
Mobil Mas Bintang memasuki pekarangan rumah mewah Ayah Langit. Sekarang aku paham kenapa penampilan Mas Bintang berantakan seperti tak terurus karena keluarganya memang sedang tak baik-baik saja. Mungkin ini yang di kunjungi Daddy dan Mama semalam.
Shaka juga turun dari motor. Dia keukeh ingin menemani aku menjengguk Bee, katanya takut jika Mas Bintang mencoba menculikku dan membawa aku pergi.
"Ayo," ajak Mas Bintang.
Kami bertiga masuk ke dalam rumah mewah tersebut. Suasana yang biasanya ramai dan tenang sekarang benar-benar sepi. Para pelayan sibuk mengerjakan tugas mereka masing-masing.
"Bunda ke mana, Mas?" tanyaku.
"Bunda menemani Ayah di rumah sakit," jawab Mas Bintang.
Kamu masuk ke dalam kamar Bee. Tampak wanita itu meringguk di atas ranjang dengan rambut acak-acakan seperti kuntilanak. Perutnya setengah sudah terlihat membesar. Sebenarnya apa yang terjadi pada wanita ini? Apa Ayah Langit dan Mas Bintang memarahinya dengan berat sehingga dia tampak seperti orang yang frustasi.
"Semua ini hukum karma, Ra. Aku tak hanya patah kehilanganmu tetapi keluargaku juga hancur," ucap Mas Bintang dengan nada penuh rasa bersalah.
Semua hanya perkara akan penerimaan. Berbulan uang sedih telah kusudahi. Langkah-langkah yang sempat terhenti. Tangis yang pecah berhari-hari. Semua keadaan yang tak dapat kupercaya akhirnya terjadi. Dari semua yang berlalu dan kini di sebut masa lalu. Aku mencoba menjadikan pelajaran untuk hdiup yang tak akan berhenti sebab patah hati.
"Jangan bicara begitu, Mas," sanggahku mengusap bahunya.
"Terima kasih, Ra." Dia seka air matanya yang jatuh.
Aku tak pernah mendoakan agar Tuhan membalas semua kejahatan dan pengkhianatan Mas Bintang. Tetapi justru ini yang mereka alami. Ini bukan hukum karma tetapi keadaan agar dia menerima kenyataan.
Aku berjalan menghampiri ranjang Bee. Tatapan wanita ini kosong dengan mata bengkak karena menangis. Harusnya Ibu hamil tidak boleh terlalu banyak berpikir. Apalagi usia kandungannya masih muda.
"Bee," panggilku pelan.
Wanita itu terdiam sejenak sebelum akhirnya menoleh kearahku. Air matanya kembali luruh ketika menatapku. Sesungguhnya wanita ini terluka. Dia hanya perlu menemukan orang yang memahami kondisi dan keadaannya.
"Bee, ini Kakak. Kak Nara," ucapku tersenyum. Barangkali dia sudah lupa padaku karena kami lama tak bertemu.
__ADS_1
"Kak Nara," ucapnya pelan.
Aku mengangguk sembari tersenyum hangat lalu mengusap lengannya yang terasa lengket. Sepertinya wanita ini selain tak mandi dia juga jarang makan.
"Kakak."
Bee berhambur memelukku sambil menangis. Pelukannya sangat erat hingga membuatku hampir susah bernafas.
"Kakak hiks hiks hiks."
Tangis Bee pecah dengan pelukan yang kian erat. Aku tahu jika dia benar-benar terluka parah. Tak hanya hatinya tetapi juga jiwa dan raganya.
"Kakak, tolong Bee. Bee tidak mau anak ini ada dalam perut, Bee. Tolong Bee, Kak," renggeknya menangis sekeras mungkin.
Aku mengusap bahunya dan berusaha menyalurkan kekuatan melalui usapan tanganku. Jujur saja aku pun hancur melihat dirinya yang seperti ini. Wajah ceria yang selalu dia tampilkan kini hanya tersisa kerapuhan.
"Bee benci ayah dari anak ini. Bee tidak mau hamil, Kak. Bee tidak mau."
.
.
Aku mengusap lengan Bee yang sudah lebih tenang. Setelah dia menangis sepuasnya aku membantu dia makan dan mandi. Wanita ini tidak bisa di kasari apalagi di tuntun karena kesalahannya. Bee keukeh membunuh bayi tak berdosa dalam kandungannya karena belum terima jika dirinya hamil di luar nikah.
