Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
S2 Temu rindu


__ADS_3

Di taman belakang rumah sakit. Taman yang sengaja di dekorasi sedemikian rupa oleh pemilik rumah sakit membuat para pasien betah selama di rawat di sini.


Tampak dua orang manusia yang duduk di bangku taman sambil menatap kosong ke depan dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Mulut kedua seolah terkunci dan tak mampu berucap.


Divta dan Mentari, dua manusia yang dipisahkan oleh keegoisan Melly hanya karena gadis itu berasal dari keluarga miskin yang tak pantas bersanding dengan anak laki-lakinya. Namun, seketika dia di buat bungkam saat tahu siapa Mentari sebenarnya. Bahkan jika di bandingkan dengan kekayaan ketiga kakak Mentari, harta milik keluarga Melly bukanlah apa-apa.


"Maaf," ucap Divta merasa bersalah.


Mentari melirik lelaki itu dan menggeleng, "Kenapa harus minta maaf, Mas? Mas tidak salah!" jawab Mentari tersimpul.


"Karena Mama sudah menatap kamu sebelah mata," ucap Divta.


Divta berdiri dari duduknya, lalu berjongkok di depan Mentari. Dia mengenggam tangan kekasih kecilnya itu. Perasaannya pada Mentari tak pernah berubah meski mungkin mereka akan di pisahkan oleh jarak dan waktu yang cukup lama.


"Tari." Divta menatap wajah kekasih kecilnya itu.


"Iya, Mas?"


Rindu benar-benar mengembang di dalam dada mereka berdua. Perpisahan yang terjadi seolah mengajarkan mereka betapa pentingnya menghargai kebersamaan.


"Mas, kangen sama kamu," akunya dengan satu tetes air mata keluar begitu saja.


"Apa kamu tahu? Selama kamu tidak ada, Mas merasa hidup ini tidak ada gunanya. Hidup Mas berantakan dan bahkan Mas tdiak tahu caranya menjalani hidup ini tanpa kamu. Jangan pergi lagi, hidup Mas bisa hancur," mohon Divta dengan tatapan dalamnya.


Mentari mengusap pipi basah. Bukan hanya Divta yang hancur tetapi dirinya pun hancur. Hancur lebur semua harapan yang dia ukir sedemikian rupa.


"Mas, tidak bisa hidup tanpa kamu. Mas benar-benar mencintai kamu, Tari," ungkap Divta.


Mentari menyatukan tangannya dan Divta. Dia mengusap punggung tangan lelaki itu.


"Tari juga kangen sama, Mas. Kangen banget, Mas. Tari juga tidak bisa hidup tanpa, Mas."


Divta menarik Mentari ke dalam pelukannya, sumpah demi apapun dia tidak sanggu kehilangan gadis ini dalam hidupnya.


"Kita tidak akan terpisah lagi dan Mas pastikan bahwa kita akan bersama selamanya. Kita akan bahagia," ucap Divta mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


Gadis yang dia rindukan sekarang bisa dia peluk dengan nyaman. Gadis yang dia rindukan kini ada di dalam dekapan nyamannya.


"Iya, Mas. Aku berjanji," sahut Mentari.


Mentari juga tak bisa ungkapkan dengan kata-kata seberapa besar cintanya pada lelaki ini dan bahkan lelaki ini adalah sosok yang selalu ingin dia temui. Sosok yang ingin menjadi rumah tempat dia pulang, semoga saja kisah cinta mereka abdi selamanya walau terpaut usia yang sangat jauh.


Divta melepaskan pelukannya. Dia meronggoh sesuatu di dalam celananya.


"Mentari Putri, maukah kamu menikah dengan, Mas? Maukah kamu menjadi ibu dari anak-anak, Mas? Maukah kamu menghabiskan masa tua bersama, Mas?"


Mentari menutup mulutnya tak percaya. Air mata luruh begitu saja, dia masih tak menyangka jika lelaki ini melamarnya dan memintanya menghabiskan usia.


Mentari mengangguk dan tentu dia tidak akan bisa menolak walau harus menikah muda. Cintanya pada lelaki ini lebih besar dari apapun.


"Terima kasih, Sayang."


