Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 05. Tata Story 30.


__ADS_3

Kemoterapi atau kemo bekerja dengan cara menghentikan pertumbuhan sel kanker yang bersarang dalam tubuh. Meski pengobatan ini dapat mencegah sel kanker atau tumor, kemoterapi juga memiliki efek samping yang tidak sedikit.


Jenis pengobatan kemoterapi yang diberikan akan tergantung pada jenis, lokasi, stadium, penyebaran sel kanker dan tumor dan kondisi kesehatan pasien tumor.


Efek samping yang ditumbulkan dari kemoterapi juga berbeda-beda, yaitu ada yang bersifat ringan dan ada juga yang memerlukan penanganan khusus dari dokter.


Aku sudah berada di ruang kemoterapi. Menemani Lala bersama Mas Gevan yang juga ada di dalam ruangan kemoterapi ini. Beberapa selang mengalir di bagian tubuh Lala. Dadaku kembali sesak ketika melihat putri kecilku yang menderita.


Aku dan Mas Gevan saling menguatkan satu sama lain. Saling merangkul. Walau dalam hati aku ingin egois dan tak mengizinkan Mas Gevan masuk tetapi bagaimanapun dia adalah ayah kandung Lala dan berperan penting bagi kehidupan putri kecilku itu.


Dokter Hansel memilih pengobatan suntik, karena kondisi Lala yang semakin menurun, apalagi pernah kritis beberapa hari. Walau kondisi Lala tak seperti kemarin tetapi fisiknya tidak cukup kuat.


"Sayang." Aku mengenggam tangan Lala. "Kamu harus kuat, Nak. Mama tidak ke mana-mana. Mama akan bersamamu di sini." Aku mengecup punggung tangan putriku.


"Ada Papa juga di sini, Sayang. Papa tidak akan meninggalkanmu lagi."


Dalam keadaan seperti ini aku tak bisa egois. Walau dalam hati aku tak ingin dia ada di sini karena Mbak Queen pasti akan menuduhku ingin merebut Mas Gevan kembali. Namun, aku tak punya pilihan, Lala adalah alasan aku untuk bertahan menghadapi ini semua.


Selang darah juga mengalir di tangan Lala. Tubunya seperti disiksa oleh alat-alat medis itu. Jujur saja aku tak sanggup melihat anakku yang kesakitan. Tetapi apa boleh buat demi mempertahankan nyawa dan putriku.


Obat kemoterapi disuntikan pada bagian otot atau lapisan lemak. Misalnya lengan paha atau perut. Dokter Hansel menyuntikan obat itu melalui otot paha Lala. Aku mengenggam erat tangan anakku. Tuhan, hanya satu pintaku panjangkan usia Lala. Aku ingin tumbuh bersamanya dan menyiapkan segala kebahagiaan untuknya.


"Bagaimana, Dok?" tanyaku menatap wajah Lala. Hatiku benar-benar teriris sakit melihat Lala yang meringgis kesakitan.


"Mama." Air matanya membasahi pipi dan berderai deras.


"Iya, Nak. Mama di sini," ucapku memberikan senyuman pada Lala.


"Mama, sakit!" Hati ibu mana yang tidak akan merasakan sakit ketika melihat putri semata wayangnya terbaring lemah di rumah sakit.


"Lala, sabar ya, Sayang. Ini tidak lama," ucap Mas Gevan menimpali.


"Bagaimana, Dok?" tanyaku sekali lagi.

__ADS_1


Dokter Hansel menghela napas. "Kita akan lihat prosesnya, ini tidak lama. Memang sedikit menyakiti Lala akan tetapi dia akan lebih baik nanti, Bu," jelas Dokter Hansel.


Saat ini hanya ada Kak Galaksi dan Dokter Hansel serta beberapa perawat yang ikut bersama Dokter Hansel untuk membantu dia melakukan tugasnya, agar kemoterapi Lala kali ini berhasil.


"Kemoterapi ini akan membantu memperkecil ukuran tumor kanker dan meringankan rasa sakit," jelas Dokter Hansel.


"Mencegah penyebaran, memperlambat pertumbuhan, sekaligus menghancurkan sel kanker yang berkembang ke bagian tubuh lain atau metastasis."


"Menghancurkan semua sel kanker hingga sempurna dan mencegah kekambuhan kanker."


"Lalu apakah menyembuhkan?" tanya Mas Gevan.


