Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Merawat


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


"Mommy," lirih Tata mengenggam tangan Ara yang masih terpejam.


"Mommy bangun, jangan tinggalin Tata," ucap Tata sambil terisak menangis.


Tangan ku terulur mengusap punggung Tata. Ara belum sadarkan diri, akibat hujan itu dia langsung demam tinggi dan panasnya baru turun.


"Tata, jangan menangis Mommy pasti baik-baik saja," ucap ku menenangkan putri semata wayang ku ini.


Aku tidak tahu seberapa sayang Tata pada Ara. Tetapi aku berharap perasaan sayang itu tidak berlarur lama, apalagi sampai menuntut aku dan Ara hidup bersama sebagai pasangan suami istri. Jujur saja aku belum bisa.


"Tapi kenapa Mommy tidak bangun-bangun, Dad," renggek Tata.


Aku kembali membasahi handuk yang menempel dikening Ara agar panasnya bisa turun. Lalu ku tempelkan kembali. Aku tidak tahu kenapa aku bisa peduli dan mengurus Ara seperti ini. Aku hanya merasa ini tanggung jawabku sebagai seorang boss. Walau bagaimanapun Ara salah satu karyawan ku yang bisa di andalkan jika masalah pekerjaan.


"Mommy sedang tidur, Sayang," jawab ku asal.


Ara masih berbaring didalam kamarku. Sementara aku dan Tata yang merawat nya. Tidak mungkin aku meminta Mama merawat Ara, apalagi aku yang membawa Ara ke dalam rumah ini. Jadi harus aku yang bertanggungjawab.


"Daddy, malam ini kita bobo sama Mommy. Tata pengen di peyuk Daddy dan Mommy," pinta Tata.


Aku terkejut mendengar permintaan Tata yang mustahil ku kabulkan. Kami bukan pasangan suami istri bagaimana bisa kamu tidur bersama. Apalagi Ara ini baru kehilangan mantan suaminya.


"Tapi_"

__ADS_1


"Tata pengen bobo baleng Daddy dan Mommy," pinta Tata dengan wajah permohonan.


Aku menghela nafas panjang melihat wajah polos dan juga sendu tersebut. Aku selalu luluh dengan tatapan Tata yang mampu menarik ku masuk kedalam bola matanya.


"Daddy," renggek Tata.


Aku mengangguk dan mengiyakan saja. Lagian Ara masih tidur, semoga saja dia tidak sadar kalau aku tidur dengannya. Besok pagi aku harus bangun lebih cepat, sebelum dia bangun. Aku takut Ara salah paham, wanita ini berbeda. Sifatnya sulit ditebak dan di mengerti.


"Iya Sayang," sahutku mengusap kepala anakku.


Tata adalah sumber kebahagiaan ku, apapun akan aku lakukan demi kebahagiaan nya walau mungkin aku harus mengorbankan harga diri. Tata sangat berarti di hidupku.


"Telima kasih Dad!" serunya memeluk ku dengan senang.


Aku tahu betapa terluka nya Tata tumbuh tanpa kasih seorang seorang ibu. Terkadang aku merasa bersalah karena tidak mengemban dua peran sekaligus, sehingga Tata ingin selalu bersama Ara. Apalagi kesibukan ku dalam bekerja membuat waktu ku dan Tata seperti tersita.


Tata naik keatas ranjang dan memeluk Ara dengan senang hati, sedangkan wanita itu masih terlelap dengan nyaman. Wajah nya sudah tak pucat lagi setelah di suntikkan obat antibiotik oleh Mama.


Aku mengangguk dan melepaskan alas kaki ku, lalu menyimak selimut dan naik keatas ranjang.


"Bialkan Mommy ditengah. Kita peyuk Mommy sama-sama!" perintah Tata.


Jujur saja aku ingin menolak, bagaimana kalau Ara bangun dan dia bisa salah paham nanti nya. Pasti dia berpikiran jika aku ini sama saja seperti lelaki lain. Namun, lagi dan lagi aku tidak bisa menolak permintaan Tata yang menurut ku mustahil ku lakukan namun masih bisa ku wujudkan.


