Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 05. Tata Story 08.


__ADS_3

Percaya atau tidak, tak ada cinta yang buta. Yang ada hanyalah perasaan dengan kasar keyakinan. Dan terpaku, meyakini bahwa perasaan yang ada di dalam dada tak bisa membunuh mati. Berkali-kali mencoba berlari, lalu tersadar jika yang di kejar tak pernah benar-benar pergi. Sebab yang dia bawa hanyalah tubuh dan juga pikirannya Sam. Perasaan dan hatinya menetap pada seseorang yang selalu dia rindukan.


Aku terharu mendengar cerita Pak Rey. Sungguh luar biasa sekali perasaan lelaki ini pada Kak Sherly. Dia masih saja mencintai wanita penyakitan yang mungkin usianya tidak akan lama lagi. Jika mengingat penyakit kanker, aku kembali teringat ada kepergian Ariana yang masih meninggalkan luka mendalam di hati kami semua.


"Yang sabar ya, Pak," ucapku menenangkan.


Aku sudah selesai mengukur tubuh Kak Sherly untuk gaun pengantin yang akan di kenakan di hari pernikahannya nanti.


"Jujur saja, Bu. Saya manusia biasa. Saya takut sekali Sherly meninggalkan saya pergi. Walau bagi semua orang dia wanita jahat tetapi buat saya dia tetaplah wanita terbaik," ungkap Pak Rey.


Aku manggut-manggut paham. Bisa kulihat betapa besar cinta Pak Rey pada Kak Sherly karena terlihat dari cara dia memperlakukan calon istrinya.


"Maaf ya, Bu. Saya jadi curhat," ucap Pak Rey tak enak hati.


"Tidak apa-apa, Pak."


Kami berdua berjalan sembari Pak Rey mengantarku sampai depan rumah sakit.


"Bagaimana, Dok?"


Langkahku terhenti ketika mendengar suara familiar yang begitu aku kenal itu. Suara yang sudah menemani aku selama sepuluh tahun belakangan ini.


"Ada apa, Bu?" tanya Pak Rey.


Aku menoleh kearah kanan. Kami berdiri tepat di depan ruangan dokter kandungan. Aku menyimpitkan mataku melihat dua pasangan yang tengah menghadap seorang dokter wanita paruh baya.


"Selamat Dokter Gevan, istri Anda hamil dan usia kandungannya sudah memasuki bulan ke 2."


Deg


Seperti tersambar petir di siang bolong. Hatiku seketika meledak dan meninggalkan puing-puing kehancuran. Aku mengenal wanita yang duduk bersama Mas Gevan, Mbak Queen. Jadi benar.

__ADS_1


"Terima kasih, Dok."


Aku melihat dari arah jauh betapa bahagianya wajah Mas Gevan seraya memeluk Mbak Queen dengan tatapan cinta. Dan tadi, apa katanya? Istri? Apa selama ini Mas Gevan dan Mbak Queen sudah menikah secara tiba-tiba. Padahal seluruh dokter dan perawat di rumah sakit ini tahu bahwa aku adalah istri dari suamiku sendiri.


"Tolong dijaga kandungan Bu Queen ya, Dok. Usia kehamilan yang masih muda itu sangat rentan, apalagi ini anak pertama."


Tuhan, seketika air mataku terjatuh. Sekeras apapun aku. Aku tetaplah wanita rapuh yang akan hancur ketika tahu bahwa suami yang aku banggakan selama ini ternyata tega mengkhianati cinta yang aku berikan. Aku ingin sekali rasanya masuk dan melabrak kedua orang itu. Tetapi aku tidak bisa gegabah. Kalau aku menyerang mereka berdua sama saja aku tidak waras.


"Bu."


Pak Rey menepuk bahuku. Mungkin dia heran melihat aku diam saja.


"Ibu, kenapa?" tanyanya sekali lagi.


"Tidak apa-apa, Pak," kilahku menyeka air mataku dengan kasar.


"Pak, kalau begitu saya pamit dulu ya. Gaunnya akan saya desain dua Minggu lagi. Terima kasih, Pak."


Air mataku langsung menetes deras. Aku segera masuk ke dalam mobil dengan perasaan hancur dan terluka parah. Aku bahkan tak bisa mendeskripsikan bagaimana rasa yang mulai melebur di dalam dada.


