
SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........
CEKIDOT......
👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇
Galvin POV
Segala keputusan dan resiko telah ku pikirkan jauh-jauh hari. Mungkin ini adalah pilihan terbaik dalam hidupku. Menyerahkan hidup dan mati ku untuk anakku Nara, adalah pilihan yang tidak membuatku menyesal.
"Vin, kamu sudah yakin?" tanya Ayah.
Aku meminta kepada kepolisian untuk memberikan kesempatan menolong anakku. 20 tahun penjara apa bedanya dengan hukuman mati. Aku tak mau mati sia-sia tanpa membuat orang bangun terutama anakku.
Awalnya pihak kepolisian sempat keberatan dengan permintaan ku. Tetapi sekali lagi ku yakinkan bahwa aku sama sekali tak berniat melarikan diri dari jeruji besi ini. Maka kepolisian akan mengawasi semua pergerakanku selama operasi, bukankah ini sama dengan eksekusi mati?
"Galvin sudah yakin, Ayah," jawabku.
Ibu dan Lusia menggeleng tidak mau. Terutama Ibu yang tak pernah menginginkan keberadaan Nara, dia sangat keberatan saat tahu aku akan mendonorkan jantungku untuk Nara. Begitu juga dengan Lusia, aku baru sadar selama ini Lusia tidak pernah mencintaiku. Dia hanya terobsesi saja.
"Aku juga tidak mau kehilangan mu, Mas. Aku mohon Mas jangan," renggek Lusia.
Aku menepis tangan Lusia dengan kasar. Tidak ada yang bisa menghalangi jalanku ketika aku sudah mengambil keputusan.
"Aku akan tetap mendonorkan jantungku untuk Nara," tegasku pada Ibu dan Lusia.
"Ara itu egois, harusnya dia memikirkan keselamatan kamu. Bukan hanya memikirkan keegoisan nya sendiri," hardik Ibu.
Keluarga besar jelas tidak setuju dengan keputusan ku kali ini. Tetapi mereka tidak bisa mengatur hidupku. Keputusan ku adalah pilihan ku sendiri. Walau aku sendiri masih takut menghadapi kematian karena yang namanya kematian itu sungguh menakutkan.
Aku berjalan keluar dari kantor kepolisian bersama beberapa polisi yang mengawal ku. Aku takkan mungkin kabur, kabur juga percuma takkan membuat aku lepas dari hukuman.
Aku masuk kedalam mobil. Tanganku tetap di pasang borgol sesuai kesepakatan. Tak ada beda nya dengan eksekusi mati. Tetapi mungkin ini mati dalam keadaan tidur tanpa merasakan sakit, sebab pengaruh obat bius akan membuatku tak merasakan apapun.
"Papa merindukan kamu, Nak," gumam ku dengan lirih.
__ADS_1
Aku masih tak menyangka jika takdir membawa ku kesini. Kesalahan yang sudah aku perbuat terlalu banyak. Mungkin dengan cara aku bisa menebus semua kesalahanku. Nara adalah putri kecilku, kebahagiaan ku dan kehidupan ku. Aku sudah gagal menjadi ayahnya, sekarang aku ingin memberikan nyawaku padanya.
Sampai dirumah sakit, aku turun dan tak lupa dua orang polisi mengiringi ku. Aku tak sabar bertemu Nara dan Naro. Aku ingin memeluk mereka untuk terakhir kalinya.
Kami berjalan masuk dengan langkah lebar. Orang-orang yang berlalu lalang di rumah sakit, menatap aku dengan aneh. Pasti ada yang beranggapan jika aku adalah buronan.
"Ara," panggil ku.
"Mas Galvin," ucap Ara berdiri dari duduk nya.
Aku tersenyum menatap wajah mantan istriku tersebut. Wanita yang pernah aku cintai dengan tulus. Namun, karena kebodohan ku semua hilang dan berlalu begitu saja. Aku masih mencintai wanita ini, sangat malah. Tetapi cintaku takkan bisa membuatnya kembali padaku.
Disana ada Pak Dante dan juga Divta, ada kedua mantan mertua serta kakak ipar. Naro juga ada disana, dia enggan menatap wajahku. Seperti nya Naro masih menaruh dendam.