Aku menurut dan berbaring di sebelah kanan Ara, sedangkan Tata sebelah kiri. Tangan munggil Tata melingkar di perut Ara. Aku melakukan hal yang sama karena permintaan Tata.


"Dad, Tata bahagia bisa bobo baleng Mommy," ucap Tata tersenyum manis dengan matanya yang terpejam mengendus-enduskan hidung dilengan Ara.


Hatiku teriris sakit, seribu maaf ku ucapkan pada anakku Tata karena belum bisa membuatnya bahagia selama ini. Aku sadar betapa aku gagal menjadi seorang ayah yang belum bisa memberikan kebahagiaan seperti nya pada Tata. Sejak usia 3 tahun, dia mulai mengerti mencari keberadaan ibunya. Tatkala aku harus menyiapkan seribu jawaban agar Tata tak terjebak dengan perasaan nya yang ingin bertemu ibu nya. Apalagi ketika dia melihat foto pernikahan kami yang sengaja ku pajang di dinding kamar.

__ADS_1


Namun, setelah bertemu Ara. Tata seperti menemukan kebahagiaan dalam hidupnya. Dia yang dulunya keras kepala dan sulit diatur. Kini mulai menurut, apalagi jika yang berbicara adalah Ara.


"Sayang, apa kamu tahu kalau dia bukan Mommy Tata?" tanya ku menatap anak perempuan ku yang masih memeluk Ara dengan nyaman.


"Tata tahu kalau Mommy bukan Mommy Tata. Tapi Tata sayang sama Mommy Ala," jawab nya sambil tersenyum dibibir munggil nya.


Aku terkejut ketika mendengar jawaban Tata, jadi selama ini dia tahu kalau Ara bukan ibu kandungnya.


"Lalu kenapa Tata sayang sama Mommy?" tanya ku, anak kecil memiliki perasaan yang polos. Dia selalu jujur pada apa yang dia katakan.


"Mommy Ala baik," jawab Tata singkat padat dan jelas.


Aku tak lagi bertanya, hanya kulihat Tata yang tampak nyaman memeluk Ara. Lalu aku tertuju pada wajah wanita yang berada disamping ku ini. Ini pertama kali nya aku sedekat ini dengan seorang wanita setelah kehilangan istriku. Kepergian Killa mengambil separuh dari semangat hidupku. Setelah dia pergi, jiwa ku pun ikut hilang bersama nya.


"Ya sudah Tata tidur ya," ucapku.


"Daddy, peyuk Mommy," pinta Tata.


Aku berusaha menahan kesabaran. Walau sebenarnya aku tidak bisa melakukan nya. Aku sering memeluk Ara tetapi itu dalam keadaan tidak sadar dan tidak sengaja tetapi sekarang aku sedang dalam keadaan sadar. Jantung ku tidak bisa di ajak kerja sama. Setiap kali menyentuh kulit Ara, ada sesuatu yang menelusup masuk kedalam sana.


Ku lingkarkan lengan kekar ku diperut Ara. Aku tidak tahu entah parfum apa yang dia pakai, tetapi wangi parfum ini menjadi salah satu wangi yang menjadi candu ku.


Tak lama kemudian ku dengar dengkuran halus yang keluar dari bibir Tata. Ku tatap wajah Tata yang damai sembari memeluk Ara. Aku tak menyangka jika Tata sadar bahwa Ara bukan ibu kandungnya. Aku pikir selama ini Tata tidak tahu siapa Ara.


"Ara," gumam ku.


Entah kenapa bisa wajah nya begitu mirip dengan almarhum istriku? Semua hal yang ada pada Killa melekat di Ara. Hanya gaya rambut dan juga sifat mereka yang berbeda. Seperti yang Regi katakan, bahwa aku yakin jika Ara dan Killa kembar. Atau bisa jadi bahwa Ara ini adalah Killa yang hidup kembali namun dengan jiwa yang berbeda?


"Aku tidak tahu kamu siapa? Aku juga tidak tahu, kenapa kamu bisa begitu mirip dengan wanita yang saya cintai? Siapa kamu sebenarnya?"

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2