Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Menemani anak Boss


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


"Ra, kamu antar saja Tata. Aku langsung keruangan," pamit Mira keluar dari mobil.


"Ya tega nya Mir." Bukan apa aku mengatakan tega, setelah ini pekerjaan ku banyak sekali. Apalagi ada beberapa laporan bulan ini yang harus aku selesaikan.


"Sudah libur saja dulu kamu hari ini, bye," sergah Mira melambaikan tangan nya lalu berjalan setengah berlari karena takut aku kejar.


"Mommy, kita keluangan Daddy," pinta Tata.


"Iya Sayang," sahutku memaksakan senyum.


Aku yakin pasti setelah ini ada lagi gosip yang beredar tentang aku. Kemarin saja aku dituduh menggoda Pak Dante sehingga bisa menduduki jabatan sebagai Kasie Keuangan.


Lift kembali berjalan, ruangan Pak Dante berada dilantai paling atas dari semua lantai yang ada di gedung ini. Beberapa hari ini sejak sidang pidana Mas Galvin, aku memang jarang bertemu Pak Dante lantaran pekerjaan yang banyak. Pak Dante juga sedang meninjau beberapa lokasi yang akan dibangun pabrik baru.


"Mommy, nanyi pulang sama Tata ya. Kiya yidul baleng Daddy. Tata ingin yidul sambil peyuk Mommy," ucap Tata. Aku terdiam mendengar permintaan gadis kecil ini. Bagaimana bisa aku mewujudkan keinginan Tata untuk tidur bersama aku dan Daddy nya. Kami tidak memiliki bukan pasangan suami istri dan yang lebih tepatnya kami tak memiliki hubungan apapun.


"Bu, Nona tidak pernah melihat wajah Ibu nya, sehingga dia menganggap Ibu sebagai Mommy-nya," jelas Mbok pengasuh Tata dengan sendu.


"Memang nya Mommy Tata kemana, Mbok?" tanya ku pura-pura tak tahu. Padahal kata Mira istrinya Pak Dante meninggal gara-gara melahirkan Tata.


"Istri Bapak meninggal Bu, saat melahirkan Nona kecil," jawab nya sendu dan menatap Tata kasihan.


"Nama Mbok siapa?" tanya ku mengalihkan pembicaraan.


Jika berbicara siapa yang terluka karena kehilangan, semua orang juga merasakan luka yang sama. Perpisahan itu tetap menyakitkan walau bentuknya berbeda. Contohnya, aku dan Mas Galvin. Meski kami berpisah bukan karena maut, tetapi tetap saja ada luka yang mengangga didalam sana. Dan sampai sekarang, luka itu belum sembuh. Mungkin akan perlu waktu lama untuk bisa menyembuhkan luka dihati ini.


"Nama Mbok, Mbok Narti, Bu. Ibu bisa panggil Mbok saja. Mbok pengasuh Nona Kecil, Bu," jelas Mbok Narti.


Aku mengangguk dan memaksakan senyum. Pintu lift terbuka, kami bertiga keluar dari lift. Entah kenapa jantungku berdebar saat masuk kedalam ruangan Pak Dante. Apalagi kemarin aku sempat marah-marah karena Pak Dante yang menanyakan masalah ku dan Mas Galvin.


"Daddy," panggil Tata.

__ADS_1


Pak Dante yang sedang sibuk dengan laptop didepan nya sontak menoleh kearah kami.


"Tata." Sontak dia berdiri dari duduknya.


"Daddy." Tata tersenyum sumringah. "Daddy, Tata sudah belyemu Mommy," ucap nya dengan bangga sambil memeluk leherku.


Kening Pak Dante tampak berkerut heran. Dia menatapku aneh, sementara aku ingin rasanya menenggelamkan wajahku ke sungai saking malu nya. Aku takut Pak Dante berpikir jika aku berusaha mendekati nya, apalagi dia tahu status ku yang seorang wanita beranak tanpa suami.


"Mommy?" ulang nya.


"Iya Daddy, ini Mommy Tata," sahut Tata tersenyum senang.


"Oh begitu." Pak Dante tampak beroh-ria saja, meski bisa kutebak jika didalam hatinya bertanya-tanya.


