Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 05. Tata Story 13.


__ADS_3

Sejak memilihnya aku belajar untuk percaya. Meski banyak hal terkadang mencoba membuat ragu. Namun, aku paham, aku sudah menempatkannya menjadi orang terpenting dalam hidupku. Seseorang yang ku paham tak sempurna, tetapi selalu berusaha memperbaiki diri. Itulah yang membuat aku mencintainya. Aku percaya dalam hati terdalamnya, dia adalah orang yang mengerti bagaimana mencintai. Dialah yang ingin ku jadikan rumah bagi semua pulangku.


"Tata, apa yang kamu lakukan di sini?"


Aku terkejut ketika Mas Gevan menarik tanganku dengan kasar.


"Mas, apaan sih? Sakit!" Aku meringgis kesakitan.


"Siapa laki-laki itu apa itu selingkuhan kamu?" tudingnya.


"Selingkuhan apa? Jangan sembarangan?"


"Dok, jangan kasar dong!" Pak Rey ikut berdiri.


"Ini bukan urusan Anda. Saya tahu Anda berniat menghancurkan rumah tangga saya," tuding Mas Gevan menunjuk wajah Pak Rey.


Benar kata orang, kalau seseorang selingkuh maka dia akan menuduh kita yang tidak selingkuh untuk menutupi semua kesalahannya.


"Ayo cepat kamu ikut Mas pulang!"


Mas Gevan menarik tanganku dengan kasar menelusuri koridor rumah sakit tanpa peduli dengan tatapan para dokter dan perawat yang heran melihat kami berdua. Beberapa kali aku meringgis kesakitan tetapi lelaki ini tampak tak peduli sama sekali. Dia hanya mementingkan perasaannya saja. Tanpa dia tahu bahwa caranya itu begitu menyakitkan aku.


Namun, waktu tidak pernah bisa di tebak. Terkadang perasaan diuji oleh hal-hal yang membuat menjadi lemah dan seolah tidak kuat untuk saling mempertahankan. Padahal seharusnya tidak selemah itu. Kami sama-sama tahu, kami akan selalu punya hal-hal di luar dugaan. Tak mengapa jika tiba-tiba dia meragukanku. Jika tiba-tiba dia merasa aku bukanlah yang terbaik untuknya. Aku mengerti, banyak hal yang tidak pernah bisa kubuat pasti. Yang aku tahu, aku hanya mampu berusaha sekuat-kuatnya aku.


"Masuk!" Mas Gevan membuka pintu mobil agar aku masuk.

__ADS_1


Lalu dia ikut masuk juga. Pipiku seketika panas menahan lelehan bening di pelupuk mataku. Dia tanpa bertanya apapun main langsung labrak dan menyakiti aku. Aku menyeka air mataku kasar dan enggan melihat suamiku.


Bagaimana kalau misalnya dia menjadi aku? Melihat suami sendiri bercinta dengan kakak sepupu. Mungkin dia langsung meledakkan bom.


"Siapa laki-laki itu, Tata?" bentaknya dengan wajah memerah dan marah. Urat-urat lehernya terlihat bermunculan.


Aku melihat kearahnya dengan marah juga.


"Kenapa Mas kasar? Harusnya Mas tanya siapa lelaki itu bukan langsung menarik tanganku dengan kasar. Tanganku sakit, Mas," renggekku menunjukkan tanganku yang memerah akibat cengkraman yang begitu kuat.


Sewajarnya saja bila sekdeli datang rasa lelah dalam hubungan. Dia mungkin juga pernah merasa lemah menghadapi sikapku. Juga aku kadang lelah menghadapi egonya.


Dia langsung menginjak rem mendadak. Lalu memperhatikan tanganku yang memang merah dan bahkan sedikit tergores dan luka.


"Maaf."


"Maafkan Mas. Mas takut kehilangan kamu," ucapnya mengecup punggung tanganku.


Aku sama sekali tidak terpesona dengan tatapan dambanya. Aku malah jijik mengingat dirinya yang bercinta dengan Mbak Queen. Rasanya aku tidak sudi di sentuh oleh lelaki ini. Pria yang sudah tega menurihkan luka di hati istri dan anaknya.


