Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
S2. Sadar diri


__ADS_3

Mentari mematung di balik pintu, dia mendengar semua ucapan Melly dan Divta di ruang tamu karena tidak jauh dari kamar Al dan El.


Air mata gadis itu luruh melimpah ruah. Dia sudah tahu bahwa hubungannya dan Divta adalah ketidakmungkinan. Dirinya remahan kerupuk di tepi toples serta anak orang miskin yang berasal dari kampung. Mana pantas dia bersanding dengan seorang abdi negara seperti Divta.


"Mama," panggil El.


Segera gadis itu berlari kearah ranjang si kembar.


"Iya Tuan Muda, saya disini," ucap Mentari lembut sambil mengusap lembut kepala El.


"Mama, El ingin di peluk," pinta lelaki kecil itu sambil mengulurkan tangannya agar Mentari naik ke atas ranjang serta memeluknya.


"Iya, Tuan Muda."


Mentari menyimak selimut Al dan El lalu masuk ke dalam selimut tersebut sambil menepuk-nepuk punggung El. Tampaknya pria kecil itu baru saja mengalami mimpi buruk.


Tidak lama terdengar dengkuran halus dari mulut sl. Sedangkan Al sudah terlelap karena kelelahan bermain di rumah Audrey tadi.


Mentari menatap wajah si kembar, jujur saja dia sudah merasa nyaman menjadi pengasuh kedua anak ini. Tetapi dia sadar diri untuk tidak berharap banyak menjadi mama sambung si kembar.


"Bagaikan langit dan bumi, aku dan Pak Divta selamanya takkan pernah bisa 'kan bersama. Sadarku siapa yang tak pantas untuk bersanding dengan Pak Divta," ucap Mentari tersenyum kecut.


Dia merutuki kebodohannya yang bisa jatuh cinta pada Divta. Harusnya sejak awal Mentari memasang tembok pemisah antara dirinya dan Divta agar tidak melewati batas. Sekarang, dia malah merasakan sesuatu yang tak seharusnya dia rasakan.


"Sadar diri, Tari. Jangan berharap terlalu tinggi."


Lama gadis itu bermonolog sendiri hingga akhirnya dia terlelap bersama kedua anak kembar itu. Tanpa sadar Mentari tidur sambil menangis. Ucapan Melly tadi masih terus terngiang di kepalanya. Sakit sekali ketika mengingat kata-kata itu, apa dia memang benar-benar tak pantas bersanding dengan Divta?


Mentari gadis polos yang berasal dari kampung dan datang ke kota mengikut ibunya yang bekerja. Mentari tinggal di kabupaten bersama kakaknya yang sudah menikah. Setelah lulus SMA dia merantau ke kota untuk melanjutkan kuliah serta membantu sang ibu bekerja.


Walau berasal dari kampung tetapi Mentari memiliki pengetahuan yang tak kalah dari anak-anak kota. Sejak SMA dia menggantongi juara umum 1 tingkat sekolah, hingga dia mendapat beasiswa dari kampus karena menjadi salah satu mahasiswa yang lulus dalam seleksi SNMPTN kala itu. Hanya saja karena dia dari kampung banyak yang menatap dirinya dengan rendah.


Terdengar suara pintu terbuka. Divta masuk ke dalam si kembar, lelaki tampan itu tersenyum ketika melihat kedua anaknya yang terlelap bersama wanita yang dia cintai, entah sejak kapan?


Divta berjalan masuk lalu duduk di bibir ranjang. Tangannya terulur mengusap kepala Mentari. Ciuman mereka tadi masih membekas di bayangannya.


"Tari, saya berharap kamu tidak menyerah berjuang meski mungkin banyak yang akan menghalangi jalan kita," ucap Divta menyelipkan anak rambut gadis itu.

__ADS_1


"Saya tidak mau gagal lagi. Al dan El butuh kamu untuk selalu berada di samping mereka. Saya juga membutuhkan kamu, Tari."


Lelaki itu mengecup kening Mentari dengan lembut dan sayang. Entahlah, kenapa rasanya nyaman sekali ketika menyentuh bagian tubuh Mentari? Apa karena dia sudah terlalu lama menduda dan butuh kehangatan.


"Terima kasih sudah hadir di hidup saya. Saya harap kamu menjadi terakhir dan penyembuh luka di hati saya."


