Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
S2. Menghindar


__ADS_3

Divta keluar dari kamarnya dengan pakaian dinas lengkap yang membungkus tubuh kekarnya seperti biasa.


Lelaki itu berjalan menuju meja makan sambil meneteng tas kerjanya yang berisi beberapa laporan dari kesatuan.


"Pagi anak Papa," sapanya.


"Pagi, Pa," jawab Al dan El lemes.


"Lho, kenapa wajah anak Papa ini cemberut begitu?" tanya Divta terkekeh sambil duduk di kursi meja makan.


"Ini, mereka mencari Tari. Tadi pagi Tari izin sama Mama katanya ada tugas mendadak di kampus," jelas Melly smabil tersenyum geleng-geleng kepala melihat kedua anaknya yang begitu lengket dengan Mentari.


"Tari sudah berangkat?" Divta menatap Mama-nya.


"Iya, sudah tadi pagi," jawab Melly.


Divta terdiam dan tampak berpikir lalu menatap kedua anaknya yang tampak kesal. Biasanya pagi-pagi Al dan El makan di suapi Mentari tetapi pagi ini perempuan itu seperti sengaja berangkat duluan.


"Iya sudah, sini biar Papa yang suapi," ucap Divta.


"Al, tidak mau," tolak Al lalu turun dan berjalan menuju kamarnya dengan wajah merajuk.


"El juga tidak mau, Pa," tolak El juga menyusul sang kakak.


Divta menghela nafas berat, dia tidak tahu kenapa kedua anaknya bisa begitu melekat pada gadis itu.


"Sudah. Nanti Mama yang bujuk," tukas Melly.


Divta mengangguk dan sarapan bersama kedua orang tua nya. Kenapa rasanya kosong ketika tidak melihat Mentari, biasanya pagi-pagi gadis itu selalu menyambutnya dengan senyuman manis. Tetapi pagi ini serasa ada yang hilang ketika tak melihat senyuman hangat Mentari.


"Ta, Audrey datang Minggu depan. Jangan lupa luangkan waktu untuk bertemu dia," ucap Melly pada putranya dengan senyum penuh harap.


"Iya Ma."


Setelah sarapan lelaki itu berangkat menuju kantor kesatuan, sebagai seorang kapten dia harus datang pagi-pagi karena ada briefing pagi.


"Selamat pagi, Kapten," sapa para letnan.


"Pagi," balas Divta masuk ke dalam ruangannya.


"Pagi Kapten Divta," sapa Raza, sahabat dekat dan akrab dengan Divta.


"Kenapa pagi-pagi ke sini?" Divta menatapnya sinis.

__ADS_1


"Hem, tidak apa-apa. Kali saja tadi ada sarapan pagi gratis." Setiap pagi biasanya Divta membawa bekal tetapi pagi ini tidak.


"Sepertinya Pak Kapten ini sedang galau?" Raza menatap Divta penuh selidik. Bersahabat sejak SMA dengan Divta tentu dia bisa membaca pikiran lelaki itu melalui raut wajah.


"Siapa yang galau?" kilah Divta.


Entahlah, Divta hanya merasa pagi ini mood-nya tidak baik saat tak melihat Mentari.


"Ayolah cerita, apakah sudah menemukan pengganti Ara?" tebak Raza.


Divta menghembuskan nafasnya kasar, dia memang susah menyembunyikan perasaannya dari Raza, lelaki ini selalu bisa menembak apa yang sedang mengganjal di hatinya.


"Pengasuhnya Al sama El dia berangkat pagi hari ini. Kedua anakku tidak mau makan kalau bukan dia yang suapi," jelas Divta. Dia tidak mengerti kenapa hal sepele seperti bisa dia ceritakan pada Raza.


"Anaknya yang galau atau Bapak-nya?" goda Raza.


Divta langsung menatap sahabatnya itu tajam tetapi yang di tatap malah santai-santai saja.


.


.


"Kenapa wajahmu, Tari?" tanya Shierra.


"Yakin?" Shierra menatap mentari penuh selidik dia curiga jika sahabatnya ini sedang ada masalah.


Mentari dan Shierra berjalan masuk ke arah perpustakaan. Begitulah kegiatan mereka berdua jika kelas belum di mulai, maka mereka menghabiskan waktu membaca buku di perpustakaan. Sehingga tak heran jika mereka berdua selalu mendapatkan nilai tinggi di masing-masing mata kuliah.


