
SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........
CEKIDOT......
👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇
Pelan-pelan bisa.
"Apa Pak, saya ikut meeting?" tanya ku sekali lagi sekedar memastikan. Siapa tahu aku salah dengar.
"Iya kamu ikut meeting hari ini," jawab lelaki ini.
Parah, aku bahkan tidak tahu nama direktur di depan ku ini. Biasanya ada namanya terpampang di atas meja, tapi kenapa tidak ada?
"Maaf Pak, kalau boleh tahu nama Bapak siapa yaaa?" tanyaku pelan dan sedikit ragu. Sebab yang kulihat, orang didepan ku ini seperti nya sangat dingin.
"Kamu tidak tahu siapa nama saya?" tanya nya memincingkan mata dengan curiga padaku.
Aku menggeleng. Aku memang belum tahu dan bahkan baru tahu jika lelaki yang aku temui ini adalah boss ku sendiri.
"Saya Dante," jawabnya singkat padat dan jelas.
"Iya Pak Dante," ujar ku sambil tersenyum. "Apa saja yang perlu saya persiapkan Pak, sebelum meeting?" tanyaku. Ini orang tidak ada sopan santun sama sekali, dari tadi dia tidak menyuruh ku duduk sama sekali.
"Laporan keuangan saja," jawab nya sambil berdiri. "Bawa laptop dan iPad saya!" perintah nya.
"Baik Pak," jawabku mengambil laptop dan iPad diatas meja nya.
Kami berjalan keluar dari ruangan direktur menuju ruangan meeting. Sebenarnya aku canggung, ini hari pertama aku bekerja tapi sudah diajak meeting oleh boss ku sendiri. Aku belum mengerti apa-apa tentang dunia pekerjaan, apalagi sebelum nya aku tidak pernah bekerja. Tidak ada pengalaman, selain menjadi ibu rumah tangga yang mengurus anak dan suami.
Langkah ku melebar ketiga menyamakan kecepatan dengan lelaki yang ada didepanku. Aku heran, padahal kaki nya dua. Kenapa jalan nya seperti punya kaki seribu?
Kami masuk kedalam ruangan meeting. Ruangan meeting ini mewah dengan meja bundar berbentuk lingkaran. Disana sudah ditunggu oleh para direksi dan lagi, kenapa ada Mas Galvin? Sial, di mana-mana aku harus bertemu mantan suamiku. Bagaimanapun, cinta yang dulu nya pernah ada kini mulai bersemayam kembali dan aku tak mau terjebak didalam nya.
__ADS_1
Tatapan Mas Galvin tertuju padaku ketika aku masuk bersama direktur. Begitu dengan para direksi dan manager yang lain nya. Mungkin mereka bertanya-tanya, siapa aku? Apalagi ini hari pertama aku masuk. Tentu wajahku asing dan aku lupa sebentar lagi jam makan siang, harusnya aku sudah berada di sekolah Nara dan Naro untuk mengajak mereka makan siang bersama.
"Selamat siang semua," sapa Pak Dante.
"Siang Pak," jawab mereka semua.
"Oh perkenalkan ini Ibu Diandra, dia adalah Kasie Keuangan. Jadi untuk semua laporan keuangan akan di handle oleh Bu Diandra," ucap Pak Dante memperkenalkan ku. "Bu silahkan perkenalkan diri Anda," sambung Pak Dante meminta ku memperkenalkan diri.
"Selamat siang Bapak-bapak. Perkenalkan nama Diandra Gautama, bisa dipanggil Dian atau Ara," sapa ku sembari memperkenalkan diri. Disini semua nya laki-laki, tidak ada yang perempuan kecuali aku.
"Salam kenal Bu," balas yang lain nya.
"Wahh apakah Ibu sudah menikah?"
"Tinggal di mana Bu?"
"Kalau masih jomblo, saya mau daftar, Bu,"
Aku hanya tersenyum nyengir kuda ketika mendengar gombalan dari bapak-bapak yang ada diruangan walau sebenarnya sedikit risih, tapi aku mencoba profesional dalam pekerjaan.
Aku mulai menjelaskan laporan yang aku buat tadi. Meski awalnya aku menolak karena belum paham, namun Pak Dante terus saja memaksa ku.
.
.
.
"Ra," panggil seseorang.
Aku menoleh dan kulihat Mas Galvin berjalan kearahku. Sebenarnya mau apa lagi lelaki ini? Tidakkah cukup dia menghancurkan hatiku? Kenapa sekarang, malah seperti orang tak bersalah sama sekali?
"Ada apa, Mas?" tanya ku dingin.
__ADS_1
"Kamu sudah makan siang? Bagaimana kabar anak-anak?" tanya nya
"Mereka baik-baik saja. Aku ke sekolah mereka," jawabku
"Bagaimana kalau kita makan siang bersama sekaligus, jemput anak-anak?" tawar Mas Galvin.
Sebenarnya mau apa orang ini? Dia sudah tahu kalau aku ingin menghindari nya. Kenapa dia malah seperti sengaja menampilkan wajah membosankan nya tersebut?
"Tidak perlu Mas, aku bisa sendiri," tolakku.
"Kenapa? Mas hanya ingin bertemu dengan anak-anak, apa salah?" tanya nya menatapku.
"Mas harus ingat bahwa kita sudah berpisah. Aku tidak melarang Mas bertemu anak-anak, tapi untuk sekarang kondisi Nara dan Naro belum stabil. Emosi mereka masih di uji karena keegoisan Mas sendiri," tutur ku menatap Mas Galvin dingin. Aku tak bermaksud melarang Mas Galvin bertemu kedua anakku. Hanya saja untuk saat ini, aku benar-benar belum bisa.
"Tapi_"
"Ara,"
Aku dan Mas Galvin menoleh kearah sumber suara. Kulihat Pak Dante berjalan kearah kami.
"Siang Pak," sapa ku dan Mas Galvin bersamaan.
"Ara, temani saya makan siang sekalian bertemu klien. Tolong kamu bawa berkas-berkas yang tadi!" titah Pak Dante.
"Tapi Pak_"
"Ada masalah Diandra?"
"Ohh iya Pak," sahutku.
Semoga saja Pak Dante tidak mendengar obrolan aku dan Mas Galvin. Ya sebenarnya aku tak malu jika semua orang tahu bahwa Mas Galvin adalah mantan suami ku. Hanya saja aku tak mau ada gosip tak benar tentang kami.
Bersambung....
__ADS_1