
"Hai, Kak Zico," sapaku tersenyum sumringah.
"Malam, Lea," sapa balik Kak Zico padaku.
"Tumben Kakak ke sini? Ayo, Kak. Gabung sama kita!" ajakku.
"Iya jodoh kali ya, bisa ketemu di sini," goda Kak Zico seperti biasa.
"Oh ya, Kak. Kenalin ini Om Shaka, suami Lea," ucapku memperkenalkan Om Shaka walau sebenarnya Kak Zico sudah tahu siapa suamiku.
"Hai, Saya Zico." Kak Zico mengulurkan tangan ke arah Om Shaka.
"Shaka."
Sebenarnya aku sengaja mengirim pesan pada Kak Zico agar segera menyusul ke restoran. Entah apa maksudku, aku ingin melihat reaksi Om Shaka bagaimana raut wajahnya saat dia melihat aku akrab dengan laki-laki lain.
"Kakak udah lama?" tanyaku.
"Baru aja sampai sih, eh pas liat kalian ada di sini," ujar Kak Zico.
"Kayak kebetulan nunggu jodoh ya, Kak." Aku ngakak sendiri.
Om Shaka dari tadi hanya diam saja dan sibuk dengan ponsel di tangannya. Pasti dia sedang menghubungi Kak Felly kekasihnya. Aku lagi-lagi tersenyum kecut, niat hati ingin membuat suamiku cemburu nyatanya aku yang cemburu ketika dia tersenyum melihat ponselnya.
"Kakak pesan apa?" tanyaku mencoba membuat suasana tidak canggung.
"Seperti biasa aja deh," jawab Kak Zico.
__ADS_1
Percaya atau tidak, tak ada cinta yang buta. Yang ada hanyalah perasaan dengan kasar keyakinan. Dan terpaku, meyakini bahwa perasaan yang ada di dalam dada tak bisa membunuh mati. Berkali-kali mencoba berlari, lalu tersadar jika yang di kejar tak pernah benar-benar pergi. Sebab yang dia bawa hanyalah tubuh dan juga pikirannya Sam. Perasaan dan hatinya menetap pada seseorang yang selalu dia rindukan.
Aku mencoba untuk menahan lelehan bening yang sebentar lagi akan menetes. Sial, kenapa aku bisa sampai jatuh cinta pada suamiku sendiri? Apa jatuh cinta? Tidak, aku sedang tidak jatuh cinta padanya. Aku hanya kebetulan saja memikirkan laki-laki itu. Wajar kali kalau istri cemburu jika suaminya memikirkan wanita lain.
Pesanan kami datang. Kami makan dan sesekali diselingi candaan singkat. Eh maksudku hanya aku dan Kak Zico saja. Sementara Om Shaka diam tanpa ekspresi dan makan dalam diam. Sejak menikah sifat Om Shaka sangat berubah, berbeda di awal pertemuan kami. Dia sangat cerewet dan bawel seperti perempuan. Namun, sekarang malah lebih dingin dari yang aku kenal dulu.
Satu hal yang membuat tetep menanti seseorang adalah harapan. Perasaan yang tak pernah lelah meski seringkali dihajar kalah. Berkali-kali di dera luka dan kecewa. Namun, memilih untuk tetap ada. Bahkan saat dia bunuh dengan sangat kejam, perasaan itu masih saja bertahan. Sakit bukanlah hal yang harus dijelaskan. Hanya saja, ada yang lebih kuat yang telah mampu dijabarkan. Sesuatu yang tak tampak, tetapi membuat bertahan meski terancam dicampakkan. Membuat tak ingin berhenti meski sesak memenuhi ruang hati. Orang-orang barangkali menyebutnya cinta buta.
Sesuatu yang pernah ada tidak akan bisa dihilangkan begitu saja di ingatan kecuali jika hilang ingatan. Tanpa disadari tidak ada manusia yang benar-benar tumbuh tanpa seseorang di masa lalu. Mau tidak mau, kehilangan adalah salah satu hal yang membuat manusia belajar menerima kenyataan. Aku memahami hal itu. Sesuatu yang membuatku berniat membencinya.
Cukup lama kami mengobrol setelah makan. Ini namanya kencan bertiga bukan kencan suami istri.
