Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 05. Tata Story 17.


__ADS_3

Tata POV


Aku dan Lala saling merangkul dan menguatkan di kala kerinduan menghantam dada. Kadang aku harus memberi seribu alasan saat Lala bertanya di mana Papa? Aku menjawab seadanya dan aku percaya suatu hari nanti dia akan paham arti sebuah perpisahan.


Aku dan Lala sama-sama wanita rapuh yang di tinggal kekasih tercinta, bukan karena kematian tetapi kemauannya sendiri. Lala, putri kecilku masih sangat butuh figure seorang ayah. Sementara aku wanita dewasa yang juga masih muda, masih membutuhkan sosok suami untuk mengayomi kehidupanku. Namun, apalah daya aku tak mampu mewujudkan impian sederhana itu untuk bersama hingga menua nanti.


Aku berusaha melengkapi Lala. Menjadi ibu, ayah dan saudara untuknya. Kadang jika dia belajar aku harus menjadi guru. Saat dia bermain aku harus menjadi teman. Aku menjadi segalanya untuk putri kecilku itu. Aku tak mau dia merasa kehilangan sosok ayahnya lalu lambat untuk tumbuh menjadi dewasa.


Aku tak melarang Mas Gevan bertemu putri kami. Walau bagaimanapun Lala adalah darah dagingnya sendiri. Namun, entah kenapa ada ketakutan tersendiri di dalam dada. Aku takut Mas Gevan akan merebut Lala dariku. Tak bisa kubayangkan kehidupanku tanpa Lala, pasti semua perasaan menyakitkan itu akan menyiksa dada.


"Hei, kenapa melamun?" Kak Naro menepuk pundakku.


"Kakak." Aku merenggut kesal.


Setelah berpisah dari Mas Gevan, aku tinggal bersama Kak Naro dan Mas Angga. Semua karena permintaan Kak Naro yang ingin aku menemaninya juga di sini.


"Tidak usah di pikirkan lagi. Di luar sana masih banyak laki-laki yang mau jadi suami kamu." Kak Naro merangkul bahuku.


Aku dan Kak Naro adalah kakak beradik yang sama-sama patah hati. Jika Kak Naro berpisah karena kematian. Maka aku berpisah karena pengkhianatan. Walau perpisahan itu tersaji dalam bentuk berbeda. Rasa sakitnya tetap saja sama.


"Tata tidak yakin bisa jatuh cinta lagi, Kak," sahutku tersenyum kecut sembari melihat Tata yang bermain kejar-kejaran bersama si kembar tiga.


"Pasti bisa kalau berusaha membuka hati," ucap Kak Naro menyakinkan aku.


"Kakak saja masih betah sendiri padahal sudah lama menduda. Apalagi aku yang baru beberapa hari," celetukku.


Kak Naro terkekeh pelan mendengar ucapanku. Bukankah yang aku katakan memang benar bahwa dia memang betah dalam kesendirian, padahal usianya masih muda dan cukup membangun rumah tangga.


"Kakak sudah tidak memikirkan itu lagi. Kakak memutuskan untuk hidup sendiri sampai akhir usia. Membahagiakan si kembar itulah impian Kakak."


Tak kusangka perubahan pada diri Kak Naro luar biasa setelah dia tahu kebenarannya. Dulu dia membenci Ariana karena dirinya harus bertanggungjawab atas kesalahan yang sama sekali tidak dia lakukan. Sekarang, dia begitu bahagia merawat anak-anak yang bukan darah dagingnya. Perubahan Kak Naro juga luar biasa. Aku kadang berpikir apa ini kakakku yang ku kenal sangat dingin?

__ADS_1


"Eh Kak, Tata lupa. Tentang Kak Sherly," ucapku.


Sontak saja wajah Kak Naro langsung berubah. Sebenarnya aku tidak tahu, apa yang membuat mereka berdua putus karena kakakku yang satu ini selalu tertutup jika masalah hubungan asmara.


"Kenapa dia?" tanya Kak Naro dingin.


Aku bisa menangkap ada sebuah kekecewaan dari tatapan mata kakakku. Apa sebenarnya dia memang menyimpan sesuatu sebelum putus dengan Kak Sherly?


"Kak, apa yang membuat Kakak putus dengan Kak Sherly?" tanyaku.


