Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 05. Tata Story 28.


__ADS_3

"Mas."


Tata terbangun ketika merasakan usapan lembut ku di kepalanya. Secepat mungkin aku menjauhkan tanganku dan mengusap air mata dengan kasar.


"Ta." Aku memaksakan senyum.


"Kapan Mas datang?" tanyanya.


"Tadi," jawabku menyembunyikan luka di balik senyum. "Bagaimana kondisi Lala?" tanyaku.


Tata tak melarangku bertemu dengan anakku. Kapan saja boleh asal tidak menganggu aktifitas Lala, baik di sekolah ataupun di rumah.


Tata menggeleng dengan wajah lemasnya, "Kondisi Tata semakin menurun, Mas. Setelah transfusi, Lala harus kemoterapi."


Aku mendonorkan darahku untuk Lala karena golongannya sama denganku. Memang kondisi Lala tampak memburuk. Hal tersebut membuat hatiku teriris sakit.


"Mas janji akan melakukan yang terbaik untuk Lala," ucapku menyakinkan. Aku seorang dokter walau bukan bagianku tetapi untuk anakku akan aku lakukan apa saja.


Tata mengangguk. Aku tahu betapa dia sangat sayang pada Lala. Pasti hatinya begitu terluka saat melihat anaknya terbaring seperti ini.


"Kamu kedinginan." Aku membuka jaket yang kupakai lalu kukenakan pada tubuh mantan istriku ini.

__ADS_1


"Terima kasih, Mas." Sifat Tata sudah sedikit berubah. Dia tidak dingin seperti sebelumnya.


"Sama-sama," sahutku mengangguk


Kami berdua sejenak terdiam seraya menatap Lala yang terpejam dengan nyaman tanpa terganggu dengan suara dentingan alat pendeteksi jantung yang menggema memenuhi ruangan rawat inapnya. Tak bisa kubayangkan tubuh sekecil ini harus di siksa oleh kejamnya jarum-jarum tersebut. Seandainya waktu bisa di ulang kembali, aku tidak akan pernah mengkhianati anak dan istriku.


"Aku takut kehilangan Lala, Mas. Lala satu-satunya kekuatan yang aku punya. Dia alasan aku untuk bertahan lebih lama."


Jika dulu aku adalah pria yang dia inginkan dan selalu membuatnya tersenyum. Sekarang aku hanya seseorang yang layak di sebut sebagai kenangan. Semua ulahku. Semua salahku. Semua karena kebodohanku, aku telah melepaskan emas permata hanya karena sampah yang tak berguna.


"Maafkan Mas," ucapku merasa bahwa ini adalah salahku.


"Lupakan, Mas. Tidak ada waktu untuk itu. Sekarang fokus kita adalah mencari pengobatan untuk penyakit Lala." Mantan istiku ini adalah wanita kuat dan tegas. Dia pemberani dan bijaksana. Namun, sayang dia bukan milikku lagi. Aku seseorang yang sudah dianggap sebagai kenangan yang tak layak di ingat.


Mengikhlaskan sesuatu itu butuh waktu, tidak bisa instan. Apalagi melepaskan seseorang yang begitu di sayangi. Tidak mudah, sama sekali tidak mudah. Hanya saja, sesuatu yang memaksakan diri untuk di lepas, sekeras apapun mempertahankan tetap saja akan lepas. Begitu juga dengan aku dan Tata, sekuat apapun aku mengenggam tangan Tata dan menceritakan semua keluh kesahku saat aku mengeluh karena berpisah darinya. Dia tidak akan kembali lagi memelukku seperti dulu.


Pelan-pelan saja, untuk melepaskan sesuatu yang teramat di cintai, tidak bisa dengan waktu seketika. Nikmatilah prosesnya. Jika harus cenggeng tidak apa-apa, itu tanda masih memiliki perasaan kata Nara. Karena setiap orang yang patah hati punya hak untuk cenggeng. Nanti kayu akan menjawab segalanya. Butuh berapa lama? Tidak ada yang tahu. Setiap luka punya waktu sendiri untuk sembuh. Setiap Cinta butuh waktu untuk kembali tumbuh.


