Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
S2. Pertemuan


__ADS_3

Mobil yang di kendarai oleh Gevan memasuki area rumah sakit, tampak beberapa mobil lain yang juga datang secara bersamaan.


"Ramai ya, Van?" Mentari membuka sealbeatnya.


"Namanya juga pesta," sahut Gevan geleng-geleng kepala salut dengan pertanyaan tante-nya itu.


"Kamu setiap tahun ikut?" sambil turun dari mobil.


"Tidak. Baru pertama kali," jawab Gevan.


Kedua orang seusia itu tampak cocok, gaun berwarna hitam yang di pakai Mentari terlihat serasi dengan jas yang di kenakan oleh Gevan.


"Peluk saja tangan keponakanmu, Tan. Jangan malu," goda Gevan.


Mentari tersenyum dan memeluk lengan Gevan sebab dia sedikit kesusahan berjalan. Keduanya berjalan masuk menyusul Meysa dan Rizel yang sudah berjalan duluan.


Banyak penjabat yang berdatangan di acara mewah tersebut. Bahkan para anggota parlementer yang juga bekerja sama dengan rumah sakit terlihat ada di sana.


"Acara orang kaya benar-benar mewah." Mentari berdecak kagum.


"Jangan kampungan, Tan," sindir Gevan.


"Tante 'kan memang dari kampung," sahut Mentari dengan cepat dan tak tersinggung sama sekali dengan ucapan keponakannya itu.


Gevan terkekeh pelan, malam ini dia tampak banyak tertawa dari biasanya. Mungkin karena Mentari yang sangat lucu dan menggemaskan di matanya.


Keduanya menghampiri Meysa dan Rizel yang tampak sibuk berbincang-bincang dengan para tamu terhormat.


"Oh ya perkenalkan ini adik bungsu saya, Mentari," ucap Meysa memperkenalkan adiknya.


"Tari, Pak." Dia menyalami orang-orang tersebut secara bergantian dan seperti biasa mencium punggung tangan yang lebih tua darinya.


Banyak teman-teman Rizel dan Meysa yang memuji kecantikan Mentari dan tak sedikit juga yang menggoda gadis cantik tersebut. Apalagi Mentari yang tampak cantik malam ini.


"Apakah ini pacarnya?" tanya salah satunya teman Meysa.


"Oh bukan, ini anak saya," jawab Meys tersenyum tak nyaman apalagi melihat Mentari yang masih memeluk lengan kekar Gevan.


"Hem, Tari. Kondisikan tanganmu," bisik Meysa di telinga adiknya.


Mentari yang baru tersadar sontak melepaskan tangannya. Dia sampai lupa kalau dirinya masih memeluk lengan Gevan saking asyiknya menikmati.


"Maaf, Kak." Gadis itu cenggesan dan kikuk melihat tatapan dingin kakaknya.


Sedangkan Meysa menatap kedua orang itu curiga terutama putranya, Gevan. Awalnya dia tidak percaya dengan yang di ceritakan ibunya tetapi ketika melihat dengan matanya sendiri, dia menjadi was-was. Apalagi kedua orang ini seusia dan hanya beda beberapa bulan saja. Jika Mentari biasa saja tetapi berbeda dengan putranya yang terlihat salah tingkah.


"Lain kali hati-hati, ingat Gevan itu sudah dewasa. Jangan sampai dia jatuh cinta sama kamu," bisik Meysa lagi karena tidak mungkin bicara keras banyak orang yang akan mendengar.

__ADS_1


Mentari langsung terdiam. Lalu dia menatap kearah keponakannya yang diam santai dengan kedua tangan yang berdiam nyaman di dalam saku celananya, selama ini dia tak pernah menyadari karena terlalu asyik berteman dengan Gevan. Pikiran Mentari yang polos tidak mungkin seorang keponakan menyukai tante-nya sendiri.


"Paham 'kan?" bisik Meysa lagi.


"Iya, Kak. Paham!" Mentari mengangguk dengan cepat.


.


.


Divta turun dari mobil bersama kedua anak kembarnya.


"Jeng," sapa Dona berjalan kearah mereka bersama Audrey.


"Jeng Dona." Kedua wanita itu berpelukan hangat.


Keduanya memilih berdamai dan tidak aku menaruh dendam satu sama lain. Seperti yang sudah di jelaskan berapa kali oleh Melly bahwa cinta tidak bisa di paksa dan dia sama sekali tidak menyalahkan anaknya yang menolak bertunangan dengan Audrey.


