Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 06. Istri Kecil Shaka 01


__ADS_3

"What's? Ayolah, Dad. Apa kata dunia jika aku menikahi gadis ingusan itu?" protesku.


Seperti sebuah mimpi yang tak ingin jadi kenyataan. Tiba-tiba saja Daddy memintaku menikahi gadis SMA berusia 19 tahun. Dia sangat manja dan suka berulah, ah entahlah apa yang harus aku jelaskan pada Felly tentang perjodohan ini.


"Ini sudah keputusan Daddy, Shaka!" tekan Daddy tanpa menerima penolakan. Ah, Daddy ini orang yang keras kepala. Apapun yang dia inginkan harus tercapai ada atau tidaknya persetujuan dari pihak lain.


"Daddy dia masih sekolah," ujarku.


"Sebentar lagi selesai," jawab Daddy dengan wajah tenang sambil menyeruput kopi tanpa gula yang dibuatkan oleh Mama.


Jika saja dia bukan ayahku sudah pasti aku akan mengajaknya baku hantam di lapangan. Banyak wanita cantik dan berkelas di dunia ini, kenapa Daddy malah memilih gadis kecil yang masih bau ingusan itu.


"Besok malam persiapkan diri kamu. Kita akan mengadakan lamaran. Nanti siang, jemput Rey dan Tata di bandara. Mereka mau menyaksikan lamaran kamu," jelas Daddy yang tak mau menerima bantahan atau penolakan dariku.


"Daddy, aku punya pacar," ucapku. Ah, bagaimana nasib pacarku nanti? Aku mencintainya dan aku tidak sudi menikahi wanita lain selain dia.


"Kamu dan dia berbeda. Daddy sudah tekankan sejak awal, agar menjaga jarak dengan orang yang tidak seiman," tukas Daddy.


Aku merenggek dan menolak perjodohan ini. Aku tidak mau, pokoknya tidak mau. Namun, apa bisa aku menolak perintah paduka raja yang seperti titah seorang dinasti itu? Daddy ini mirip presiden, apapun yang dikatakan harus dilakukan tanpa terkecuali.


Aku mencebik seraya menghentakkan kakiku kesal. Walaupun sudah berusia seperti ini aku sangat manja, apalagi anak bungsu yang disayang oleh ketiga kakakku. Namun, semanja-manja dan sekeras kepalanya aku. Aku tetaplah seseorang yang tak bisa membantah apa yang diucapkan kedua orang tuaku terutama Daddy.


"Ma!" Aku merenggek pada Mama.


"Terima saja dulu, Son. Jalani semuanya siapa tahu kamu suka nanti," jawab Mama tenang dan santai dengan wajah ayunya.


"Aku takut seperti Kak Naro nanti," ucapku.


Kisah Kak Naro yang menyayat hati itu berhasil membuat aku sedikit takut menjalani hubungan karena perjodohan. Felly adalah satu-satunya wanita yang berhasil menyakinkan aku. Namun, siapa sangka jika kami tak bisa bersatu hanya karena beda kepercayaan. Aku masih berharap, aku dan Felly menemukan jalan keluar sehingga bisa bersama seperti harapan kami berdua.


"Jangan samakan kisahmu dengan Naro," ketus Daddy. "Sudahlah, setelah menjemput Rey dan Tata, nanti kamu beli barang untuk seserahan besok!" suruh Daddy.


"Iya, Dad." Aku pasrah.

__ADS_1


Aku harus menemui Kak Nara dan Kak Naro untuk mencari pembelaan. Siapa tahu mereka bisa membantu aku menolak pernikahan gila ini.


"Shaka masuk ke kamar dulu," pamitku.


"Eh, jangan main game. Ingat urusan kantor belum selesai. Kalau omset perusahaan turun lagi, Daddy suruh kamu jadi gembel!" ancam Daddy.


"Iya iya," sahutku ketus.


Dulu aku anak game's dan hari-hariku kuhabiskan hanya untuk memainkan game online bersama teman-teman. Namun, ketika beranjak dewasa apalagi setelah selesai kuliah dan banyaknya tuntutan demi tuntutan membuat aku menyadari satu hal bahwa aku tidak bisa seperti ini terus setiap hari.


"Argh!" Aku melempar tubuhku ke atas ranjang.