Polisi melepaskan borgol yang ada ditanganku. Mungkin mereka tahu jika aku tak mungkin lagi untuk kabur.
"Mas."
Ara berhambur memelukku. Andai saja waktu lebih banyak, aku ingin merasakan pelukan hangat ini lebih lama. Tetapi mungkin ini akan menjadi pelukan terakhir kami sebelum aku terbaring di brangkar operasi.
"Ara."
"Maafkan aku, Mas," ucap Ara menangis segugukan.
"Kamu tidak salah, Ra. Mas ikhlas melakukan apapun untuk kebahagiaan kalian," sahutku melepaskan pelukan Ara. Sejujurnya ingin rasanya kumiliki raga ini dalam waktu yang lama.
"Papa," panggil Naro.
Aku dan Ara menoleh kearah Naro. Dia menatapku dengan sendu. Hatiku seketika hangat melihat wajah munggil nan damai ini.
"Naro."
Aku beralih pada anak lelaki ku tersebut. Aku berjongkok menatap wajah Naro. Kami tak sedekat ini sebelumnya, sifat Naro yang dingin seperti tak tersentuh itu malah membuat kami berdua tak bisa akrab seperti ayah dan anak pada umumnya.
"Naro."
__ADS_1
Kupeluk Naro dengan erat untuk melepaskan semua kerinduan yang menggembang didalam dada. Aku rindu sentuhan tangan kecil nya yang selalu membuat hati ku merasa hangat.
"Naro kangen sama Papa," ucap nya.
Bisa kurasakan jika pelukkan ini adalah kerinduan terhadap ku. Betapa aku berdosa telah menelantarkan istri dan anakku. Sekarang aku benar-benar akan pergi dan hilang meninggalkan mereka.
"Papa juga kangen sama Naro," balas ku memeluk anakku dengan erat.
Tuhan bisakah berikan aku satu kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahan ku. Aku, ingin bersama Ara dan anak-anak dalam waktu lama. Tetapi aku tidak bisa melepaskan diri dari takdir yang menjeratku.
Aku manusia biasa yang takut menghadapi kematian, tetapi kematian sebentar lagi akan menarik ku jauh dari dunia yang aku tinggali.
"Naro jaga Mama sama Kak Nara ya, maafkan Papa ya, Nak," ucap ku seraya melepaskan pelukan Naro. "Jadi anak yang pintar. Sekolah yang benar," pesan ku.
"Maafkan Naro, Pa. Naro sayang Papa, jangan pergi lagi Pa. Kak Nara terus mencari Papa," adu Naro.
Hatiku teriris sakit, Naro meminta ku jangan pergi, bagaimana jika dia tahu bahwa aku yang akan mendonorkan jantungku untuk Nara. Rasanya aku tak mampu bernafas membayangkan anak-anak ku harus tumbuh tanpa aku.
"Iya Nak," jawabku asal.
Aku diberikan kesempatan untuk melihat anakku Nara sebelum memasuki ruang operasi. Ku tatap wajah teduh yang terpejam erat tersebut. Aku luruh disamping ranjang Nara, menangis dengan hebat seraya memukul dadaku.
"Nara," lirih ku.
Semoga setelah ini Nara sembuh, walau aku takkan pernah bisa melihat senyum anakku.
"Mas kamu yakin?" tanya Ara tampak ragu, dia juga menangis. Apa di hati Ara masih ada aku?
"Mas yakin, Ra. Semoga Nara sembuh yaaa," ucap ku tersenyum getir.
"Tapi, Mas. Mas akan benar-benar kehilangan nyawa Mas," ucap nya.
"Nyawa Nara lebih berharga. Mas ingin Nara tetap hidup bersama kamu," sahutku. Aku berdiri kembali, ku genggam tangan Ara dan Nara lalu ku satukan tangan kami bertiga.
"Mas menyayangi kalian, sampai akhir hidup Mas. Mas berharap dipertemuan terakhir ini. Akan menjadi pertemuan terindah dalam hidup mu dan anak-anak. Untuk terakhir kali, Mas ucapkan selamat tinggal."
__ADS_1
Galvin POV off
Bersambung...