Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
S2. Pergi


__ADS_3

Terkadang ketika kamu melepaskan seseorang yang begitu kamu cintai bukan karena tidak cinta tetapi membiarkan dia bahagia dengan caranya sendiri. Walau ada luka dan rasa perih yang menjalar di dalam hati, begitulah cara membuktikan cinta lewat keikhlasan hati. Walau kata orang-orang harusnya berjuang bersama tetapi keadaan memaksa untuk melepaskan sesuatu yang pernah di genggam begitu erat.


Mentari Putri, gadis berusia 18 tahun. Baru saja merasakan apa itu jatuh cinta tetapi harus di pisahkan oleh kasta dan derajat yang berbeda. Tak apa Mentari kehilangan Divta, tetapi dia tidak mau Divta kehilangan Ibu-nya. Bagi Mentari kasih sayang seorang ibu bagai sang surya yang menyinari dunia.


Walau hatinya sangat berat sekali melepaskan lelaki itu. Tetapi inilah jalan terbaik yang harus dia pilih. Bukankah cinta tidak memaksa kehendak meski akhirnya meninggalkan luka yang dalam.


Mentari tak hanya mencintai Divta tetapi dia juga menyanyangi kedua anak kembar Divta. Al dan El sudah seperti anaknya sendiri walau tak lahir dari rahimnya. Kedua bocah itu selalu menghiburnya di kala sedih melanda.


"Ayo, Nak," ajak Susanti menenteng tas tuanya.


"Iya, Bu." Gadis itu menyeka air matanya.


Kedua wanita itu menunggu di halte bis, keduanya memilih pergi ke rumah kakak Mentari yang tinggal di area Pontianak tetapi sangat jauh dari rumah Divta.


"Maafkan, Tari ya, Bu. Gara-gara Tari, Ibu kehilangan pekerjaan. Gara-gara Tari juga Ibu di hina," ucapnya merasa bersalah. Mentari bukan gadis cenggeng tetapi saat ini dirinya benar-benar rapuh dan ingin menangis. Dadanya terasa sesak dan sakit, seluruh tubuhnya patah dan bahkan bibirnya sampai tak berasa saking sakitnya perasaan yang kini dia rasakan.


Susanti menyandarkan kepala Mentari di bahunya. Dia mengusap kepala anak gadisnya tersebut. Dia juga ikut patah hati seperti Mentari. Pasti akan sangat sakit jika di paksa berpisah dengan seseorang yang begitu dicintai.


"Tidak apa-apa, Ibu baik-baik saja. Justru Ibu mikirin kamu. Kamu harap kamu jangan lama-lama sedihnya. Nanti Ibu sedih juga," sahut Susanti menenangkan putrinya tersebut.


"Ini semua salah Tari, Bu. Harusnya Tari tidak membiarkan perasaan ini tumbuh. Padahal sejak awal Tari sudah tahu kalau Tari dan Mas Divta tidak akan mungkin bisa bersama. Tetapi Tari keukeh dan berharap keajaiban restu itu ada untuk kami," jelasnya terisak sambil memeluk sang ibu dan membenamkan wajahnya di dada sang ibu.


"Tidak ada yang salah, Nak. Perasaan itu tidak bisa di salahkan. Tidak ada orang bisa memilih hatinya harus jatuh pada siapa. Terkadang orang yang begitu kita benci dan tidak pernah kita harapkan justru membuat hati kita merasa nyaman. Jadi Ibu paham sama perasaan kamu."


Wanita paruh baya itu ikut meneteskan air mata. Dia merasakan rasa sakit di hati putrinya saat ini. Sebagai seorang ibu tentu dia ingin anaknya bahagia walau pada akhirnya luka itu tersemat di dalam dada.


Tangis Mentari kembali pecah. Tangisan Al dan El masih terngiang di kepalanya ketika dia memilih keluar dari rumah tersebut. Bayangan air mata menetes di pipi kedua anak itu seperti menyiksa dadanya. Tetapi apa yang bisa dia perbuat selain kata ikhlas dan menerima semua takdir yang tertulis sebelum dirinya di lahirkan.


"Suatu saat kamu akan menemukan kebahagiaan lain. Mulailah lepaskan semua perasaan itu, kalau memang kalian berjodoh akan ada cara untuk kembali bersama."