Divta memasukkan cincin itu ke jari manis kekasih kecilnya. Dia sudah lama menyiapkan cincin tersebut bahkan sebelum mereka berpisah tetapi lagi-lagi terkadang cinta sejati itu memang banyak ujian terbukti dari Mentari dan Divta yang dulunya terpisah kini telah kembali bersama, semoga saja ini awal yang baik untuk mereka.


"Sekarang kamu adalah milik, Mas. Tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan kita."


Divta menangkup wajah Mentari lalu mengecup bibir ranum gadis tersebut dengan lembut. Bibir ini selalu menjadi candunya dan bahkan bibir ini seolah sengatan listrik yang menyentrum masuk ke dalam sana.


.


.


Ferdy dan Melly menunduk malu saat berhadapan dengan ketiga kakak Mentari. Pasangan paruh baya tak menyangka jika Mentari adalah adik dari orang-orang berpengaruh di kota ini.


"Maafkan atas perbuatan istri saya, Dok," ucap Ferdy tak enak hati.


"Sebenarnya itu bukan masalah, Pak Ferdy. Hanya saja apakah semua harus di ukur dari harta dan kekayaan serta pendidikan?" Meysa menatap keduanya dengan tatapan dingin. Mengingat cerita Susanti dan Mentari yang mengatakan bagaimana Melly memperlakukan ibu dan adiknya, membuat dirinya merasakan sakit hati.


"Maaf, Dok." Melly menunduk. "Saya hanya ingin memastikan jika anak saya mendapatkan pasangan yang baik."


"Lalu menurut Ibu, adik saya tidak baik begitu?" Jelas Meysa tak terima saat adiknya di perlakukan bak tak berharga.

__ADS_1


"Maaf."


Mat dan Marcel hanya menghela nafas panjang. Mereka sebenarnya tak mau memperpanjang masalah tetapi Meysa keukeh membahas hal tersebut sebelum adiknya itu menikah dengan Divta. Meysa tak mungkin memisahkan adiknya dengan lelaki tersebut karena dia tidak mau Mentari patah hati lagi nantinya.


"Sudahlah, Kak. Tidak usah di bahas. Sekarang yang perlu kita putuskan adalah hari pernikahan mereka," putus Marcel sebagai kakak nomor tiga dari Mentari.


.


.


"Ma, aku tak menyangka jika Tari adiknya Dokter Meysa," ucap Audrey dengan helaan nafas panjang.


"Mama juga tak menyangka," sahut Dona.


Kedua wanita itu seolah bungkam ketika mengetahui siapa Mentari sebenarnya.


"Kalau begitu jangan biarkan Rein merusak hubungan Divta dan Tari, aku takut ini nanti malah berakibat sama pekerjaanku," ujar Audrey.


"Rein sudah tahu hal ini," sahut Dona mendesah seraya menyandarkan punggungnya di sofa.


"Hah? Tahu dari mana?" tanya Audrey heran.


"Dari teman kampusnya," sahut Dona.


Keduanya terdiam sejenak dan sibuk dengan pikir masing-masing, hampir saja Audrey melakukan kesalahan besar serta berurusan dengan keluarga paling berpengaruh tersebut. Untung saja dia cepat sadar bahwa dirinya memang tidak akan bisa memiliki Divta.


"Sudah tidak usah di pikirkan. Sebaiknya kamu istirahat!" suruh Dona pada anak perempuannya.


"Iya, Ma."


Audrey masuk ke dalam ruangannya. Dia sudah berdamai dengan masa lalu bahwa cinta memang tak selalu bisa di paksakan. Bahwa cinta memang merelakan serta melepaskan sesuatu yang tidak tertakdir bersama.


"Semoga anak-anakku mendapatkan pasangan yang baik nantinya," gumam Dona.


Dona adalah wanita yang pernah mengalami pahitnya poligami dalam pernikahan. Suami yang dia cintai sepenuh hati ternyata rela menduakan cinta yang dia jaga dengan janji. Dia pun tak ingin jika anak-anaknya mengalam hal yang sama. Dia ingin kedua anaknya menemukan kebahagiaan bersama orang yang tepat. Sebab rasa trauma di masa lalu membuatnya betah menjanda hingga berpuluh-puluh tahun.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2