Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 4. Chapter 02.


__ADS_3

Aku meremas kuat ujung gaun pengantin yang masih membungkus tubuhku.


"Cepat buatkan aku makanan. Aku lapar."


Setelah berkata dia berjalan menjauh dariku. Tak lupa dia membuang ludah nya ke lantai seolah seperti mengejekku. Kupejamkan mata sejenak dengan tangan yang menempel di dada. Sakit, sangat sakit. Bolehkah aku menyesal atas apa yang terjadi padaku? Kenapa aku harus mengalami semua ini? Apa karena aku perempuan kotor? Apa karena aku tak layak di cintai dan mencintaiku.


Tanganku terulur mengusap perut rata yang belum terbentuk tersebut. Aku tak menyangka jika ada kehidupan di dalam rahimku. Walau awalnya aku ingin mengugurkan kandunganku. Tetapi Mama terus menyemangati dan memberi aku motivasi agar mempertahankan anak tak berdosa ini.


Aku bangkit dari tembok. Lalu berjalan pelan menuju dapur membuatkan sarapan untuk Kak Naro.


"Kamu harus kuat, Rin. Demi anakmu," ucapku.


Aku menolak dengan keras dinikahi Kak Naro. Namun, keluarga besar terus mendesak dan meminta agar aku menerima lelaki itu sebagai ayah dari anak dalam kandunganku. Sekuat apapun aku menolak tetap saja takdir membawaku pada jalan kehancuran yang sama sekali tidak aku inginkan.


Kukeluarkan semua bahan-bahan masakan dari dalam kulkas. Aku tidak tahu makanan apa yang di sukai suamiku.


Air mata meleleh seolah membuat mataku serasa pedih akibat terkena bawa merah yang aku potong. Aku alergi bawang tetapi bagaimana lagi, aku harus masak untuk suamiku.


"Mas Angga, kenapa kamu tega? Kamu bilang cinta sama aku. Tapi kenapa kamu pergi saat aku menggandung anakmu. Sekarang aku menderita, Mas. Mana kebahagiaan yang kamu janjikan buat aku dan anak kita?"


Di saat hamil seperti ini aku butuh sekali sosok seorang suami. Apalagi aku sedang mengidam dan ingin makan yang aneh-aneh. Tetapi aku harus minta pada siapa? Tak ada yang peduli, bahkan termasuk keluargaku kecuali Mama.


Aku menangis segugukan dengan air mata berlinang. Entah, kenapa buliran bening tanpa warna ini tidak bisa berhenti menetes? Mendengar semua penghinaan dan caci maki yang dia lontarkan seperti menciptakan sayatan luka dalam di hatiku. Berulangkali ku jelaskan, jika tak ingin menikah denganku lepaskan saja aku. Lagian, apa untungnya aku menikahi laki-laki yang sama sekali tidak mencintai aku.


Cukup lama aku berkutat dengan alat-alat dapur sehingga masakanku siap di sajikan. Aku menata makanan di atas meja.


"Silakan makan, Kak."


Sejak tadi suamiku sudah menunggu di meja makan. Wajah datar tanpa ekspresi dengan raut tak bisa di tebak selalu menjadi ciri khas dari pria yang sekarang menjadi suamiku ini. Kadang aku bertanya, apa aku bermimpi di nikahi pria sesempurna Kak Naro? Wajar saja dia mencaci makiku, seakan aku adalah barang busuk yang memang sudah tak bisa di pakai karena dirinya memang sangat sempurna. Di lihat dari sisi manapun dia tak ada sesuatu yang kurang darinya.


"Aku permisi ganti baju dulu, Kak," ucapku.

__ADS_1


"Siapa yang suruh kamu ganti baju? Duduk!"


Aku menelan saliva susah payah. Lalu duduk di samping Kak Naro, tatapan matanya seolah ingin menelanjangi tubuhku. Jujur saja aku tak hanya takut tetapi juga tak ingin berada di samping lelaki ini.


"Coba kamu makan!"


Dia mendorong sup yang aku buatkan tadi.


"Kenapa, Kak?"


"Makan!"


Aku mengambil sedok lalu menyeruput air sup tersebut.


