Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. Anara Putri


__ADS_3

Aku menatap pantulan diriku di depan cermin. Make-up tipis ini melekat di wajahku, gaun mewah nan indah tersebut membungkus tubuhku dengan indah. Hari ini, hari pernikahanku dengan Kak Bintang tetapi aku tak bahagia. Pernikahan ini karena perjodohan kesepakatan antara Daddy dan orang tua Bintang.


"Semoga kamu bahagia, Sayang." Mama memperbaiki belakang gaun yang ku pakai.


Aku berbalik menatap Mama dan memaksakan seulas senyum. Sebenarnya aku ingin menolak tetapi melihat wajah Mama yang benar-benar ingin aku segera menikah, aku pun tak dapat menolak.


"Terima kasih, Ma," ucapku.


Mama mengusap lembut tanganku. Wajah ayu ini masih cantik meski usianya tak muda lagi. Aku masih ingat saat perpisahan Papa dan Mama. Aku yang begitu dekat dengan Papa tak terima mereka berpisah. Tetapi satu hal yang membuat aku akhirnya menyadari semua hal tersebut yaitu Papa menikah lagi dengan Tante Lusia yang sekarang masih berada di balik jeruji besi.


"Ayo, Sayang," ajak Mama.


Aku mengangguk dan mengikuti Mama yang menggandeng tanganku.


Diatas karpet merah, langkah kakiku terlihat lebar. Aku memeluk lengan Naro untuk menuntunku menuju altar di mana di sana, ada calon suami dan pendeta yang akan meresmikan pernikahanku hari ini.


"Kakak gugup?" bisik Naro.


Aku mengangguk, siapa yang takkan gugup di hari pernikahan sendiri. Walau aku tak ingin menikah muda tetapi apa boleh buat jika Daddy dan Mama.


Aku mencubit pinggang adikku dengan gemes. Di goda seperti itu membuatku salah tingkah saja.


Naro memberikan tanganku pada lelaki tersebut. Wajahnya datar tak berekspresi serta dingin seolah tak boleh tersentuh. Ku akui dia benar-benar tampan seperti jelmaan dewa Yunani. Aku tak bisa bagaimana masa depanku dengan lelaki ini nantinya. Apakah akan berujung bahagia atau akan menyakitkan satu sama lain.


"Silahkan saling mengucapkan janji suci," ucap sang pendeta.


Kami berdua saling berhadapan. Bolehkah ku jujur jika lelaki ini benar-benar tampan, bahkan bisa ku katakan pria paling tampan dan menawan yang pernah ku lihat di permukaan bumi. Rahang keras dan tegas, bulu mata lentik, hidung mancung dan alis tebal serta dagu yang lancip membuatnya semakin tampan dari biasanya.

__ADS_1


“Saya Bintang Langit Angkasa menerima engkau Anara Putri menjadi istriku dan setia selalu baik dalam suka maupun duka, dalam susah mau pun senang, dalam sakit maupun sehat. Saya akan mencintai dan menjaga engkau dengan segenap hati dan jiwa saya berjanji dihadapan Tuhan, amin," ucapnya dengan tenang dan santai. Berbeda denganku yang gugup bukan main.


“Saya Anara Putri menerima engkau Bintang Langit Angkasa menjadi suamiku dan setia selalu baik dalam suka maupun duka, dalam susah mau pun senang, dalam sakit maupun sehat. Saya akan mencintai dan menjaga engkau dengan segenap hati dan jiwa saya berjanji dihadapan Tuhan, amin," ucapku.


Acara berlangsung mewah dengan para tamu undangan yang ribuan.


"Selamat ya, Sayang." Mama memelukku dengan senyuman.


"Terima kasih, Ma." Aku membalas pelukan Mama.


.


.


Setelah acara selesai Mas Bintang membawaku ke rumah yang baru dia beli sebagai hadiah pernikahan kami.


Aku terkagum melihat rumah mewah dengan lantai tiga berdiri diatas 1 hektar persegi. Di sekelilingnya terdapat taman dan kolam ikan yang sepertinya memang sengaja di buat sebagai interior luar.