"Mbok, kenapa Tata bisa ada disini?" tanya nya melihat kearah Mbok Narti.


"Maaf Pak, Nona Kecil tidak mau sekolah karena di bully sama teman-teman nya tidak punya mommy," jelas Mbok Narti sambil menunduk.


Pak Dante terlihat menghela nafas panjang. Pasti sakit sekali ketika ucapan-ucapan itu didengar oleh nya. Tidak ada orang yang mau kegiatan orang yang disayangi jika bukan karena takdir Tuhan yang berkehendak.


"Ya sudah Mbok, Mbok pulang saja duluan. Minta Kang Asep yang antar!" perintah Pak Dante


Tata jangan mengangguk, dia masih betah memeluk leherku. Sedangkan aku rasanya ingin kabur. Apalagi jarum jam terus berdenging, menandakan bahwa bahwa sudah berganti waktu. Sementara pekerjaan masih menumpuk.


"Sayang, sini sama Daddy," ucap Pak Dante mengulurkan tangannya. "Kita makan ya, Tata pasti belum makan," sambungnya


"Yidak mayu, Tata mayu sama Mommy," tolaknya keras sembari memeluk ku seolah takut jika aku pergi meninggalkan nya.


"Tap_"


"Tidak apa, Pak. Biar saya yang suapi Tata," ucap ku. Aku harus segera mengajak Tata makan, setelah dia makan aku bisa kembali ke meja ku dan mengerjakan semua laporan.


"Ya sudah. Saya pesan makan dulu, kebetulan saya belum sarapan pagi," ucap Pak Dante.


Aku mengangguk dan mengajak Tata duduk disofa. Walau tubuh Tata kecil tetapi jika di gendong lama, serasa membuat pinggang ku terasa encok.


"Mommy, Tata punya gambal, bagus sekali," ucap Tata dengan senyuman

__ADS_1


"Coba mana Mommy lihat!" ujar ku memasang wajah penasaran.


"Sebental Mommy," ucap Tata mengambil buku didalam tas kecil nya.


Anak-anak seperti Tata memang tidak paham akan arti kehilangan. Tetapi aku tak habis pikir kenapa dia malah menanggap aku sebagai ibu nya, padahal banyak karyawan wanita di kantor ini kenapa tidak mereka saja yang dipanggil ibu oleh Tata? Atau kenapa tidak Mira saja, dia masih single. Mira juga cocok jadi ibu sambung Tata.


"Ini, Mom. Ini Mommy dan Ini Daddy, teyus ini Tata," ujar Tata menunjukkan gambar didalam buku nya.


Aku dan Pak Dante saling melihat satu sama lain dan juga bingung dengan gambar yang dijelaskan oleh Tata.


"Nanyi Mommy pulang sama Tata dan Daddy ya," pinta Tata penuh harap.


"Tata, dia bukan Mommy kamu," ucap Pak Dante cepat.


Mata gadis kecil itu langsung berkaca-kaca dan menggeleng, dia yakin bahwa aku adalah ibu yang dia rindukan selama ini.


"Daddy bohong. Mommy," renggek Tata berhambur memelukku.


"Ta_"


"Hiks hiks Daddy jahay sama Tata. Hiks hiks." Tata menangis terisak.


Aku mengusap lembut rambut panjangnya. Perasaan gadis kecil ini terlalu sensitif, dia tidak bisa memahami ucapan orang dewasa.


"Cup, cup. Tata." Aku melepaskan pelukan nya lalu mengusap pipi Tata dengan lembut. "Jangan menangis yaaa," ucapku tersenyum lembut.


"Yapi Mommy hayus janji yidak akan pelgi lagi," kata Tata mengaitkan jari kelingkingnya dengan jariku.


Aku mengangguk dan tersenyum, sebab kalau aku menolak sudah pasti dia akan menangis lagi seperti tadi.


"Maaf merepotkan," ucap Pak Dante tak enak hati.


"Its oke Pak," sahutku.


Tidak lama kemudian makanan yang dipesan Pak Dante datang. Kami bertiga makan bersama. Tata makan dengan lahap seperti nya dia benar-benar lapar.


Aku tersenyum sambil menyingkirkan biji nasi yang menempel di bibir munggil nya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2