
SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........
CEKIDOT......
👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇
"Mas Bayu," sapa ku.
"Kamu sama siapa disini?" tanya Mas Bayu duduk dikursi.
"Tadi bertemu teman lama, Mas," jawabku. "Mas sama siapa? Mau makan siang?" cecar ku.
"Tidak. Mas sedang tunggu Mbak Dea beli makanan untuk di bawa kerumah sakit," jelas Mas Bayu.
Mas Bayu sudah ku anggap sebagai kakak ku sendiri. Apalagi sifatnya yang tegas dan berani membuatku belajar banyak hal dari nya.
"Siapa yang masuk rumah sakit, Mas?" tanya ku penasaran.
"Lho, kamu tidak tahu?" Aku menggeleng dengan cepat. "Nara masuk rumah sakit semalam," sambung Mas Bayu.
"A-apa?"
Aku benar-benar terkejut ketika mengetahui Nara masuk rumah sakit, bukankah semalam gadis kecil itu masih baik-baik saja ketika aku mengantarnya pulang? Lalu kenapa sekarang Nara masuk rumah sakit.
"Aku tidak tahu, Mas," jawab ku.
Ara sama sekali tak menghubungi ku dari semalam. Apa Ara benar-benar sudah memilih pergi dari hidupku? Biasanya setiap ada masalah tentang Nara, Ara selalu menceritakan semuanya padaku.
"Nara sakit apa, Mas?" tanya ku gelisah. Nara sudah ku anggap sebagai anak ku sendiri. Mengetahui dia sakit, tentu aku khawatir bukan main.
"Siang ini hasil lab nya keluar, jadi Ara belum mengatakan apa penyakit Nara," jelas Mas Bayu. "Ara tidak memberitahu mu?" tanya Mas Bayu.
Aku menggeleng, "Tidak, Mas," jawabku cepat seraya menarik nafas dalam.
"Tumben. Kalian baik-baik saja 'kan?" Mas Bayu memincingkan matanya curiga padaku. Sebab aku dan Ara memang sangat dekat, saat Ara ada masalah aku adalah orang pertama yang dia cari dan begitu juga sebaliknya.
"Kami baik-baik saja, Mas," kilahku.
"Ya sudah kamu mau ikut kerumah sakit?" ajak Mas Bayu sambil berdiri.
"Iya Mas," jawab ku.
__ADS_1
Tak mungkin aku melewatkan hal-hal tentang Nara. Apalagi aku tak memiliki anak perempuan, tentu aku begitu menyayangi nya.
Aku masuk kedalam mobil sambil menghela nafas panjang, mengingatkan perdebatan ku dengan Ara semalam membuat ku merasa benar-benar tak berdaya. Rasanya aku tak bisa jauh dari Ara, aku mencintai nya tulus apa adanya. Tetapi bagaimana jika Chelsea menepati kata-kata nya, aku takut Ara dan anak-anak nya tidak aman.
Aku melajukan mobil ku kembali menuju rumah sakit. Jujur saja aku khawatir, takut terjadi sesuatu pada Nara.
Sampai dirumah sakit, aku turun dengan cepat dari mobil. Mas Bayu dan Mbak Dea juga turun dari mobil.
Aku sudah berjanji akan selalu berada disamping Ara dalam keadaan apapun, tetapi saat ini aku tak bisa lagi berdiri disampingnya dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
Kami masuk kedalam ruang rawat inap Nara. Ruangan VVIP yang tentu nya dengan berbagai fasilitas mahal, harganya sewanya bisa mencapai belasan juta permalam. Aku tidak mengatakan Ara miskin, tetapi untuk menyewa ruangan ini perlu meronggoh saku.
"Ara," panggil Mbak Dea.
"Kak Dea."
Ara berhambur memeluk kakaknya sambil menangis. Kondisi Nara seperti nya cukup parah, terlihat dari beberapa selang yang menempel dibagian tubuh nya yang lain.
Wajahku seketika berubah saat melihat ada Pak Dante disini. Apa yang manusia itu lakukan? Apa dia yang menemani Ara dan anak-anak semalam.
"Pak Dante," sapa Mas Bayu.