"Saat Bee hamil, Ayah terpukul dan memarahi Bee. Setelah itu Ayah mengalami serangan jantung. Sedangkan Bee depresi dan berusaha mengugurkan bayi dalam kandungannya," jelas Mas Bintang.
"Lalu, apa Dokter Ikmal akan bertanggungjawab?" tanyaku.
Mas Bintang menggeleng, "Kalaupun dia mau. Aku tidak akan mau adikku di madu, kecuali dia rela meninggalkan Mona demi Bee," sahut Mas Bintang lagi.
Aku menghela nafas panjang. Kasihan sekali melihat kondisi Bee yang hancur seperti ini. Siapa yang takkan terpukul karena hamil di luar pernikahan.
__ADS_1
"Ra," panggil Mas Bintang.
"Iya, Mas?" Aku mencoba tersenyum menutupi luka yang masih basah di dalam sana.
"Sekali lagi aku minta maaf. Sekarang aku sudah merasakan ada di posisi kamu. Aku berharap kamu bahagia ya, Ra. Walau tidak sama aku. Setelah Ayah pulih dan Bee melahirkan. Mungkin kami akan pindah ke Singkawang ikut Om Fajar," jelas Mas Bintang.
"Mas...."
Kenapa aku tidak rela jika Mas Bintang pergi jauh dan meninggalkan kota. Walau Singkawang dan Pontianak tidak jauh tetapi tetap saja aku merasakan ada sesuatu yang hilang jika memang pergi jauh.
"Maafkan semua kesalahanku, Ra. Kamu wanita baik dan kamu berhak bahagia dengan jalan yang kamu pilih sendiri. Sementara aku, aku telah menerima kar_"
"Stop, Mas! Jangan sebut karma. Semua yang terjadi biarlah berlalu," potongku.
Dia mengangguk dan menatap wajahku. Masih kulihat jika ada cinta di dalam bola matanya. Penyesalannya telah membawanya menyalahkan karma.
"Aku tidak tahu, jika kamu kehilangan sosok seorang ayah sudah lama," ucapnya lagi. "Ra, andai aku menyadari perasaanku sejak awal aku pasti menyakiti kamu. Tetapi aku menyadarinya setelah pengkhianatan Mona dan aku tahu hal itu buat kamu merasa bahwa aku telah menjadikan kamu pelampiasan. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, Ra. Aku tidak pernah menjadikan kamu pelampiasan dari rasa sakitku. Aku mencintai kamu tulus." Dia mengusap sudut matanya.
"Semoga Rimba menjadi sosok yang bisa menjaga dan melindungi kamu, Ra. Semoga dia bisa mewujudkan impian kamu." Air mata yang tadi dia seka jatuh membasahi pipinya.
Kini semua telah berbeda dari hal yang pernah kami sebut sebagai rencana. Mas Bintang telah memilih jalannya sendiri, sementara aku juga harus bertahan dengan hidup yang kulalui. Apakah akan kubiarkan dia menjauh? Sedangkan hati ini masih belum bisa berpaling, walau ada orang yang dengan terang-terangan mengatakan ingin menjagaku lebih dari dia?
Aku belajar pada kenyataan yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Aku mencari cara untuk memahami apa yang terjadi. Dia memang tak pernah sepenuh hati.
Hidup adalah perkara merelakan. Pernah aku bertahan sekuat-kuatnya. Tak ingin dia pergi begitu saja. Kupikir dia milikku, nyatanya tak ada satu hal pun yang benar-benar milikku perihal dirinya.
"Nara." Dia mengenggam tanganku. "Jika boleh jujur, aku sangat dan sangat mencintai kamu. Aku menyesal. Aku menyesal, Ra. Aku menyesal telah menyia-nyiakan perempuan sebaik kamu. Aku selalu berharap dan merayu Tuhan, untuk memberikan satu kesempatan agar kita kembali bersama. Tetapi aku sadar, bahwa aku tidaklah pantas untuk wanita seperti kamu. Kamu terlalu baik."
Aku menatap bola matanya dengan lekat. Andai juga Mas Bintang tahu bahwa aku masih mencintainya. Namun, aku sadar bukankah sesuatu yang sudah di lepas takkan mungkin kembali lagi.
"Aku mencintai kamu, Nara. Aku ikhlas melepaskan kepergianmu. Bahagialah bersama Rimba. Maaf jika aku menganggumu selama ini."
__ADS_1
Bersambung...