__ADS_1


.


.


"Tari, Ibu," sambut seorang wanita cantik.


"Kakak."


Mentari berhambur memeluk sang kakak. Mereka baru saja sampai ke rumah saudara Tari yang paling tua. Sedangkan kakak laki-lakinya yang nomor dua tinggal di kabupaten kota yang tidak juga jauh dari sini dan kakaknya yang ketiga tinggal di kecamatan yang lumayan jauh dari kota Pontianak.


"Kamu kenapa, Tari?" tanya wanita itu mengusap kepala adiknya.


"Kak, hiks hiks hiks." Tangis Mentari terdengar menggema. Dia seolah menyalurkan rasa sakit melalui pelukan yang kini membuat hatinya terasa perih berdarah.


Susanti menatap anaknya sendu. Patah hati tak pernah benar-benar bercanda apalagi mengingat semua penghinaan yang di lontarkan pada anaknya.


Wanita itu melepaskan pelukan adiknya. Dia seka air mata adik bungsunya ini.


Mentari gadis sederhana yang tidak pernah menunjukan jika kakak-kakaknya orang yang juga memiliki pengaruh. Dia selalu tampil apa adanya walau kakak-kakaknya sangat menyanyangi dirinya.


"Ayo masuk," ajak Meysa.


"Bik, tolong bawa tas mereka!" suruh Meysa.


"Baik, Bu," jawab sang asisten rumah tangga.


Mereka masuk ke dalam rumah mewah berlantai tiga tersebut. Bahkan lebih mewah dari rumah Divta dan Rein. Tampilan dekorasinya yang klasik dan natural sangat memikat mata untuk menatap lama.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Bu?" tanya Meysa menatap kedua wanita tersebut.

__ADS_1


Sejak dirinya sukses menjadi dokter dan diangkat menjadi direktur di rumah sakit ternama di kota ini. Dia sudah melarang ibunya bekerja dan mengajak wanita paruh baya itu tinggal bersama dengannya. Tetapi Susanti yang sudah terbiasa bekerja masih keukeh untuk tetap bekerja karena sudah terbiasa.


"Cerianya panjang, Nak," jawab Susanti.


Susanti wanita miskin yang memiliki anak-anak luar biasa walau tak memiliki ayah sejak Mentari kecil. Usia ketiga kakaknya terpaut jauh dari Mentari, bahkan anak Meysa seusia Mentari, padahal wanita itu tidak menikah muda. Tetapi ke-empat anaknya tak pernah merenggek dan manja padanya. Bahkan mereka bisa sukses dan mendapatkan gelar tinggi serta pekerjaan yang menjamin karena kegigihan dalam bekerja keras.


"Tari, ayo cerita pelan-pelan sama Kakak," ucap Meysa. Dokter berkacamata tebal itu sangat cantik meski sudah memiliki tiga orang anak.


"Kak." Air mata Mentari lolos lagi. "Tari jatuh cinta sama seorang pria, dia Kapten Divta," jelas Mentari.


"Kapten Divta?" ulang Meysa.


Mentari mengangguk. Setiap kali mengingat dan menyebut nama lelaki itu hatinya kembali perih dan sakit, sangat sakit sekali.


"Lalu?"


"Orang tua nya tidak setuju, Kak. Mereka tidak mau punya menantu miskin seperti, Tari." Gadis itu tersenyum kecut.


"Dia tidak tahu, kalau kamu adik Kakak?"


Mentari menggeleng, "Tidak, Kak," jawabnya.


"Iya sudah, tidak perlu di tangisi. Mulai sekarang kamu tinggal disini, lagian kamu 'kan satu kampus sama Gevan. Jadi kamu bisa berangkat sama dia," sahut Meysa menenangkan adiknya itu.


"Iya, Kak. Tari mau kok kerja apa saja," ujar Mentari. Dia gadis mandiri yang tidak enak jika meminta uang pada kakaknya.


"Tidak perlu, kamu jadi guru les Gevan saja." Meysa mencolek hidung adiknya.


Susanti tersenyum hangat. Dia mengucapkan banyak terima kasih pada Tuhan. Anak-anaknya yang sukses di bidang masing-masing tidak lupa pada saudara atau orang tua nya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2