri pasangan yang cocok untuk anaknya.


"Tari, ya?" Dona tampak berpikir. "Dia baik dan masih polos," sahut Dona.


"Kalau begitu Rein tidak salah pilih 'kan, Ma?"


Dona tersenyum, "Tidak. Kamu sudah memilih gadis yang benar. Hanya saja jangan pikirkan masalah asmara dulu. Selesaikan kuliahmu baru memikirkan pasangan," nasehat Dona pada anak lelakinya.


"Iya Ma, Rein tahu. Tapi Rein mau serius sama Tari. Lagian Tari baru semester 3. Nanti kalau Rein lulus duluan terus Rein kerja dan Tari kuliah, biar Rein saja yang bayar biaya kuliah Tari," jelas Rein dengan senyuman sumringahnya sembari membayangkan masa depannya dengan Mentari. Dia bahkan sudah menyusun rencana masa depan untuk mereka.


Dona terkekeh mendengar impian anaknya yang sudah melalang jauh, padahal usia Rein masih muda. Dia masih kuliah dan belum mendapatkan pekerjaan apalagi mencari uang sendiri.


"Yakin bisa?" goda Dona.


"Tentu saja bisa, Ma. Rein akan bekerja lebih keras. Makanya Rein belajar lebih giat lagi," sahutnya.


"Iya, Ma."


.


.


Wajah Mentari masih merah akibat ciuman Divta yang mendadak tadi, dia bahkan belum siap dan belum pernah sama sekali.


"Ayo," ajak Divta mengenggam tangan Mentari.


"Pak, untuk sekarang bisa tidak jangan terlalu menempel? Bukan, maksud saya Ibu 'kan belum tentu merestui hubungan kita jadi kita jalani saja dulu," ucap Mentari mencoba memberi pengertian.


Divta menghela nafas panjang dan berusaha memahami walau dia tidak suka. Untuk kali ini Divta ingin memperjuangkan cintanya. Dia tidak ingin gagal lagi, walau Mentari masih muda dan belia tetapi akan dia pastikan bahwa gadis itu akan jadi miliknya nanti.

__ADS_1


"Iya sudah. Ayo masuk," ajak Divta.


Keduanya berjalan masuk. Divta berjalan di depan mentari. Sedangkan gadis tersebut berjalan sambil menundukkan kepalanya dengan jari tangan yang saling meremas satu sama lain.


"Kalian dari mana saja?" tanya Melly melipat kedua tangannya di dada dan menatap curiga kedua orang itu, apalagi Mentari yang menunduk dan wajah Divta yang tersenyum.


"Keluar sebentar, Ma," sahut Divta.


"Tari, kamu masuk kamar Al dan El dari tadi dia mencari kamu," pungkas Melly menatap gadis tersebut tak suka.


"Baik, Bu," sahut Mentari masuk ke dalam kamar Al dan El.


"Mama curiga sama kamu Divta?" Melly memincingkan tatapan matanya.


"Curiga apa, Ma?" tanya Divta sambil duduk di sofa.


"Kamu suka sama, Tari?" Melly melihat wajah Divta yang tak biasa. Putranya ini jarang sekali tersenyum apalagi sejak perpisahannya dengan Chelsea.


"Kenapa kalau aku suka sama Tari? Ada yang salah, Ma?" tanya Divta santai sambil menyandarkan punggungnya.


"Divta, Mama ingatkan kamu sekali lagi. Jangan coba-coba suka sama Tari. Kamu itu sudah di jodohkan dengan Audrey. Lagian, apa kata dunia seorang abdi negara menyukai pengasuh anaknya yang dari kampung itu," jelas Melly dengan menggebu-gebu. Kecurigaannya benar-benar terjadi, melihat cara Divta memperhatikan Mentari memang berbeda dari yang sebelumnya.


Sebenarnya Melly sudah curiga ketika Divta mengajak Mentari ke pesta. Tak pernah dulunya putranya itu mau mengajak orang lain ke pesta apalagi seorang wanita.


"Kenapa harus pedulikan kata dunia? Yang penting aku dan Tari bahagia," sarkas Divta tetap santai. "Sudahlah Ma, aku mau ke kamar dulu," pamit Divta.


"Divta, Mama belum selesai bicara!" panggil Melly kesal.


"Aku mengantuk, Ma. Good night."


Lelaki itu masuk ke dalam kamarnya sambil tersenyum simpul membayangkan ciuman hangat mereka tadi.


Divta melirik dirinya di depan cermin. Dia menyentuh bibirnya bekas ciuman dengan Mentari. Bayangan gadis itu benar-benar tak bisa lepas dari kepalanya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2