Aku dan Om Shaka kembali ke rumah karena sudah larut malam dan aku mulai mengantuk.
"Dekat banget sama Dokter Zico?" tanyanya setengah melirik ke arahku.
Aku menguap beberapa kali. Aku benar-benar sudah mengantuk, tetapi rumah masih cukup jauh kalau tidur di sini belum tentu Om Shaka mau memindahkan aku ke dalam kamar.
"Kayaknya dia punya perasaan sama kamu?" tudingnya.
"Dih." Aku mendelik. "Perasaan apa? Kak Zico itu suka cewek yang kek modelan feminim gitu. Lea mah jauh dari tipe nya Kak Zico."
Aku tak pernah berpikir jika Kak Zico menyukaiku. Mustahil sekali pria tampan berkelas dan pintar seperti dia bisa jatuh cinta pada gadis kecil yang menyebalkan seperti aku.
"Teman dekat 'kan?" Aku mengangguk. "Jangan pura-pura polos. Laki-laki sama perempuan kalau udah sahabatan dekat, mustahil bila enggak ada perasaan. Kalau enggak ada berarti enggak normal," ujarnya.
Aku tertawa garing. Kenapa rasanya lucu saat Om Shaka membahas Kak Zico? Apa dia cemburu? Huh, mana mungkin dia cemburu? Lagian dia juga tidak peduli lagi pada apapun yang aku lakukan dan dengan siapa aku berjalan di tengah kegelapan takdir ini.
__ADS_1
"Iya kalaupun Kak Zico suka sama Lea, enggak masalah 'kan Om? Lagian Om juga yang bilang kita bebas mau apa aja dan mau ngejalin hubungan sama siapa aja," ujarku tersenyum ke arahnya. Senyum itu adalah cara menutup luka paling efektif yang pernah ada. Jadi harus pandai-pandai memalsukan senyum supaya tidak malu sendiri.
"Ka–"
Drt drt drt drt
Ucapannya terpotong saat benda pipih dan pintar itu bergetar di saku celana.
"Iya, Sayang. Kenapa?"
Deg
Aku bisa melihat hatiku berguguran seperti hujan saat dia memanggil Kak Felly dengan panggilan sayang. Manis sekali kedengarannya, aku kapan dipanggil sayang seperti itu?
"Iya, Sayang. Aku segera ke sana." Dia menutup teleponnya dan wajah suamiku tampak panik.
Tuhan, ada ternyata seorang suami yang bermesraan di dalam telepon di depan istrinya sendiri. Aku bahkan mengalaminya sekarang, jangan tanya bagaimana sakitnya. Sakit di dadaku tak bisa aku jelaskan dengan kata-kata. Begitu menusuk ke dalam jiwa.
Sampai di depan rumah dia langsung memarkir mobilnya.
"Lea, kamu langsung masuk dan istirahat. Jangan lupa ganti baju. Saya mau keluar sebentar. Jangan tunggu saya kalau saya enggak pulang." Tanpa menunggu jawabanku dia melenggang pergi dengan kecepatan tinggi.
Kenyataannya, dia tidak lagi bersedia berada di sampingku. Bahkan untuk sekedar duduk berdua seraya mengobrol hangat seperti dulu. Sementara dulu dia adalah orang yang sering ngambek jika aku sibuk dengan pekerjaan di butik lalu lupa mengabarinya dalam seharian.
"Om Shaka lebih sama Kak Felly daripada sama aku. Huffh, mungkin aku benar-benar harus sadar diri."
Aku masuk ke dalam rumah dengan wajah lelah. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Pantas saja aku sudah mengantuk. Om Shaka bilang jangan menunggunya jika dia tidak pulang. Apa artinya dia memang sudah merencanakan untuk menginap di sana malam ini.
__ADS_1
Aku merebahkan tubuhku di atas kasur. Kutatap langit-langit kamar dan sudut bibirku tertarik membentuk senyuman miris. Ah, rasanya sakit sekali seperti ditusuk-tusuk oleh jarum pentol.
"Om, apa Om tahu? Jika Lea sudah jatuh cinta sama Om. Tapi, Lea sadar diri untuk enggak berharap lebih dari yang Lea pikirin."