"Apa Mas boleh menemani kalian di sini?" pintaku.


"Tapi bagaimana dengan Mbak Queen?" Tata menatapku.

__ADS_1


"Dia tidak punya hak melarang Mas menemani Lala," jawabku.


Tata tak menjawab. Dia kembali fokus seraya mengusap kepala Lala dengan lembut dan penuh kasih sayang. Tuhan, bolehkah waktu di ulang kembali. Aku ingin memperbaiki semua kesalahanku. Aku ingin bersama istri dan anakku. Aku berdosa. Aku benar-benar tak layak mendapat bahagia.


Aku tahu jika Tata dan Rey sedang dekat. Aku juga bisa lihat jika Rey memiliki perasaan pada mantan istiku ini. Namun, apa haknya aku cemburu? Bukankah aku memang sudah tak pantas menerima cinta dari Tata? Aku lelaki yang tak memiliki perasaan.


"Lala, kamu harus bertahan ya, Nak. Mama janji, setelah ini akan jaga kamu dengan baik. Kamu satu-satunya yang Mama punya."


Hatiku mencelos sakit. Sepertinya aku memang sudah tidak ada lagi dalam kehidupan Tata. Bahkan dia mengatakan jika Lala adalah satu-satunya yang dia miliki. Aku berusaha menahan benturan di dadaku yang berhasil memecahkan sukma. Berusaha untuk tetap menerima semua hal yang di ciptakan oleh kebodohanku sendiri.


"Ayo Lala bangun, Nak. Katanya Lala mau jadi dancer? Mama akan sekolahkan kamu di sekolah yang kamu mau. Mama akan siapkan masa depan untuk kamu. Mama akan jadi segalanya untuk kamu. Di sini ada Papa juga, walau Papa sudah tidak bersama dengan kita. Kamu tetap anak Papa dan Mama tahu kamu sayang sama Papa."


Air mata yang kutahan sejak tadi akhirnya lolos dan mengalir membasahi pipi. Rasanya sakit ketika mendengar ucapan tersebut.


Kami masih tertinggal di sini dnshsn sejuta perasaan yang belum terselesaikan oleh jawaban keegoisan. Bukan kami, maksudku aku, ya aku yang saat ini masih meninggalkan rasa pada Tata yang kini bahkan sudah tak mau menatapku lagi. Apa Tata tahu? Hal tersulit dalam hidup adalah melupakan dan menghapus semua tentangnya. Aku butuh waktu entah berapa lama?


Pahamilah, aku tidak akan pernah bisa kepada dari sesuatu. Jikalau aku tak pernah benar-benar ingin melepaskan diri sepenuhnya. Aku hanya ingin Tata menjalani semua ini dengan hal yang baru. Biarlah semua yang telah lalu benar-benar tertinggal dan tertanggal. Jangan bawa apapun, karena aku sudah melakukan hal yang sama. Aku mencintainya dengan merelakan mati kisah di hari laluku. Namun, entah kenapa bayang-bayang wajah Tata masih terlintas dan terngiang di kepalaku.


"Anak Papa, Papa di sini, Sayang. Papa kangen banget sama Lala. Papa kangen kita sarapan setiap pagi. Papa kangen mengantar Lala ke sekolah. Papa kangen belajar bareng Lala. Papa kangen semua tentang Lala. Papa ingin Lala bangun supaya kita bisa bermain lagi."


Aku tak sanggup mengingat semua kenangan yang tidak akan mungkin bisa di ulang kembali. Sesakit ini ternyata yang namanya perpisahan. Apalagi semua di sebabkan oleh egoku sendiri dan aku telah melakukan kebodohan yang membawa aku pada penyesalan dan rasa bersalah seumur hidup.

__ADS_1


"Bangun, Lala. Bangun, Nak. Papa ingin peluk kamu. Papa ingin menyuapi kamu lagi seperti dulu. Maafkan Papa. Maafkan Papa yang gagal menjadi orang tua kamu. Papa tidak sanggup melihat kamu seperti ini."


Bersambung...


__ADS_2