Aku menatap langit-langit kamar. Jujur saja, aku sedikit trauma dengan yang namanya pernikahan. Ketiga kakakku adalah orang-orang yang pernah mengalami kegagalan dalam membangun rumah tangga mereka, walau sekarang mereka telah menemukan kebahagiaan masing-masing. Namun, tetap saja ada rasa takut untuk menuju ke jenjang pernikahan. Padahal selama ini aku dan Felly menjalani hubungan cukup serius dan saling ketergantungan satu sama lain.


Drt drt drt


Ponselku berdering, segera ku ronggoh saku celana tissueku mencari benda pintar kata orang. Senyumku langsung terbit dan rasa lelah seketika hilang melihat nama siapa yang tertera di layar ponselku.


Panggilan video dari kekasihku, Felly. Kami menjalin hubungan sudah lima tahun lamanya. Dia berprofesi sebagai dokter spesialis mata. Wanita cantik itu berhasil membuatku tak bisa berpaling sama sekali. Dia berhijab, memang pesona wanita yang menutup auratnya itu selalu membuatku merasa memiliki. Sayang, kami berbeda.


Lama aku berbincang-bincang dengan Felly di dalam ponsel. Aku belum berani menceritakan tentang perjodohanku dengan gadis SMA itu. Aku tak mau hubunganku dan Felly rusak hanya karena masalah kecil seperti ini.


* * *


Chit!!!!!


"Sial!" umpatku memukul stir mobil dengan kasar.


"Siapa sih?"


Aku keluar dari sambil membanting pintu mobil dengan kasar.


"Aw," rintih seorang gadis SMA yang memakai sepeda berwarna pink tersebut.

__ADS_1


"Heh, kamu itu liat dong, ini jalur mobil bukan sepeda," protesku.


"Nanti dulu ngomelnya, Om. Cepat bantu aku berdiri!" What's? Apa tadi? Dia memanggil aku om? Kurang ajar ini anak, sepertinya harus aku kasih pelajaran. Aku belum tua hanya saja sudah dewasa, usiaku 33 tahun. Masih muda, 'kan?


"Om, om. Kamu pikir saya om kamu?" protesku sambil membantu gadis itu berdiri. Kasihan juga melihat lututnya yang berdasar.


"Ehh iya lupa. Om 'kan tidak menikah dengan tanteku." Dia cenggesan sambil menepuk bibirnya yang salah bicara.


"Jangan panggil saya om!" hardikku.


"Terus aku harus panggil apa? Bapak? Paman? Kakek? Atau ayang?" Gadis itu langsung ngakak seperti orang stress. Melihatnya yang tertawa begitu, aku jadi teringat pada sepupuku Auny yang juga bar-bar seperti gadis ini.


"Kamu sudah menabrak mobil diaa. Jadi, kamu harus ganti rugi lima juta," ujarku menengadahkan tangan ke arahnya.


"Dih, mahal amat, Om? Harusnya ya Om aku yang minta ganti rugi, nih lutut aku sampai luka begini gara-gara mobil Om," ketus gadis itu.


"Bukan urusan saya," sahutku. Eh, kasihan juga melihat kakinya yang mengeluarkan sedikit darah itu.


"Ayo ikut saya! Kita ke rumah sakit." Aku menarik tangannya. Padahal rencana mau ke bandara menjemput Mas Rey dan Kak Tata, tetapi gadis ini malah menambah pekerjaan saja. Hum, bisa jadi alasan aku bertemu Felly di sela-sela jam kerja begini.


"Om yang bayar ya?" Dia menunjuk wajahku.


"Iya saya yang bayar," jawabku.


"Terus sepeda saya bagaimana, Om?" Gadis ini masih saja memanggil aku om.


"Buang saja," jawabku membuka pintu mobil agar gadis itu masuk.


"Eh, enak saja. Tidak mau!" tolaknya menepis tanganku. "Itu kaki aku, Om. Kalau tidak ada sepeda nanti aku susah ke sekolah," jelasnya.


Huffh, sabar. Orang sabar itu pasti kesal. Aku menarik napas dalam sangat dalam. Takut emosi, ini anak orang bisa-bisa nanti aku di pidana gara-gara melakukan kekerasan pada gadis bau kencur ini.


"Nanti saya akan telepon montir untuk bawa sepeda kamu ke bengkel. Sekarang kamu ikut saya dulu!"

__ADS_1


__ADS_2