Dentingan alat pendeteksi jantung mengema diruangan itu. Lala memejamkan matanya takut. Aku tahu dia kesakitan walau dengan mata terpejam.


"Kita hanya bisa menyerahkan pada Tuhan, Dok," sahut Dokter Hansel.


"Ada beberap metode pengobatan kemoterapi, dan semoga saja ini tidak berbahaya untuk Lala," tutur Dokter Hansel.


Dokter menjelaskan beberapa metode kemoterapi yang akan akan dijalani oleh Lala dan apa-apa saja resiko bagi tubuhku. Sedangkan aku hanya bisa berharap dalam doa dan harapan, barangkali Tuhan kasihan padaku lalu memberikan satu kesempatan untuk Lala bertahan hidup lebih lama.


"Kamu harus kuat. Mama akan selalu menemani mu."


Lala tertidur akibat suntikan obat bius di tubuhnya. Wajahnya tampak tenang dan tanpa beban. Aku tahu dia kesakitan tetapi berusaha kuat menahan seluruh tekanan dalam tubuhnya.


"Cepat sembuh sayang Papa."


* * *


Kemoterapi merupakan pengobatan kanker dan tumor yang efektif menyelamatkan jutaan jiwa. Namun, dibalik itu kemoterapi juga memiliki efek samping yang beragam.


Efek kemoterapi bisa berbeda-beda pada setiap orang, termasuk tingkat keparahan nya. Efek samping ini muncul karena obat-obatan tersebut memiliki tidak memiliki kemampuan untuk membedakan sel kanker dan sel sehat.


Aku menemani Lala yang menonton rekaman video di iPad-nya. Dia tampak tersenyum bahagia dan sesekali tertawa melihat adegan dirinya yang menari sebelum jatuh sakit. Rasanya aku ingin selalu melihat senyuman manis anakku ini. Aku berharap senyum ini tidak memudar hingga nanti.

__ADS_1


Rambut panjang yang dulu menjadi kebanggaannya, kini hanya kepala plontos yang terlihat polos. Aku sekuat tenaga menahan air mata yang hendak berjatuhand di pipi. Dulu aku selalu suka mengikat rambut panjang Lala yang menjuntai di punggungnya. Sekarang, rambut ini berguguran tanpa sisa.


"Mama, Lala lucu," ucapnya terkekeh.


"Iya, Sayang. Lala cantik di sana," sahutku mengusap kepala plontosnya.


"Ma, kenapa rambut Lala tidak ada lagi?" tanyanya polos.


Aku harus jawab apa? Lala tidak akan paham pada penjelasanku. Dia masih terlalu kecil untuk memahami penyakit yang menggerogoti tubuhnya.


"Itu k–"


"Sayang."


Kami berdua menoleh ke arah pintu masuk. Tampak Mas Gevan datang membawa kantong kresek berwarna hitam serta boneka panda yang besar.


"Papa!" Wajah Lala langsung berbinar-binar. Andai bisa berjalan sudah pasti dia akan turun dari ranjang dan berhambur memeluk Mas Gevan.


"Papa datang!" seru Mas Gevan sambil berjalan masuk. "Papa bawakan makanan kesukaan Lala dan boneka kesayangan Lala," ucap Mas Gevan mamerkan barang yang ada di tangannya.


"Wah, Lala suka banget, Pa!" seru Lala mengambil boneka itu dari tangan Mas Gevan.


Bagaimana bisa aku memisahkan ayah dan anak ini? Mereka saling menyayangi satu sama lain. Andai saja Mas Gevan tak memasukan orang ketiga dalam rumah tangga kami. Semua pasti akan baik-baik saja. Lala akan merasakan kehidupan seperti anak-anak lainnya.


"Lala mau makan?" Mas Gevan mengeluarkan bubur ayam dari dalam kantong warna hitam yang dia bawa.


"Mau ... Mau ... Mau," sahut Lala sumringah sambil manggut-manggut.


Mas Gevan terkekeh pelan. Lalu memindahkan bubur itu ke dalam mangkuk yang ada di atas nakas. Sembari dinas dari rumah sakit Mas Gevan memang sering membagi waktu bersama aku dan Lala. Apalagi kondisi Lala perlahan membaik setelah kemoterapi walau ada efek-efek tertentu yang harus dia rasakan.


Brak!


Pintu ruangan Lala di buka dengan paksa. Sontak kami bertiga menoleh.

__ADS_1


"Gevan!"


Bersambung...


__ADS_2