Divta naik ke atas ranjang, lalu memeluk tubuh kecil mentari yang tertidur di samping El.


.


.


Mentari mengeliat di balik selimut tebalnya. Tunggu, kenapa perutnya terasa di timpa sesuatu? Gadis itu membuka matanya dan betapa dia terkejut ketika melihat wajah Divta tepat berada di depannya.


'Astaga, kenapa Pak Divta ada disini? Aduh kenapa pakai peluk-peluk segala lagi? Jangan sampai Bu Melly melihat ini nanti!' batin Mentari.


Gadis itu berusaha menyingkirkan tangan Divta dari perutnya. Entah makan apa laki-laki ini sehingga tangan laki-laki ini berat sekali?


Untung saja tangan Divta bisa di singkirkan sehingga gadis itu bisa bebas dan bangun dari kasur.


"Hufh, kenapa Pak Div_"


Mentari terkejut ketika Divta menarik tangannya hingga gadis itu terjatuh di atas dada Divta.


"Pak_"


"Mau kemana?" tanya Divta yang masih memejamkan matanya tetapi dengan senyuman menggoda.


"Pak lepaskan saya, nanti Ibu lihat!" ucap Mentari memberontak.


"Morning kiss dulu."


Cup


Mata gadis itu kembali membulat sempurna saat Divta mengecup pipinya.


"Selamat pagi, Sayang," godanya.

__ADS_1


Mentari melepaskan diri dari Divta. Berada lama-lama di dekat lelaki itu bisa membuat dirinya serangan jantung karena perlakuan laki-laki itu yang suka menyerangnya tiba-tiba.


"Saya permisi, Pak," pamit Mentari keluar dari kamar Al dan El.


Divta terkekeh pelan ketika melihat wajah Mentari yang malu-malu kucing. Paginya kali ini sangat cerah dan dia selalu berharap apapun yang terjadi Mentari selalu berada di sampingnya.


"Sepertinya dia akan membuatku semakin betah di rumah," ucap Divta tersenyum hangat.


.


.


"Kamu kenapa, Tari?" tanya Susanti geleng-geleng kepala melihat anaknya yang senyam-senyum tidak jelas.


"Tidak apa-apa, Bu," kilah Mentari.


"Bagaimana kuliah kamu?"


Seperti biasa dia akan bangun pagi dan membantu sang ibu menyiapkan makanan untuk tuan rumah.


"Lancar, Bu," jawab Mentari.


"Syukurlah," sahut Susanti.


Susanti merasa lega karena akhir-akhir ini Mentari tidak lagi lengket pada Divta seperti hari-hari lalu. Dia cemas jika putranya itu nanti malah terjebak dalam perasaan yang tidak seharusnya. Sadar diri dan sadar kasta bahwa dia dan keluarga Divta tidak seimbang dan sepadan.


"Tari," panggil Susanti.


"Iya, Bu?"


"Ibu harap mulai sekarang kamu jangan terlalu dekat dengan Pak Divta lagi. Ibu tidak mau kamu terjebak sama dia," pesan Susanti menatap anaknya serius. Semalam dia tidak sengaja mendengar obrolan Melly dan Divta. Jujur saja sakit sekali ketika anak sendiri di rendahkan seperti tak berharga.


"Bu_"


Lidah Mentari terasa kelu dan tak mampu melanjutkan kata-katanya. Dia tidak tahu harus jawab apa? Sebab kini dia dan Divta sudah memiliki hubungan spesial yang orang lain tidak tahu. Lalu bagaimana mereka nanti? Apakah hubungan beda kasta ini akan tetap berlanjut atau berakhir cukup sama disini?


Mentari sadar ini bukan kisah Cinderella, ini kisah dia yang sebenarnya. Tak ada putri buruk rupa yang disunting oleh pangeran baik hati. Itu hanya ada di dunia dongeng dan novel.

__ADS_1


"Tolong Mentari, dengarkan kata Ibu. Ibu tidak mau kamu di injak-injak oleh keluarga ini. Kita memang miskin tetapi kita juga memiliki perasaan," mohon Susanti sambil menangkup kedua tangannya di dada serta memohon agar anaknya itu mau mendengarkan permohonannya.


Bersambung.....


__ADS_2