Sudah kuperjuangkan Mas Gevan. Namun, hanya sedih yang dia tinggalkan padaku. Kupikir kami memang saling mempertahankan satu sama lain, sebelum akhirnya ternyata semua ini hanya aku yang ingin. Kemudian dia katakan tetap kuat tanpa dirinya. Tetaplah menjadi orang yang teguh pada impian. Lalu, apa artinya kebersamaan ini? Jika saja akhirnya hanya aku yang merasa memiliki. Apa dia bahagia dengan cara tak membuatku bahagia? Apa dia tahu bagaimana cara yang baik untuk melupakannya? Bagian-bagian dari perjalanan dia dan aku, adalah kepingan-kepingan yang merasuki pilu.


Teruslah melangkah semakin jauh. Biarlah aku menenangkan segala perasaan rapuh. Bagiku, akan selalu ada alasan untuk kembali mencintai diri sendiri. Semoga Mas Gevan bahagia dengan segala yang dia pilih dalam hidup ini. Walau jujur saja perasaan tentangnya tak pernah benar-benar mati. Aku pernah berharap bahwa kami akan kembali utuh meski sudah berpisah cukup lama.


Hidup memang harus berlanjut. Biarlah urai semua semua kepedihan yang kusut. Mas Gevan tak perlu memikirkan apapun perihal aku. Sebab dia takkan akan kuat menjalani bagian dari hidupku. Ini berat sekali. Namun, aku hanya ingin dia bahagia untuk hidupnya nanti. Jika itu yang aku pikirkan terbaik, biarlah ku pulihkan hatiku dengan sengaja ku buat tidak baik lagi. Hati yang dulu mencintainya dengan sungguh, kini dia sungguh-sungguh melukai perasaanku dengan utuh.

__ADS_1


"Maafkan Mas."


Dia menarik aku ke dalam pelukannya. Sejak rumah tangga kami bermasalah aku memang menghindar dari apapun yang bersangkutan dengan dia. Aku tak mau membiarkan hatiku di bunuh mati perlahan.


Dia hempaskan segelas hal yang kubangun dengan peluh dan sungguhku. Dia buang sesuatu yang kunamai rindu. Berat langkah kaki ini saat dia ternyata memilih jalan lain. Apa begini cara dia menepati janji-janji? Apa ini yang dia sebuah usaha mempertahankan seseorang yang dia cintai? Bagian mana dari kesungguhanku yang membuatnya menjadi meragukanku. Bisakah dia berikan penjelasan meski akhirnya perasaanku tetap saja dia tandaskan. Bisakah dia mencoba mengajarkan cara memahami, bagaimana menerima perasaan tetep sama saat orang yang di cintai menurihkan luka?


"Mas takut kamu akan tergoda dengan pria di luar sana," ucapnya yang masih memeluk tubuhku.


Aku tak membalas tetapi aku jika tidak membalas pelukannya. Semua perasaan yang dulu menggebu di dalam dada bukan lagi sesuatu yang membuatku bahagia. Semua hilang. Semua pergi.


"Maaf Mas sudah kasar," lirihnya memelukku kian erat.


Ingin rasanya kudorong tubuh lelaki ini agar menjauh dariku. Rasanya aku jijik, aku tak sudi berbagi tubuh dengan wanita lain.


Aku melepaskan pelukannya dengan wajah datar.


"Mas tenang saja. Aku bukan tipe orang yang suka mendua walau mungkin di duakan. Aku tidak suka bermain hati dan api, Mas. Apalagi menurihkan luka pada hati yang kucintai," ucapku dingin.


Aku dan dia dua orang yang berbeda dalam hal perasaan. Sebenarnya bisa saja aku balas dendam dan menerima tawaran Kak Sherly dan menikah dengan Pak Rey. Tetapi maaf, wanita berkelas. Aku takkan membalas perselingkuhan dengan peselingkuhan tetapi aku akan kubalas dengan penyesalan yang tidak akan dia lupakan sepanjang hidupnya.


"Maaf, Mas sudah suhuzon sama kamu. Mas tid_"


"Mas, kamu kenal aku orangnya bagaimana? Sebaiknya sebelum kamu suhuzon sama aku. Kamu intropeksi diri kamu dulu. Sebelum menghakimi aku. Aku bukan perempuan murahan yang mau menjajakan tubuhku pada lelaki yang bukan suamiku. Jadi, jika kamu berpikir aku seperti itu, kamu jelas salah, Mas."


"Apa maksud kamu?" tanyanya seolah tak mengerti.

__ADS_1


"Aku tahu kamu paham maksud aku, Mas."


Bersambung...


__ADS_2