"Disebelah itu kamarmu." Dia menunjuk kearah satu kamar yang tidak jauh dari kamu.


"Lho, bukannya ki_"


"Kita tidak saling mencintai dan saya tidak mau satu kamar," sahutnya dingin.


Seketika mulutku bungkam. Bisakah dia tidak jujur dengan perasaannya? Kenapa rasanya sakit sekali, apa karena dia suamiku?


"Saya tidak melarang kamu melakukan apa saja dan bersama siapa saja. Begitu juga dengan saya," jelasnya yang membuatku seketika sadar bahwa pernikahan ini takkan menemukan akhir yang bahagia.

__ADS_1


"Iya, Mas." Aku menunduk dengan jari jemari yang saling meremas satu sama lain.


"Dan satu lagi." Dia menatapku. "Jangan katakan pada siapapun jika kita pisah kamar. Saya tidak mau, ketenangan saya terganggu karena gosip yang tidak benar."


Setelah berkata demikian dia melenggang pergi meninggalkanku dalam kebingungan. Kenapa pipiku seketika panas? Sakit. Aku tak bisa jelaskan bagaimana perasaanku saat ini. Malam yang ku anggap sebagai sejarah perjalanan cinta di dalam pernikahan tetapi malah ini yang ku dapatkan.


Aku berjalan masuk ke dalam kamar yang di tunjuk oleh Mas Bintang. Rumah mewah ini tak memiliki satu asisten rumah tangga.


Aku masuk ke dalam, kamar mewah dengan dekorasi interior yang indah. Tetapi kenapa hatiku merasa hampa dan kosong walau tidur di kamar mewah bak hotel bintang lima.


Aku duduk di bibir ranjang seraya merenungi nasib pernikahanku yang tidak seperti orang lain. Aku tidak tahu setelah ini akan seperti apa. Aku mendengar dari Naro kalau Mas Bintang memiliki kekasih yang saat ini masih menjalin hubungan dengannya. Sedangkan aku, selama ini tak pernah dekat dengan siapapun dan sibuk memperluas bisnis cafe demi masa depan.


"Papa," lirihku.


Kata Mama kalau aku merindukan sosok Papa, letakkan saja tangan di dada karena jantung yang sekarang ku gunakan adalah milik Papa. Ku pejamkan mata sejenak, merasakan Papa memelukku sekarang.


Rekaman kejadian 15 tahun yang lalu seperti terekam kembali, aku tak pernah membenci Papa walau dia menduakan Mama. Aku sudah memaafkan semua kesalahannya dan dia rela mengorbankan jantung nya agar aku bertahan hidup.


"Papa." Air mataku luruh lagi. "Nara rindu, Pa. Nara ingin bertemu Papa dan menceritakan semua perasaan yang kini Nara rasakan."


Andai ada Papa disini, aku ingin memeluknya dan meluapkan semua perasaan sakit dan kecewa yang kini memenuhi dadaku. Aku ingin menangis sepuasnya, bahwa kini aku terluka. Malam pertama yang di idamkan oleh semua wanita menjadi malam semu penuh kelabu yang telah menurihkan luka di dadaku.


"Maafkan Nara, Pa. Gara-gara Nara Papa harus pergi."


Selama 15 tahun berlalu. Tanpa ada yang tahu bahwa aku hidup dalam penyesalan dan rasa bersalah. Sebab aku lah yang menyebabkan kematian Papa. Aku yang sudah membuatnya kehilangan nyawa.


Kamar ini menjadi saksi bisu tangis yang keluar membasahi pipi. Semua seperti mimpi yang tak pernah aku bayangkan justru membawaku pada pernikahan luka yang tak aku inginkan.

__ADS_1


Kuseka air mataku dengan kasar seraya menghela nafas panjang. Perlahan ku buka jepit rambut yang menempel di kepalaku. Make-up tipis ini membuatku sedikit risih dan gerah.


"Aku tidak tahu bagaimana nasib pernikahan ini, semoga aku bisa mencintai Mas Bintang sesuai harapan Mama dan Daddy."


__ADS_2