Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Mirip


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


"Mom, temani Tata yidul siang," pinta Tata.


Aku menghela nafas panjang. Mau menolak tidak enak.


"Iya Sayang," ucap ku.


"Ra, maaf sekali lagi. Sudah merepotkan kamu," ujar Pak Dante terlihat menarik nafas dalam.


"Tidak apa-apa, Pak," sahutku.


"Ya sudah kalian tidur di kamar saya ya," kata Pak Dante.


"Ayo Sayang," ajak ku mengangkat tubuh Tata.


Pak Dante mengajak kami masuk kedalam salah satu ruangan nya. Ruangan Pak Dante begitu mewah, ternyata ada kamar khusus istirahat juga disini seperti di novel-novel.


"Mom, ayo sini," ajak Tata yang sudah naik keatas ranjang. Sedangkan Pak Dante sudah keluar.


"Iya Nak," sahutku.


Aku melepaskan sepatu ku lalu menyusul Tata naik kasur king size tersebut. Kamar ini mewah dan bersih dengan tatapan rapi barang-barang didalam nya. Tentu nya jauh berbeda dengan kamar ku yang ada di BTN.


"Mommy, bacakan buku unyuk Tata," pinta Tata lagi


"Iya Nak," jawab ku mengambil salah satu buku yang ada diatas meja.


Aku membacakan dongeng seperti yang biasa aku lakukan untuk kedua anak ku. Tidak lama kemudian terdengar dengkuran halus dari mulut Tata. Aku tersenyum hangat sambil mengusap pipi lembut gadis kecil ini. Kasihan sekali Tata, diusia yang belum mengerti apapun, sudah harus kehilangan sosok dari seorang ibu.


Kehilangan ibu bagai kehilangan pelita dalam hidup anaknya. Begitulah yang dirasakan oleh Tata. Walau gadis ini tidak mengungkapkan perasaan sakitnya, tetapi aku paham perasaan terluka tersebut. Karena kedua anak ku juga kehilangan figure seorang Papa di usia mereka yang masih terbilang muda.


Aku menatap seluruh kamar mewah Pak Dante dan tidak sengaja aku menatap satu buah figura, terlihat sepasang suami istri yang tengah tersebut menatap kamera.

__ADS_1


"Kenapa wajah nya sangat mirip sama aku?" tanya ku mengambil foto tersebut.


Ya benar kenapa wajah perempuan yang ada didalam foto itu begitu mirip aku. Hanya yang membedakan gaya rambut, rambut nya panjang serta menjuntai yang sengaja di beri pewarna rambut.


"Apa aku kembar?" gumam ku.


Apa kebetulan ada orang yang mirip didunia ini tanpa memiliki ikatan darah? Pantas saja dipertemuan pertama kami, Pak Dante melihat ku tak berkedip. Seorang Tata memangil ku mommy, ternyata wajahku sangat mirip dengan orang yang telah pergi untuk selamanya.


"Siapa dia?" gumam ku.


Berbagai pertanyaan muncul didalam benak ku. Hingga aku meletakkan foto itu kembali ke tempatnya, sebelum perasaan aneh ini muncul dihatiku.


Ku tatap wajah Tata yang terlelap, sekilas kulihat wajah Tata begitu mirip aku, dari hidung sampai bibir. Sedangkan bagian matanya mirip Pak Dante. Aku semakin tak mengerti, apa sebenarnya yang terjadi?


Apakah aku kembar? Tetapi aku tidak pernah mendengar hal tersebut? Ayah dan ibu tidak pernah menceritakan hal ini padaku. Kak Dea dan Kak Delicia juga tidak memberitahu ku.


Aku mengenyahkan segala pikiran ku yang sudah berkelana. Ini pasti hanya kebetulan saja, aku tidak mungkin memiliki hubungan dengan almarhum istri Pak Dante yang sudah meninggal. Bisa jadi wajah kami hanya mirip saja. Dunia ini luas pasti banyak orang yang memiliki wajah yang sama.


"Mom," panggil Tata menarik tangan ku agar menepuk-nepuk pantat nya.


Tangan ku menepuk-nepuk pantat Tata, tetapi pikiran ku berkelana kemana-mana. Aku baru sadar ketika pertama kali masuk kesini, banyak yang menatapku aneh. Apa mereka mengira aku jelmaan istri Pak Dante yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.