"Tari," panggil Rein.


Mentari dan Shierra menoleh kearah pintu masuk di mana di sana Rein sudah tersenyum sambil memegang kotak nasi di tangannya berukuran kecil.


"Kak Rein," gumam Mentari.


"Kak Rein," balas Shierra dengan senyuman sumringah.


Rein adalah ketua BEM serta anak kedokteran yang memiliki prestasi. Tidak hanya tampan tetapi dia juga idola para mahasiswi di kampus tersebut. Sehingga tak heran jika banyak para gadis-gadis kampus yang berlomba-lomba hanya untuk sekedar berbicara dengannya.


Rein masuk ke dalam ruangan perpustakaan sambil tersenyum. Dia seperti tak menyerah ketika di tolak oleh Mentari. Baginya gadis ini layak di perjuangkan. Saat semua gadis di kampus berbondong-bondong ingin dekat dengan Rein tetapi berbeda dengan Mentari yang malah menolak.


"Iya, Kak. Kenapa?" tanya Mentari.


"Ini untukmu. Kau belum sarapan 'kan?" Rein menyedorkan kotak nasi berusaha berisi dua lembar roti yang sudah di taburi dengan meses dan selai.

__ADS_1


"Terima kasih, Kak," ucap Mentari. Sebenarnya dia ingin menolak tetapi takut Rein tersinggung.


"Oh ya, Tari. Pulang kuliah sibuk tidak? Kakak rencana ingin mengajakmu ke toko buku!" tawar Rein.


Mentari melirik kearah Shierra yang senyam-senyum tidak jelas seraya menyenggol tangannya.


"Terima saja, Tari," bisik Shierra.


Mentari mendelik kearah sahabatnya. Sebenarnya dia tidak mau dekat-dekat Rein, karena ingat pesan ibunya semalam harus mencari orang yang sederajat.


"Iya, Kak," sahut Mentari sambil tersenyum.


"Nanti pulang kuliah Kakak tunggu di parkiran," ujar Rein.


Mentari mengangguk dan tersenyum canggung. Kemarin dia sudah di ancam oleh penggemar Rein agar tidak dekat-dekat lelaki tersebut. Tetapi Mentari tidak enak menolak apalagi melihat wajah Rein yang seperti memohon agar permintaannya di kabulkan


"Kak, aku sama Shierra masuk kelas dulu," pamit Mentari menarik tangan Shierra.


"Iya, Tari," kata Rein sambil melambaikan tangannya.


.


.


Mobil Divta sudah terparkir di depan gerbang kampus Mentari. Lelaki itu menunggu sang gadis keluar di dalam mobil. Perasaannya gelisah dan tidak tenang. Beberapa hari dekat dengan Mentari, saat tak melihat gadis itu serasa ada sesuatu yang hilang.


"Tari kemana sih?" Divta melirik arloji di tangannya.


Dia sampai izin pulang duluan dengan alasan ada urusan mendadak dan penting yang harus di selesaikan. Padahal hanya alasan dia menjemput Mentari. Divta ingin bertanya alasan Mentari berangkat pagi, dia yakin jika gadis itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


Lelaki itu menatap Mentari yang tampak naik ke atas motor ninja milik Rein.


"Brengsek," pekiknya memukul stir mobil. "Bocah itu benar-benar tidak tahu diri, padahal aku sudah memperingatkannya agar tidak dekat dengan Mentari," ucap Divta dengan nafas memburu dan wajah yang merah padam menahan amarah.


"Mereka mau kemana?" tanya Divta yang benar-benar tak suka ketika melihat Mentari berboncengan dengan Rein.


"Aku ikuti saja," ucapnya lagi.


Lelaki itu menyalakan mesin mobilnya. Lalu mengikuti motor Rein dari belakang, dalam hati dia bertanya-tanya hendak kemana dua orang yang berboncengan tersebut. Sial, kenapa rasanya Divta marah dan emosi? Dia tidak bisa menahan rasa amarah di dalam dadanya.


"Awas saja, aku tak akan biarkan dia mendapatkan hati Mentari." Dada Divta naik turun. Beberapa kali dia memukul stir mobilnya dengan suara pekikan dan amarah yang menggema di dalam mobil.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2