"Asin?" Aku mengangguk. Entah berapa banyak garam yang aku masukkan ke dalam sup ini sehingga rasanya benar-benar asin.


"Cih, dasar wanita manja. Masak saja kamu tidak bisa. Lalu apa yang bisa aku harapkan dari perempuan murahan seperti kamu?"


Lagi, ucapannya berhasil membuat jantungku seperti terlepas dari tempatnya. Bagai tancapan jarum yang melekat luka yang ada terasa mendekat.


"Tidak mau, Kak."


"Kamu harus makan ini!"


Kak Naro mencengkram daguku lalu memaksa memasukan makanan asin tersebut ke dalam mulutku Aku berusaha menolak tetapi cengkraman tangannya yang kuat tak mampu membuat aku terlepas dari tangannya.


"Makan yang banyak perempuan murahan." Dia terus memasukkan air sup yang panas ke dalam mulutku.


"Cih, makan itu." Dia menghempaskan daguku dengan kasar.


Bibirku hampir mengelepuh akibat air sup yang masih panas. Aku mengipas-ngipas mulutku dengan tangan lalu beranjak mengambil air di dapur.

__ADS_1


"Ahh panas." Kutenguk segelas air segar.


Sementara Kak Naro tertawa penuh kemenangan sambil mengejekku.


"Ini belum seberapa. Nanti kamu akan merasakan yang lebih dari ini!"


Aku menatap punggungnya yang menjauh dariku. Belum apa-apa dan bahkan belum seberapa katanya, tetapi aku sudah merasakan sakitnya penderitaan.


"Mama."


Satu nama yang selalu aku panggil jika dalam keadaan seperti ini, yaitu Mama. Aku rindu Mama, apa Mama tahu jika anak perempuannya ini tak baik-baik saja? Apa Mama tahu bahwa anak perempuannya benar-benar menderita?


Aku berjalan dengan pelan menuju kamar. Tanganku masih memegang ujung gaun yang kepanjangan. Sementara air mata sudah tak terhitung berapa banyak yang jatuh dari pipi.


Aku masuk ke dalam kamar pembantu. Kamar ini di khususkan untuk aku karena aku di anggap membantu dan pelayan oleh suamiku sendiri. Padahal kamar di rumah ini sangat banyak tetapi Kak Naro tidak mau aku tidur di kamar mewah.


Aku tersenyum getir ketika hanya melihat kasur kecil di atas ranjang berukuran satu orang. Sungguh miris hidupku sekarang, terbiasa hidup dalam kemewahan membuat aku tak biasa harus menetap di kamar ini. Tetapi apa boleh buat, aku harus terima semua kenyataan ini.


"Nak, kamu yang kuat ya. Kita nikmati ini sama-sama. Selama kamu ada, Bunda akan kuat menghadapi semua ini. Tetap bertahan sama Bunda sampai kamu lahir nanti."


Jeritan dan tangisku yang meraung seolah menjadi bukti bahwa saat ini penderitaan yang aku rasakan tak akan ada hentinya.


Aku memegang bibirku yang terasa melepuh akibat air sup tadi, rasa nyeri seketika menjalar ke seluruh tubuhku. Tuhan, sakit sekali rasanya. Bukan hanya bibir ini yang pedih tetapi juga hatiku. Bolehkah aku menyerah dan pergi dari kehidupan yang sama sekali tak aku inginkan.


Ku buka resleting gaun ini dengan susah payah, apalagi tanganku yang kecil dan pendek.


Aku menuju kamar mandi kecil yang hanya ada bak mandi dan centong berbentuk love. Ku siram tubuhku dengan air dingin ini, kata orang-orang ibu hamil tidak boleh mandi malam. Namun, apa daya karena aku telah salah langkah sehingga aku mengalami hal seperti ini.


"Mama, Arin lelah, Ma. Arin ingin menyerah, Ma. Arin ingin pulang ke rumah. Arin tidak mau tinggal di sini."


Andai ada Mama, aku ingin sekali memeluk tubuhnya dan menyalurkan semua perasaan sakit yang menghantam dadaku.

__ADS_1


"Maafkan Arin, Ma."


Bersambung...


__ADS_2