"Apa kabar Pak Bayu?" balasnya.
"Ara," panggil ku dengan suara lirih.
"Om Divta," panggil Naro berhambur kearah ku.
"Hai jagoan, Om," ucapku menyambut pelukan Naro.
Naro memeluk ku dengan menangis. Aku bisa rasakan jika pelukan Naro adalah pelukan kerinduan terhadap seorang ayah. Dia harus menerima kenyataan atas perpisahan antara kedua orang tua nya.
Kami duduk diruang rawat inap Nara. Ada sofa didalam ruangan tersebut.
"Bagaimana keadaan, Nara?" tanya Mas Bayu pada Ara yang duduk didekat Pak Dante.
Kenapa sekarang mereka tampak lebih akrab? Adakah boss dan anak buah seakrab ini tanpa ada hubungan apa-apa. Aku curiga jika Pak Dante ini menaruh rasa pada Ara. Sebab kemarin Ara mengirim pesan padaku bahwa wajahnya sangat mirip dengan almarhum istri dari Pak Dante.
"Nara menderita gagal jantung, Mas," sahut Nara dengan suara serak nya.
"Lalu bagaimana penanganan nya?" tanya Mas Bayu.
__ADS_1
Aku terkejut mendengar penjelasan Ara. Apa mungkin anak sekecil itu mengalami gagal jantung? Kasihan sekali Ara, pasti dia sangat rapuh ketika mengetahui penyakit anak nya.
"Dokter sedang melakukan beberapa pemeriksaan, Mas," jawab Ara melirik kearah ranjang.
Ingin rasanya ku peluk tubuh Ara dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Tetapi aku sadar diri bahwa kini Ara masih marah padaku. Bahkan dia tampak enggan menatap wajah ku.
"Ra, kamu yang kuat yaa," ucap Kak Dea mengusap bahu Ara.
Ara mengangguk, aku tahu betapa rapuhnya dia. Sebab selama ini sudah terlalu banyak hal yang dia lewati.
"Pak Bayu, seperti nya saya harus pamit karena sebentar lagi ada meeting bersama klien," pamit Pak Dante melirik arloji di tangannya.
"Iya Pak Dante, terima kasih Pak sudah menolong Ara," ucap Mas Bayu menyambut uluran tangan Pak Dante.
"Sama-sama Pak, itu sudah tugas saya sebagai atasan," sahut Pak Dante.
"Ara."
Pak Dante berjongkok didepan Ara yang duduk disofa. Kami semua melihat heran, termasuk aku. Sebenarnya ada hubungan apa Ara dan Pak Dante? Apa benar mereka hanya sebatas Boss dan anak buah?
"Iya Pak," balas Ara menyeka.
"Everything is okey. I'll be there for you," ucap Pak Dante menyeka air mata Ara.
Rahangku mengeras dan tanganku mengepal sangat kuat. Andai saja tidak ada Ara atau yang lainnya, aku sudah pasti akan mengajak Pak Dante baku hantam.
"Terima kasih Pak, maaf merepotkan," ucap Ara memaksa kan senyum.
"Sama sekali tidak. Kamu sudah lebih dulu menolong saya. Saya pamit dulu, nanti malam saya kembali lagi bawa Tata sama Mama. Mereka ingin bertemu kamu," kata Pak Dante. Tatapan matanya pada Ara seperti tak biasa.
"Iya Pak, saya juga kangen sama Tata," jawab Ara.
Pak Dante berdiri dari duduknya. Dia melihat kearah Naro yang berada dipangkuan ku.
"Jagoan, Om Baik. Sini, Son," panggil nya pada Naro.
"Om Baik."
Naro berhambur kearah Pak Dante. Jujur dalam hati aku benar-benar bertanya, apakah hubungan mereka seakrab itu? Biasanya Naro tidak mudah di taklukan. Namun, kenapa sekarang begitu dekat dengan Pak Dante.
"Om Baik pamit dulu ya, Son. Om Baik titip Mama sama Kak Nara. Naro jangan nakal, okey," pesan Pak Dante mengusap rambut Naro.
__ADS_1
"Siap Om Baik!" seru Naro memberi hormat seperti upacara bendera
Bersambung....