Seperti nya Tata tahu kalau aku sedang memikirkan sesuatu. Apa pikiran kami tersambung satu sama lain? Padahal Tata terpejam, dia sama sekali tak melihat mata dan ekspresi wajahku, jadi bagaimana dia bisa tahu jika aku sedang berpikir?


"Tidak Sayang. Ayo tidur lagi," ucap ku lembut.


"Mommy, jangan pelgi lagi ya. Tata sama Daddy kesepian yanpa Mommy," ucap Tata lirih sambil mengeratkan pelukan nya apa perutku.


"Iya Nak. Mommy akan disini menemani Tata," sahutku.


Tak terdengar lagi pertanyaan dari mulut kecilnya, gadis ini terlelap dengan nyaman dipelukkan ku. Aku ikut memejamkan mataku, mengenyahkan segala perasaan yang ada didalam sana. Kenapa bayangan foto tadi masih terngiang dikepalaku? Aku tidak mungkin sedang bereinkarnasi lalu menyeruapi wajah mantan istri Pak Dante.


.


.


Saking lamanya berpikir, aku tak sadar jika aku juga tertidur dengan lelap bersama Tata. Seperti nya sudah sore, aku harus segera jemput anak-anak kesekolah.

__ADS_1


"Astag, sudah sore ternyata."


Aku turun dari ranjang dan menuju kamar mandi untuk mencuci wajah ku.


"Mommy," teriak Tata.


Segera aku berlari keluar dari kamar mandi. Takut terjadi sesuatu pada Tata, bisa digantung aku jika anak boss itu sampai celaka.


"Iya Sayang, kenapa?" tanya ku panik sambil berhambur kearah ranjang.


"Tata."


Tampak Pak Dante juga masuk kedalam kamar dengan wajah khawatir, seperti nya teriakkan Tata terdengar dari luar. Padahal harusnya kamar ini kedap suara.


"Hiks hiks, Mommy. Jangan tinggalin Tata," renggek nya memeluk ku sambil menangis.


Jika anak ini terus menempel padaku, bagaimana aku bisa pulang? Ini sudah jam pulang nya Nara dan Naro, pasti mereka sudah menunggu dirumah Bu Dessy. Kasihan kedua anakku, mereka juga pasti lapar walau sudah makan siang.


"Iya Sayang, Mommy tidak kemana-mana. Tadi Mommy hanya mencuci muka," ucap ku.


Padahal aku belum sempat mencuci muka, mendengar teriakkan Tata aku langsung berhambur kesini, takut jika terdapat sesuatu padanya.


"Tata, kamu jangan buat Daddy panik lagi. Kita pulang ya Nak," ucap Pak Dante lembut sambil mengusap rambut panjang Tata yang memeluk ku kian erat.


"Tata mayu puyang sama Mommy," renggek nya.


Astaga, jika aku ikut pulang bersama Pak Dante. Lalu anak-anak bagaimana? Tidak mungkin aku meminta tolong Divta, aku tidak mau bermasalah lagi dengan Chelsea.


"Iya iya, kita pulang sama Mommy," sahut Pak Dante tampak menghela nafas panjang.


"Ra, kamu ikut saya pulang sebentar. Nanti saya akan antar kamu," ucap Pak Dante. "Tadi saya sudah suruh Mira untuk jemput kedua anak kamu dan semua pekerjaan kamu juga sudah dikerjakan oleh yang lain," jelas Pak Dante.


Aku bernafas lega, ternyata Pak Dante cukup pengertian, untung saja semua pekerjaan ku dan anak-anak ada yang jemput. Jika belum, aku akan kalang kabut mengerjakan semua nya.


"Iya Pak, terima kasih," ucap ku memaksakan senyum.


Sebenarnya aku ingin bertanya, siapa almarhum istri Pak Dante dan kenapa begitu mirip aku? Jujur saja aku penasaran, apa sebelum nya dan almarhum istri Pak Dante memiliki hubungan darah yang tak diketahui oleh orang tua kami? Bisa jadi seperti di novel-novel atau drama-drama Korea, di mana bayi lahir kembar lalu dipisahkan oleh salah satu dokter karena ada yang ingin mengadopsi nya? Bisa jadi seperti itu.

__ADS_1


Aku menggeleng, serta menepis perasaan tak mungkin dihatiku. Tidak mungkin ada cerita seperti itu dihidupku.


Bersambung. ..


__ADS_2