Kak Naro menghembuskan napasnya kasar. Dia sedikit bersandar di bangku taman untuk menopang tubuh kekarnya. Walau usia Kak Naro tidak muda lagi tetapi dia duda tampan yang membuat kaum hawa ketar-ketir ketika melihat dadanya. Andai seperti drama China, aku pasti akan mencarikan gadis muda untuk menjadi istri kakakku ini. Tetapi masalahnya dia seperti alergi pada wanita.


"Dia selingkuh dan selama ini hanya memanfaatkan Kakak," jawab Kak Naro dengan wajah datar dan dingin yang sulit kutebak.


"Selingkuh?" ulangku.


Kak Naro membalas dengan anggukan. Lalu tersenyum kecut setelahnya.


"Mungkin ini hukum karma karena dulu Kakak menyakiti Arin," sambungnya. "Arin pergi itu karena kebodohan Kakak." Dia meletakkan tangan di atas dada sambil meresapi rasa sakit yang mungkin saja menelusup masuk ke dalam sana.


Aku bersandar di bahu kakakku yang tampan ini. Ingin rasanya kembali ke masa kecil agar tak merasakan semua perasaan yang tak seharusnya ada. Menjadi dewasa itu sakit. Menjadi dewasa itu tidak mudah.


"Tapi ini memang salah Kakak."


*


*


"Iya sudah. Lala sekolah yang benar ya, Nak. Nanti Mama jemput." Aku mendaratkan kecupan singkat di kening putri kecilku.


"Iya, Ma." Lala membalas dengan mencium pipiku. "Lala sayang Mama banyak-banyak." Lalu dia memberikan pelukan hangat di tubuhku.

__ADS_1


Aku terkekeh pelan sambil membalas pelukan Lala. Aku juga menyayangi anakku dengan sepenuh hati jiwa dan perasaan. Ah, rasanya aku ingin Lala cepat besar agar bisa menjadi teman ceritaku.


"Mama juga sayang banyak-banyak sama, Lala," balasku.


Lala melepaskan pelukanku. Kami berdua sekarang sedang patah hati. Namun, kami berdua berjanji untuk tidak menangis.


"Mama jangan menangis lagi ya. Nanti Lala juga nangis." Aku tak tahu jika selama ini putri kecilku ini selalu memperhatikan air mata yang jatuh di pipiku.


Aku melambaikan tangan ketika Lala masuk ke dalam gerbang sekolah. Aku sengaja memilih sekolah yang elit dan mahal. Agar Lala bisa mendapatkan pendidikan yang sepadan.


"Tata."


Seketika tubuhku menegang ketika mendengar suara familiar yang sudah menanamkan luka di hatiku dan Lala.


Aku membalikan badan dan melihat Mas Gevan yang berdiri di belakangku dengan tatapan sendunya.


"Ada apa, Mas?" tanya dingin dan menatapnya jijik.


"Mas kangen sama kamu, Ta!" akunya.


Jika boleh jujur aku juga merindukan mantan suamiku ini. Apalagi cinta yang masih menggebu di dalam dada. Membuat aku merasa bahwa perasaan makin dalam. Namun, sekali lagi aku tidak akan dengan mudah di perdaya oleh perasaan semu. Aku akan melawannya dan takkan membiarkan diriku kalah.


"Aku tidak pernah merindukan Mas lagi. Tolong, Mas. Jangan ganggu aku dan Lala lagi. Biarkan kami hidup tenang. Urus saja keluarga baru Mas," jawabku dingin.


"Tata, Mas_"


"Aku buru-buru, Mas. Sekali aku ingatkan jangan ganggu aku. Aku tidak pernah memberikan kesempatan yang sama, sama Mas. Aku sudah tidak mencintai Mas lagi."


Setelah berkata aku masuk ke dalam mobil. Kupikir melupakan Mas Gevan semudah yang aku katakan. Namun, nyatanya semua hal tersebut tak mudah. Aku masih saja di kejar oleh bayangnya.


Kujalankan mobil tanpa peduli pada Mas Gevan yang mengetuk pintu mobil dan memaksa berbicara denganku.

__ADS_1


"Sampah yang sudah kubuang tidak mungkin aku ambil kembali."


Bersambung...


__ADS_2