
SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........
CEKIDOT......
👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇
Ku berjalan tanpa tujuan, entah kemana kapal ku akan berlayar. Terlalu banyak ombak menerjang yang hampir membuatnya karam. Aku tak mampu mengemudikan kapal ini, aku tak ingin tenggelam dan mati sia-sia. Biarlah berada ditengah lautan walau tak tahu entah kemana pulau yang kutuju.
Aku bangun pagi sekali, menyiapkan sarapan untuk anak-anak dan mengurus perlengkapan sekolah Naro. Sementara Nara belum bisa melakukan aktivitas seperti biasa, kondisi nya belum mampu untuk ke sekolah hari ini.
"Mama, Naro mau nasi goreng," pinta Naro menyedorkan piringnya.
"Iya Son." Senyum ku mengambilkan nasi goreng untuk Naro.
Ayah dan Ibu yang akan menjaga Nara di rumah serta mengurus makanan dan obat-obatan Nara. Sebenarnya aku tak enak melibatkan orang tua dalam urusan anakku, tetapi tak ada jalan lain lagi. Aku tak bisa mengurus Nara 24 jam karena aku harus bekerja dan menghidupi keluarga kecilku ini.
"Mama, kapan Nara bisa masuk sekolah?" tanya Nara sendu.
"Sabar ya, Sayang. Kalau kondisi Nara sudah pulih, Nara boleh masuk sekolah seperti biasa," jelasku sambil tersenyum.
"Iya Ma, Nara janji akan sembuh," jawabnya tersenyum sumringah.
Perasaan anak kecil memang terkadang sulit di mengerti. Semalam Nara menangis histeris hingga tertidur karena rindu Papa-nya. Namun, lihatlah pagi ini dia tampak ceria seperti tak terjadi apa-apa.
Namun, aku bersyukur karena Nara tidak larut dalam kesedihan. Meski aku yakin ketika rasa rindu itu menyerang, dia akan kembali merenggek meminta agar dipertemukan dengan Papa-nya.
"Naro, nanti Kakak pinjam buku mu ya. Kakak mau belajar," pinta Nara.
"Lho, buku Kakak 'kan banyak? Kenapa harus minta buku Naro?" tanya Naro heran, dia mendelik kearah kakaknya.
__ADS_1
"Ck, Kakak bosan belajar pelajaran kelas 5. Kakak mau mempelajari pelajaran kelas 3 lagi," jawab Nara cenggesan.
Aku terkekeh pelan, ada-ada saja Nara ini. Dia suka membuat adiknya kesal. Apalagi sifat Naro yang dingin dan selalu serius, sulit sekali di ajak bercanda.
"Dih," sahut Naro memutar bola matanya malas.
Ayah terkekeh pelan. Ayah seperti nya sangat menyayangi Nara dan Naro, dia bahkan rela tinggal bersama ku di gubuk derita ini. Aku juga meminta agar Ayah dan Ibu menatap di Pontianak saja, walau usaha Ayah banyak dikampung tetapi ada saudara nya yang mengurus.
"Lanjutkan makan dulu," ucap Ayah.
"Bagaimana pekerjaan kamu Ra?" tanya Ibu.
Aku selalu salut dengan sifat Ibu yang lemah lembut dan peduli padaku. Dia tahu di mana titik terendah dalam hidupku. Walau tak ada darah Ibu yang mengalir ditubuh ku tetapi aku merasa kami sangat dekat layaknya ibu dan anak kandung.
"Lancar, Bu. Tapi Ara sudah lama tidak masuk," jawab ku.
"Sudah meminta surat izin?" tanya Ayah.
Setelah sarapan aku dan Naro berpamitan untuk berangkat ke kantor. Arah kantor dan sekolah Naro tidak jauh, hanya berbeda beberapa kilometer saja.
Saat kami keluar dari pagar rumah, kulihat mobil Pak Dante baru saja datang dan terparkir didepan rumah. Dia turun dari mobil dengan senyum sumringah nya.
"Pagi Son," sapa Pak Dante.
"Om Baik!" seru Naro.
Naro berhambur kearah Pak Dante, lah naik ke dalam gendongan boss ku tersebut. Aku memaksakan senyum. Sebenarnya aku belum siap masuk bekerja hari ini. Rasanya tubuh ku masih lelah, tetapi aku tidak mungkin meratap salam kesedihan berkepanjangan. Seseorang akan ada yang pergi dan datang dalam hidup ini. Aku tak bisa menahan siapapun yang ingin menghilang, karena mungkin aku juga akan hilang jika waktu nya tiba.