"Malam, Div," sapa Audrey.


Divta membalas dengan anggukan. Walau mereka sudah sepakat untuk berteman biasa tetapi dia memang tidak bisa dekat dengan Audrey, entah kenapa? Perasaannya selalu tak nyaman dan merasa janggal dengan adanya perempuan itu.


"Iya sudah, ayo masuk."


Mereka masuk bersamaan. Al dan El menggandeng tangan Divta, keduanya seperti tak mau jauh dari ayahnya tersebut dan terus menempel sejak tadi.


Divta mengangguk dengan senyum. Kedatangannya di sambut hangat karena Divta salah satu orang yang paling berpengaruh.


"Acaranya sangat mewah," ujar Dona.


"Iya, Jeng. Direktur rumah sakit 'kan sudah di gantikan oleh Dokter Meysa, tentu saja dia tak main-main dalam mengadakan acara ini," sahut Melly sembari menjelaskan.


"Iya, Dokter Meysa itu luar biasa sekali. Tidak hanya muda dan cantik tetapi juga memiliki kecerdasan yang luar biasa," puji Dona berdecak kagum.


"Selamat datang Kapten Divta," sapa Meysa ramah.


"Terima kasih, Dok. Atas sambutannya," balas Divta.


"Selamat malam, Dok," sapa Dona dan Melly serta Audrey secara bersamaan.


Meysa menatap ketiga wanita itu dari ujung kaki sampai ujung rambut dengan senyuman mengejek. Ternyata ini wanita-wanita yang menghina adik kesayangannya. Apa mereka nanti akan terkejut saat tahu jika Mentari adalah adiknya.


"Selamat malam juga, Dokter Audrey," balas Meysa dengan senyuman mengejek.


"Dokter cantik sekali malam ini," puji Audrey yang terkagum melihat Meysa malam ini.


"Terima kasih."

__ADS_1


Sementara Divta diam saja sambil menikmati pesta yang sama sekali tidak membuatnya nyaman. Jika bukan karena tugas dan tanggungjawab sebagai seorang kapten dan pemimpin mungkin dia akan menolak dengan keras surat undangan tersebut. Ini yang namanya kesepian di tengah keramaian. Padahal tamu banyak sekali dari berbagai kesatuan dan rumah sakit namun dia merasa kesepian.


"Silakan duduk," ucap Meysa mempersilahkan.


.


.


Mentari menarik nafas panjang. Dia memikirkan ucapan kakaknya tadi yang mengatakan jika Gevan bisa saja suka padanya jika dia terlalu sering bersama dengan keponakannya tersebut.


"Sudahlah, tidak mungkin Gevan menyukaiku," kilah Mentari menggeleng.


Gadis itu keluar dari toilet. Dia terkejut ketika Gevan berdiri di depan pintu toilet dengan wajah panik.


"Kenapa lama?" protesnya.


"Dih, memangnya kenapa? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Mentari memincingkan matanya curiga. Cara tatapan Gevan padanya memang sedikit aneh dan membuatnya merasa tak nyaman.


"Aku di suruh Mama untuk menyusul, Tante," sahut Gevan.


"Oh." Mentari beroh-ria saja sambil memperbaiki bajunya yang setengah bergeser.


"Iya sudah, ayo." Gevan menarik tangan menarik.


"Astaga, Gevan. Jangan tarik-tarik. Memangnya tangan Tante karet apa?" gerutu Mentari.


"Habisnya Tante itu berjalan seperti siput," sindir Gevan.


Keduanya berjalan menuju meja Rizel dan Meysa yang tampak sibuk berbincang-bincang dengan tamu yang lainnya. Mentari terus menggerutu karena Gevan menarik tangannya dengan paksa. Perasaannya mulai gak nyaman, dia tidak mau ada rasa yang tak seharusnya ada di hati Gevan untuknya. Walau Gevan bukan keponakannya Mentari sama sekali tak memiliki rasa apapun pada pria itu.


"Kak, maaf menunggu lama."


Mereka yang tenang asyik mengobrol sontak menoleh kearah Mentari dan Gevan.


Deg


Seketika tatapan Mentari dan Divta saling bertemu satu sama lain. Melly bahkan tanpa sadar berdiri sedangkan Dona dan Audrey mengangga dengan mulut terbuka lebar tak menyangka jika di depan mereka ini adalah gadis yang mereka rendahkan.


"Tari."


"Mas Divta."


"Mama."


Semua mata melihat kearah Mentari saat mendengar Al dan El memanggilnya mama.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2