Satu hal yang membuat tetep menanti seseorang adalah harapan. Perasaan yang tak pernah lelah meski seringkali dihajar kalah. Berkali-kali di dera luka dan kecewa. Namun, memilih untuk tetap ada. Bahkan saat dia bunuh dengan sangat kejam, perasaan itu masih saja bertahan. Sakit bukanlah hal yang harus dijelaskan. Hanya saja, ada yang lebih kuat yang telah mampu dijabarkan. Sesuatu yang tak tampak, tetapi membuat bertahan meski terancam dicampakkan. Membuat tak ingin berhenti meski sesak memenuhi ruang hati. Orang-orang barangkali menyebutnya cinta buta.


"Kenapa kamu tega, Mas? Apa salah dan kurangnya aku?"


Lagi-lagi darahku mendesir ketika melihat Mas Gevan membukakan pintu agar Mbak Queen masuk ke dalam mobil. Kedua orang itu seperti pendosa yang tidak merasa bersalah. Kutatap mobil yang perlahan menghilang itu dengan kebencian.


"Jika kamu bisa bermain api. Maka jangan salahkan aku juga bermain api, Mas. Aku bukan perempuan yang bisa kamu permainkan. Kamu bisa menurihkan luka di hatiku. Maka aku akan menancapkan belati yang sama. Supaya kamu merasakan bagaimana sakitnya yang aku rasakan."


Aku bukan Kak Nara yang mau memberi kesempatan ketika sudah di sakiti. Apalagi ini sudah di luar batas sampai menikah dan hamil secara diam-diam di belakangku.


Aku melajukan mobilku meninggalkan rumah sakit. Tak bisa kubayangkan bagaimana reaksi Lala ketika tahu papa yang dia sayang sepenuh hati itu ternyata menduakan hati. Pantas saja Mas Gevan keukeh menolak saat aku ingin ikut program hamil. Dia seolah tak mau aku hamil lagi. Ternyata dia takut tidak mampu menafkahi dua istri dan dua bayi sekaligus.

__ADS_1


Aku sampai di sekolah Lala. Aku tersenyum lebar ketika melihat anak semata wayangku itu memanggil namaku.


"Hai anak Mama," sapaku berjongkok menyambut pelukan Lala.


Lala tak perlu tahu bahwa ibunya sedang tak baik-baik saja. Selama dia ada bersamaku, rasa sakit apapun tidak akan bisa menjatuhkan rasa yang menggebu ini.


Aku memeluk tubuh kecil Lala. Mencoba menyalurkan rasa sakit ini ke tubuhnya. Tubuh kecil ini sangat hangat dan nyaman. Pelukan yang selalu membuatku merasa memiliki dunia.


"Mama kenapa?" tanya Lala heran.


"Biarkan Mama peluk kamu sebentar, Sayang. Mama kangen sama kamu," lirihku.


Dengan polos Lala mengusap bahuku. Tangan mungil nan kecil itu berhasil memberikan kehangatan di dalam jiwa lelahku. Aku menangis dalam diam. Air mata ini tak bisa di ajak bekerja sama.


"Mama, kenapa menangis?" Lala melepaskan pelukanku.


"Mama cuma kangen sama Lala," jawabku asal.


"Kan ketemu Lala setiap hari? Kenapa Mama bisa kangen?" tanyanya dengan wajah polosnya.


"Memangnya tidak boleh Mama kangen sama Lala?" Aku memasang wajah cemberut.


"Boleh kok, Ma," jawab Lala cepat.


"Iya sudah ayo kita pulang. Mama mau masak makanan kesukaan Lala." Aku menggandeng tangan putri kecilku itu.


"Asyik, kebetulan Lala lapar, Ma," sahut Lala.


Sesuatu yang pernah ada tidak akan bisa dihilangkan begitu saja di ingatan kecuali jika hilang ingatan. Tanpa disadari tidak ada manusia yang benar-benar tumbuh tanpa seseorang di masa lalu. Mau tidak mau, kehilangan adalah salah satu hal yang membuat manusia belajar menerima kenyataan. Aku memahami hal itu. Sesuatu yang membuatku berniat membencinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2