"Apa kabar Son?" tanya Pak Dante mengangkat tubuh Naro.
__ADS_1
"Sehat Om Baik. Om Baik apa kabar juga?" tanya Naro melingkarkan tangan munggil nya dileher Pak Dante.
"Om Baik juga sehat, Son. Ayo kita berangkat, nanti kamu terlambat," ajak nya.
Aku menghela nafas panjang. Entah apa maksud Pak Dante, pagi-pagi sudah menjemput. Jujur saja aku merasa tidak nyaman. Apalagi para tentangga disini tahu bahwa aku baru saja kehilangan mantan suamiku. Bisa saja mereka berpikiran bahwa aku menggoda boss ku sendiri.
Aku ikut masuk kedalam mobil. Aku tak banyak bicara. Seperti nya aku perlu berbicara empat mata dengan Pak Dante, agar menjaga batasan terhadap kami. Aku ingin hidup tenang, aku tak mau ada fitnah diantara kami. Sudah cukup selama ini aku di teror oleh kegilaan Chelsea. Aku tidak mau jika orang terdekat Pak Dante melakukan hal yang sama.
"Om Baik, Tata mana Om? Kenapa tidak diajak?" tanya Naro.
Naro seperti nya menyukai Tata, mereka sering bermain ketika Pak Dante mengajak anaknya kerumah sakit menjengguk Nara. Padahal Naro, ini tipe anak yang sulit akrab dengan orang lain. Tetapi saat bersama Pak Dante dan Tata dia seperti menunjukkan sifat aslinya. Sedangkan pada Divta, Naro mulai menjaga jarak setelah diancam oleh Chelsea. Pikirannya yang sudah dewasa langsung paham apa yang di maksud oleh mantan istri Divta tersebut.
"Tata juga sekolah, Son. Nanti kapan-kapan Om Baik, ajak kalian jalan. Bagaimana?" tawar Pak Dante.
"Wah boleh Om. Tapi tunggu Kak Nara sembuh," jawab Naro langsung sendu. Nara dan Naro memang jarang terpisah, walau mereka berdua sering berdebat seperti saudara pada umumnya. Tetapi mereka berdua saling menyanyangi.
"Kenapa harus menunggu Kak Nara sembuh?" tanya Pak Dante melirik Naro. Sementara aku hanya diam saja dan menyimak percakapan mereka.
"Kak Nara suka jalan-jalan Om Baik. Dulu waktu masih ada Papa, kami sering liburan ke pantai setiap akhir pekan," jelas Naro.
Pak Dante tampak terdiam. Sementara aku tak berkata apa-apa. Sebelum Mas Galvin mengkhianati kepercayaan ku, kami memang selalu mengajak anak-anak berlibur ke Singkawang setiap akhir pekan. Jarak Pontianak dan Singkawang hanya 4 jam dan terkadang kami menginap dihotel untuk menghibur anak-anak.
Dulu Mas Galvin memang memperlakukan kami seperti harta paling berharga dalam hidupnya. Bahkan sejak kami menikah dia sama sekali tidak pernah menyakiti ku secara fisik, dia selalu bisa meredakan emosinya saat kami bertengkar. Didalam sebuah keluarga tidak seratus persen akan damai. Tetapi dulu aku bersyukur, sehebat apapun kami bertengkar baik masalah anak-anak atau keuangan.
"Sudah jangan sedih. Nanti tunggu Kak Nara sembuh, Om Baik akan ajak kalian jalan-jalan di kebun binatang. Mau?" ucap Pak Dante menawarkan.
"Mau Om Baik!" seru Naro.
Aku memaksakan senyum. Semua kenangan tentang Mas Galvin seperti terekam kembali di kepalaku. Tetapi aku berusaha untuk kuat agar tak bersedih terlalu lama. Apalagi tuduhan keegoisan itu masih saja disematkan padaku oleh keluarga mantan suami. Aku mencoba tak peduli, jika memang menurut mereka aku begitu. Aku bisa apa, selain menerima tuduhan tersebut dengan menguatkan hati.
__ADS_1
Bersambung......